
Melisa merebahkan tubuhnya di atas kasur. dia sudah begitu lelah dan hatinya juga masih kesal saat di matanya terbayang kemarahan Lisa yang tidak terima kalau Melisa menjadi calon istri dokter Mario.
"hah, pasti wanita itu sangat mencintai Mario. dia bahkan dengan nyalaknya bicara kepadaku. di sepertinya tidak memandangku siapa. Aku kagum dia juga berani bicara kasar seperti itu kepadaku , selama ini orang hanya sibuk untuk memujiku agar mendapatkan kenyamanan dariku." Gumamnya sambil menatap langit-langit kamar.
Melisa memiringkan tubuhnya dan memejamkan matanya yang sudah terasa sangat berat.
...****************...
Lisa mencari tahu segalanya tentang hubungan Melisa dan juga mario. Lisa menghubungi beberapa orang yang mengenal dekat tentang keluarga Melisa.
"Oh neng, kalau tidak salah sih anak bupati itu adalah temannya neng Melisa. Dia itu baru saja pergi dari sini. kemungkinan dia tahu banyak tentang neng Melisa."
"Bapak tahu gak nomor teleponnya? bapak kan penjaga villanya." tanya Lisa.
"Ada neng, sebentar saya cari kontaknya dulu."
__ADS_1
Lisa langsung merekahkan senyumannya. dia berhasil menemukan orang yang tahu seperti apa Melisa. Lisa memiliki rencana untuk Mario dan juga Melisa.
Setelah mencatat nomor telepon Orlando. Lisa langsung berpamitan dengan penjaga villa. dia kembali ke rumahnya dengan perasaan yang sangat senang sekali.
Lisa masuk ke dalam rumahnya dan dia langsung memandang telepon genggamnya. Dia menekan tombol telepon dan menghubungi seseorang.
Lisa tampak menunggu orang yang dihubunginya mengangkat telepon. Sampai pada akhirnya terdengar suara pria menerima panggilannya.
Lisa berbincang dengan pria itu. Dia juga mendapatkan informasi yang dia butuhkan tentang Melisa. Dia tersenyum senang karena semuanya berjalan lancar. usahanya berkeliling kampung mencari tahu tentang melisa ternyata tidak sia-sia.
"Kamu lihat saja besok Melisa, akan aku pastikan kamu malu dan dokter Mario akan meninggalkanmu bahkan keluarga dokter Mario juga akan membencimu. Pasti kamu akan segera dicampakkan." Melisa tersenyum menyeringai.
Lisa benar-benar tidak rela jika dokter Mario bersama dengan Melisa. dirinya merasa dia yang sudah sangat loyal dan sangat perhatian kepada dokter Mario haruslah menjadi pendamping hidup pria tampan dengan sejuta pesona itu.
...****************...
__ADS_1
Jakarta dengan buruk pikuk kehidupannya. Orang-orang yang tinggal di sana saat ini sudah sibuk mengais rezeki untuk mendapatkan sesuap nasi.
Orlando yang tiba kemarin sore di Jakarta masih sibuk mengukir mimpinya dan masih asik terbaring di atas tempat tidur yang empuk miliknya.
"Orlando bangun!" teriak seorang wanita yang merupakan ibu dari Orlando.
Orlando masih sibuk untuk mengukir mimpi meskipun teriakan ibunya sudah menggema. Dia seakan tidak perduli.
"Orlando cepat bangun!" Sang ibu yang tadi hanya berteriak di dalam kamar, kini berada tepat di samping tempat tidur Orlando.
Orlando menggeliat lalu meluruskan tubuh. Dia membuka mata perlahan dan melihat ibunya.
"Mamih. Masih pagi banget nih, kok udah bangunin Ando sih?" Orlando mendengus kesal.
"Orlando cepat bangun, Papi kamu mau ada yang di bicarakan," tuturnya sambil menepuk-nepuk pipi putranya yang masih terus bermalas-malasan.
__ADS_1
"Tumben banget sih, papih mau ngomong sama aku sepagi ini?" tanya masih dengan mata sayup-sayup.
"Sudah jam sepuluh pagi ini Orlando. jika kamu tidak mau dapat hukuman dari Papih kamu. lebih baik sekarang juga bangun. kalau dia sampai marah, kamu tanggung sendiri akibatnya!" Ibu Orlando yang menyerah akan kelakuan anaknya, keluar dari kamar Orlando.