
Melisa dengan senang hati merawat Hellen. Sebelum pergi ke pusat kesehatan masyarakat. Melisa selalu mengganti perban dan memberikan obat kepada Hellen. Hellen juga sering bermanja-manja sebelum Melisa pergi bekerja.
"Bye Hellen. Kita ketemu lagi setelah aku pulang bekerja. Makan yang banyak ya."
Melisa sudah mengisi dispenser air dan makanan Hellen. dia berangkat bekerja dengan wajah yang sangat berseri. Ada kebahagiaan tersendiri dihatinya kini melakukan hal yang berguna untuk orang lain.
Melisa berjalan menyusuri jalan setapak hingga sampai di persimpangan jalan. Saat dia ingin meneruskan perjalanan ada seorang anak kecil yang meringis kesakitan. Melisa langsung berlari melihat ke arah sumber suara.
Melisa lihat anak kecil yang ternyata tersungkur jatuh dan kakinya terluka. Melisa turun dengan sangat hati-hati.
Melisa memberikan pertolongan pertama kepada anak kecil itu. Dia buka botol air minum yang dibawanya. kebetulan air yang dia bawa bersuhu hangat. dia membersihkan lukanya dan dia langsung memberikan Betadine di luka anak kecil itu.
"Jangan menangis lagi. lukanya sudah di bersihkan dan di obati. Sekarang kamu bisa berdiri?" tanya Melisa sambil mengelus kepala anak kecil itu.
"Bisa, Kak. Terima ya. lukanya sudah tidak sakit lagi." Anak kecil itu tersenyum.
Bagi Melisa saat ini, menolong orang memberikan kenyamanan dan kesenangan untuknya.
"Lain kali, hati-hati kalau jalan. Jangan lari atau lengah." Melisa memperingati anak kecil yang tidak dia tahu namanya.
Melisa membantu anak kecil itu menanjak ke atas. Dengan penuh usaha dan tenaga dia berjalan naik.
"Azzam ... Azzam."
__ADS_1
Terdengar teriakan orang-orang memanggil nama. Melisa mendengarkan dengan seksama sambil terus fokus membantu anak kecil itu naik.
"Kak, itu sepertinya keluargaku yang sedang mencari aku." Anak kecil itu memberitahukan kepada Melisa.
"Benarkah?" Melisa melongok ke atas dan terlihat beberapa orang sedang berusaha mencari.
"Kami di sini." Melisa sontak langsung berteriak agar mendapat bantuan.
Beberapa pemuda menundukkan wajahnya dan mereka melihat ada Melisa dan juga anak yang dicarinya.
"Mari kita bantu mereka." Ujar salah satu dari mereka.
Mereka segera mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk menarik kedua orang yang berada di bawah.
"Den Azzam ada di bawah sana Tuan."
Dengan cepat dia segera melihat ke bawah. "Melisa?" pekiknya.
"Dokter Mario? tolong kami." pinta Melisa.
Dengan cepat dokter Mario menyambar tali yang dibawa oleh kedua pelayan di rumahnya.
"Pegang yang erat." teriak dokter Mario.
__ADS_1
Mereka bertiga yang ada di atas menarik Azzam dan juga Melisa.
"Hah, untunglah kalian datang." Melisa terlihat sangat lelah.
"Kalian tidak apa-apa?" tanya Dokter Mario.
"Tidak apa. hanya saja dia terluka, tapi aku sudah memberikan pertolongan pertama."
Dokter Mario tersenyum. "Terima kasih, sudah mengobati luka keponakanku. terima kasih juga karena sudah menolongnya."
Melisa menjadi tersipu. dia sangat tersanjung dengan perkataan dokter Mario.
"Jadi dia adalah keponakan mu?" tanya Melisa.
"Benar, dia adalah Azzam. keponakanku." Dokter Mario mengacak rambut tebal Azzam.
"Om, kakaknya cantik ya. dia pasti bidadari tak bersayap." celetuk Azzam.
dokter Mario dan juga Melisa tertawa. mereka sangat tidak menyangka karena ternyata Azzam akan menganggap Melisa adalah bidadari tak bersayap.
"Azzam, kamu bisa saja." Melisa jadi malu.
Dokter Mario menatap Melisa. dia sangat senang ketika melihat Melisa tersenyum.
__ADS_1