
Melisa merasa dirinya telah dikhianati oleh kekasihnya sendiri. dia tidak menyangka kalau Orlando akan setega itu kepada dirinya.
"sejak kapan kamu menghianati hubungan kita ini Orlando?" Melisa menatap dirinya sendiri di cermin sambil berbicara.
"Aku tidak akan pernah membiarkan penghianatan di dalam setiap hubungan. Aku tidak akan pernah menerima dirimu lagi yang telah berkhianat kepadaku."
Melisa melihat ponselnya dan beberapa kali Orlando berusaha menghubunginya dan mengirimnya pesan.
Melisa yang sudah sangat dipenuhi dengan rasa marah di dalam hatinya. ditambah lagi Orlando yang selalu menghubunginya setiap kali tidak diangkat oleh Melisa. pada akhirnya Melisa mematikan ponselnya.
"Jangan pernah berharap untuk Bisa bicara denganku lagi Orlando. Aku tidak akan pernah menerima lagi seorang penghianat."
Melisa membuang ponselnya ke sembarang arah. dia lalu keluar dari kamarnya dan karena dia kesal dia mencari udara segar di sekitar rumah Yangkungnya.
"karena ini desa dan tidak ada namanya diskotik atau klub malam. aku putuskan untuk berjalan-jalan sejenak mengelilingi kampung untuk menghilangkan rasa kesal ku."
Melissa berjalan ke arah selatan yang melangkah sedikit demi sedikit menyusuri jalan.
dia melihat keseliling jalan yang ia tempuh. suasana sepi sini ditambah dengan angin sepoi-sepoi yang dingin membuat dirinya semakin merasa sendirian.
__ADS_1
"Kenapa di desa sangat sepi sekali padahal ini masih jam 07.00 malam."Melisa akhirnya menemukan sebuah warung makan dan dia berjalan ke arahnya.
"silakan masuk neng."seorang wanita paruh baya menyambutnya.
"ini warung makan atau apa Bu?" tanya Melisa.
"ini bisa disebut cafe neng. kalau kata orang kota." Wanita itu kemudian memperlihatkan sekeliling tempat itu kepada Melisa.
"Wah berarti di sini ada sesuatu yang aku cari nih." seru Melisa dalam hatinya.
"Maaf neng. apa mau pesan? atau tidak?" tanyanya lagi.
"Bu apa di sini ada sejenis Bir atau wine?" tanya Melisa.
Dengan wajah sumringah dia langsung memesan satu gelas dengan makanan ringan untuk pendamping minumannya.
Melisa tidak menyangka ternyata di tempat seperti ini ia masih bisa menemukan minuman yang dicari.
"tempat ini tidak terlalu buruk. rasanya pas untuk cafe di tengah pedesaan seperti ini."
__ADS_1
Melisa mengedarkan kembali pandangannya ke sekeliling penjuru cafe.
seorang pelayan yang merupakan gadis muda menghampirinya dan menyajikan minuman serta makanan yang dipesan oleh Melisa.
"permisi saya mau tanya. apa banyak anak muda yang datang ke cafe ini?" tanya Melisa.
"cukup ramai jika di hari Sabtu dan Minggu." jelas gadis muda itu.
Melisa mengangguk dan pelayan itu pergi untuk melayani pengunjung lainnya.
...****************...
Yangkung dan Yangti Melisa merasa kalau cucunya tidak kunjung datang ke meja makan. Yangtinya lalu langsung menuju kamar Melisa lagi. dia tidak menemukan cucunya berada di sana. Yangti Jamila langsung berlari ke meja makan dan menghampiri pria yang selama ini menemani hidupnya.
"Bu, ada apa sih? kok wajahnya panik begitu?" tanya suaminya.
"Pak, Melisa." katanya dengan nada panik dan hampir tak bisa mengungkapkan apa yang dia ingin ucapkan.
"kenapa Melisa Bu?" tanyanya.
__ADS_1
"Melisa tidak ada di kamarnya. ibu juga sudah mencarinya dia tidak ada di rumah ini." Yangti Jamilah semakin panik.
"Kemana anak nakal itu? bisa-bisanya dia kabur dari rumah ini. Ayo kita cari dia Bu."