
Melisa semakin kesal sebab Orlando terus membuntutinya kemanapun dia pergi. Melisa juga merasa kalau Orlando sangat konyol sekali. dia sudah mengkhianati, tapi ingin kembali.
"dengar Orlando. pergi dari sini. jangan terus ikuti aku!" teriak Melisa dengan sangat frustasi.
"Orlando? kamu mengenal dia?" tanya seseorang kepadanya.
mendengar yang menyahut perkataannya suaranya berbeda. Melisa langsung menoleh. ternyata dokter Mario yang sejak tadi mengikutinya.
"dokter? bagaimana bisa dokter ada di sini?" tanyanya dengan wajah penuh dengan tanda tanya.
"aku tadi melihatmu berjalan ke arah lain dan aku takut kamu tersesat. jadi aku ikut denganmu. kamu belum menjawab pertanyaanku. kamu kenal dengan Orlando?" tanya dokter Mario.
"ya, aku mengenalnya. dia dulu kekasih ku. tepatnya mantan kekasih," jawab Melisa.
"ooh." dokter Mario membulatkan bibirnya m membentuk huruf O.
"Mereka semua sudah pulang. begitu juga dengan Orlando." seru dokter Mario.
Melisa kini bisa bernafas lega. ternyata Orlando sudah tidak berada di desa ini. dia sangat tidak ingin melihat wajah pria yang sudah menorehkan luka dihatinya.
__ADS_1
"lebih baik kita pulang. hari sudah mulai gelap. banyak binatang buas yang berkeliaran."
Melisa langsung terperanjat dan melompat tepat di depan dokter Mario berdiri. dokter Mario tertawa kecil. dia menertawakan Melisa yang sedang ketakutan akibat perkataannya tadi.
"tenang saja. di sini tidak ada makhluk buas sungguhan. adanya jadi-jadian." celetuk dokter Mario lagi.
"maksudnya?" tanya Melisa dengan wajah bingungnya.
"manusia yang memiliki sifat hewani. mengerti?" tanya dokter Mario.
Melisa kini mengerti. kata itu dia pakai sebagai bahasa kiasan yang maksudnya adalah orang jahat.
"kenapa tertawa? apa ada yang lucu?" tanya Melisa.
"tidak ada. hanya saja aku teringat saat kamu keluar malam dan tiba-tiba meminjam uang kepadaku. ternyata semua itu adalah takdir. kalau bukan karena hal itu, mungkin aku dan kamu tidak akan pernah bekerja di tempat yang sama." Mario menoleh dan tersenyum.
Melisa ikut tersenyum, sebab dia juga bersyukur dengan takdir itu. dia bisa tahu rasanya menolong orang seperti apa dan dia bisa tahu cara melakukan pertolongan pertama kepada orang lain. ilmu yang sangat berguna dan tidak semua orang bisa mendapatkan pengalaman seperti ini.
"jika waktu bisa di ulang. aku akan tetap melakukannya, agar bisa berguna untuk orang lain." Melisa ikut mengembangkan senyumannya.
__ADS_1
dokter Mario semakin terpesona dengan kecantikan wajah wanita yang sudah dia sukai sejak lama.
"Melisa, apa kamu dulu saat di bangku sekolah menengah atas tada pengalaman yang berkesan?" tanya dokter Mario tiba-tiba.
"pengalaman yang berkesan?" tanya Melisa.
"Hem. misalnya pernah membantu seseorang atau pernah sakit dan tiba-tiba di tolong seseorang. ya semacamnya lah."
dokter Mario sepertinya sangat ingin mengorek tentang kehidupan Melisa di masa sekolah.
"sepertinya tidak ada. memang kenapa?" tanya Melisa balik.
"ya, aku hanya bertanya saja. kalau aku ada cerita menarik yang membuatku sekarang bisa menjadi dokter." cerita dokter Mario
"oh ya? seperti apa? coba ceritakan kepadaku." Melisa menjadi penasaran.
"dulu, saat ada lomba olahraga. tiba-tiba teman sekelas ku terkena bola di bagian dadanya. saat itu dia menjadi tidak sadarkan diri. aku sangat khawatir, lalu seseorang dari klinik datang membantunya. sejak saat itu aku berpikir bagaimana caranya aku bisa menjadi seorang dokter. aku tidak mau melihat wanita yang aku sayang merasakan kesakitan dan menunggu dokter terlalu lama." cerita dokter Mario.
"tunggu, dulu aku juga pernah mengalami hal itu, tapi mungkin hanya sekedar sama. karena tidak mungkin'kan kita bersekolah di tempat yang sama?!" tanya Melisa
__ADS_1