Ratu Malam

Ratu Malam
Part 36 - Mawar berduri


__ADS_3

Melisa begitu terkejut setiap kali dia berpapasan dengan orang. pasti tatapan mereka tidak biasa kepadanya. mereka yang berjalan dengan orang lain akan segera berbisik seakan membicarakan dirinya.


Melisa juga mendapatkan beberapa perkataan yang tidak enak dari beberapa pasien yang datang. Bahkan mereka tidak mau disentuh oleh Melisa dengan alasan mereka tidak suka dengan orang munafik.


Melisa menjadi semakin bingung. Kenapa bisa mereka berubah sikap terhadap dirinya. padahal Melisa selama ini selalu bersikap baik dan ramah.


"Jangan terlalu dipikirkan. Mereka mungkin hanya salah paham saja. aku akan bicara kepada mereka nanti." Dokter Mario menenangkan Melisa.


"Aku hanya tidak habis pikir saja. dalam semalam mereka bisa berubah pikirannya. Aku tidak mengerti kenapa mereka bergunjing tentangku?" tanya Melisa dengan tatapan sendu.


"Ini pasti ada sesuatu yang salah." Dokter Mario menyipitkan matanya.


"Apanya yang salah dokter? bukannya dia memang anak club malam yang suka mabuk-mabukan dan bergonta-ganti pasangan? aku harap jangan sampai pria baik-baik menjadi pasangannya." Lisa datang dengan perkataan menusuknya.


"apa maksudmu Lisa?" tanya dokter Mario.


"Dokter pasti tidak tahu'kan, kalau wanita ini adalah penghuni club malam. Sudah pasti dia mabuk dan disentuh banyak pria."


Plak


Melisa menampar keras pipi Lisa. dia tidak tahan dengan perkataan Lisa.

__ADS_1


"jangan asal bicara kamu ya! aku memang sering ke club malam. bisa dibilang setiap hari aku ke sana, tapi asal kamu tahu. aku bukan wanita yang bisa di sentuh sembarang pria! jaga mulutmu dan perhatikan setiap kata-kata yang keluar dari mulutmu itu. jangan sampai apa yang kamu tuturkan membuat orang tak bersalah mendapat masalah!" tegas Melisa.


"Lalu apa yang kamu lakukan di dalam club malam? menari memamerkan tubuhmu kepada penghuni club malam? Hem, kamu itu bukan perempuan baik-baik. jangan kamu pikir mentang-mentang kamu cucu dari sesepuh di sini. lantas warga akan tinggal diam saat mengetahui ada wanita tidak baik masuk ke area mereka?" Lisa mengelilingi tubuh Melisa.


Dia melangkah selangkah demi selangkah sambil menatap wajah Melisa saat mengelilingi tubuh Melisa yang mematung.


"Dengar Lisa, kamu salah paham kepadaku. aku ini bukan anak club malam seperti yang kamu tuduhkan. Setiap anak club yang ada disana tahu batasannya dan tidak akan pernah melakukan hal yang memalukan!" Melisa terus berusaha membela dirinya.


Dia bicara bukan hanya di hadapan Lisa dan dokter Mario saja. Dia juga bicara di depan beberapa pasien yang masih menunggu giliran dan sambil menyaksikan perseteruan antara Lisa dan Melisa.


"Lisa cukup! kita di sini untuk membantu mengobati pasien. bukan mengurusi urusan pribadi orang lain. mau dia pernah berbuat buruk dimasa lalu. itu adalah urusannya. Jika saat ini dia bisa membantu kita di puskesmas dengan baik. seharusnya kita tidak memandangnya sebelah mata." Tindak dokter Mario.


beberapa pengunjung atau pasien puskesmas mendengar keributan diantara mereka bertiga. sebagian merasa perkataan dokter Mario benar. masa lalu tidak perlu di hiraukan jika memang dia tulus membantu dan mau bekerja sosial.


"tidak penting aku tahu dari mana. yang penting adalah kamu bukan wanita baik-baik." tegasnya lagi.


terlihat sorot mata penuh marah dari mata Lisa. Dokter Mario bisa merasakan hal itu. namun, dia bingung mengapa Lisa bisa semarah itu kepada Melisa padahal mereka baru saja bertemu beberapa Minggu ini.


"Dokter Mario, aku dengar dokter akan menikah dengan wanita ini. aku sarankan untuk tidak melanjutkan niatmu itu. dia bukan wanita baik-baik. masih ada wanita yang jauh lebih baik dan selalu memperhatikanmu." Tutur Lisa.


"apa maksudmu Lisa?" tanya dokter Mario.

__ADS_1


"Dokter aku melakukan semua ini agar kamu tidak salah memilih pasangan. aku tidak mau kamu menikah dengannya."


"jadi apa kamu yang menyebarkan berita tentang Melisa?"


seseorang datang menerobos kerumunan pasien.


"Kakek, Yangkung."


Melisa dan Mario saling menyapa. mereka berdua terkejut kedua sesepuh itu kini berada di tempat yang sama dengan mereka.


"Lisa, saya dengar kamu kemarin bertemu dengan salah satu penjaga villa dan menghubungi Orlando. saya tidak menyangka ternyata kamu melakukan itu hanya untuk memfitnah cucu saya." Yangkung Brahma kini turut bicara.


"Saya tidak berbohong atau memfitnah, semua ini benar adanya. Orlando sendiri yang bilang kalau dia anak club malam dan suka mabuk berat." Lisa tetap bersikeras menjatuhkan harga diri Melisa.


"Lisa, aku memang bicara begitu, tapi aku tidak pernah bicara kalau Melisa menjajakan tubuhnya atau tubuhnya dengan mudah di sentuh pria. kami memang anak club malam. hanya saja Melisa bekerja di sana sebagai DJ, mabuk bukan hal yang buruk sekali. Tidak setiap malam juga Melisa mabuk. dia mabuk jika dia ingin saja. selebihnya dia hanya menikmati pekerjaannya sebagai DJ."


Lisa tersentak. dia tidak tahu kalau ternyata Orlando datang kembali ke desa Cemara.


"Terserah! aku hanya ingin menyelamatkan dokter Mario saja. aku tidak mau mereka berdua menjalin hubungan. aku tidak sudi dokter Mario menjadi miliknya."


"Lisa, kamu tidak pernah mengenal Mario. Dia tidak akan pernah menentukan pilihan kecuali dia telah mengetahui sisi baik dan buruknya calon pasangannya itu. Mario sejak dulu selalu mengawasi Melisa. dia tahu apa saja yang dikerjakan oleh wanita yang dia cintai sejak mereka masih duduk di bangku sekolah menengah atas. jadi kamu tidak perlu khawatir. kecuali kamu menaruh hati kepada Mario itu beda hal." Kakek Arjuna memberitahukan kepada semua orang kalau Mario cucunya sudah tahu seperti apa Melisa.

__ADS_1


"meski Melisa sering ke club malam. dia tetap bisa menjaga dirinya. dia tidak akan disentuh atau menyentuh pria. Aku tahu hal itu. jadi aku harap kamu jangan menyebarkan hal Yanga diluar pengetahuan mu." tegas Mario.


__ADS_2