Ratu Malam

Ratu Malam
Part 15 - Menjadi bahan tertawaan


__ADS_3

Melisa dan Dokter Mario kembali bekerja di pusat kesehatan masyarakat.


Melisa kembali bekerja sebagai perawat di sana. Dia melayani pasien dengan tugas mencatat keluhan, usia pasien, jenis kelamin serta awal mula merasakan gejala sakit.


Melisa memberikan nomor antrian kepada para pasien untuk mengantri di periksa oleh dokter Mario. pasien dibagi menjadi beberapa katagori. Katagori pertama pembayaran umum. katagori kedua tanggungan pemerintah atau Askes. katagori ketiga adalah lansia, yang akan diberikan pelayanan khusus karena usia dan kondisi mereka yang harus lebih di berikan penanganan segera.


"Melisa, nanti sebaiknya kamu panggil dulu dua urutan lansia, baru ke umum setelahnya ke Askes." Perintah Lisa.


"Okeh, aku mengerti." Melisa mengacungkan jari jempolnya.


Melisa bekerja dengan sangat bersemangat hari ini. Cuaca yang cerah juga memberikan dampak positif bagi mereka yang sudah mulai bekerja.


Melisa merasa cocok bekerja sebagai perawat di pusat kesehatan masyarakat. Dia merasa tugas sebagai perawat sangatlah mudah. Hanya mencatat dan memanggil nomor urut pasien.

__ADS_1


"Mel, jangan bengong panggil cepat pasiennya. nanti kita kena komplain pasien dan keluarganya." tegur dokter Mario


Melisa langsung fokus kepada pekerjaannya. Dia memanggil nomor urut pasien sesuai dengan arahan Lisa.


Antrian pasien sangat tertib. Mereka sepertinya terbiasa hidup disiplin meski mereka adalah orang desa.


Melisa juga merasa kalau orang desa ini meski sudah lanjut usia, tapi tetap masih bisa menggarap sawah mereka atau orang lain. Bekerja di sawah bukan sesuatu hal yang mudah. Banyak pekerjaannya dan juga sangat berat.


Melisa sangat kagum dengan mereka yang masih memiliki postur tubuh bagus dan juga segar bugar. Dia sering melihat beberapa tetangganya mendorong-dorong kursi roda yang di atasnya duduk wanita atau pria dengan usia belum mencapai kepala enam sudah harus menjadi pelanggan kursi roda. Diantara mereka ada yang terkena struk, diabetes melitus, jantung, hipertensi. sehingga tubuhnya marus di topang oleh benda lain.


"Hei, kenapa kamu kok jadi bengong begitu liatin pasien?" tanya Dokter Mario yang terus memperhatikan Melisa.


mungkin dia jatuh hati kepada Kakek Samon, apak dokter." beberapa anak kecil yang turut memperhatikan Melisa menyeletuk dan menertawakannya.

__ADS_1


Mendengar celotehan sekelompok anak sekolah menengah pertama itu. Dokter Mario ikut tertawa geli.


"Iiiish, apaan sih. orang lagi mikirin gimana enaknya jadi perawat. ini malah dianggap yang bukan-bukan." Melisa merajuk dan dia meninggalkan bangkunya menuju toilet.


di dalam toilet Melisa mengutarakan seluruh kekesalannya kepada dokter Mario dan juga bocah SMP itu.


"enak ajah ngeledekin orang. ya kali aku jatuh hati sama kakek-kakek. sama kakek aku ajah masih ganteng kakek aku." Melisa mengepal kedua tangannya.


Selesai meluapkan kekesalannya, Melisa kembali ke bangkunya dan mereka sudah mulai reda dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya yang bisa menyinggung hati.


Melisa duduk kembali di kursinya dan melanjutkan pekerjaannya. Dokter Mario yang melihat tingkah Melisa. Membuat dirinya terkekeh kecil dan memakluminya.


Dokter Mario tahu betul bagaimana sikap Melisa ketika sedang merajuk. Dari pada di ganggu. lebih baik di biarkan saja. Karena Melisa jarang marah lama-lama.

__ADS_1


__ADS_2