
Melisa menerima lamaran dari keluarga Dokter Mario. Kini mereka masih sibuk bercengkrama bersama. Canda tawa dan rona bahagia senantiasa di saksikan oleh dinding tembok rumah milik eyangkung Brahma dan eyangti Jamilah.
Kakek Arjuna sangat berterimakasih kepada kedua orang tua Melisa yang sudah merestui hubungan Melisa dengan cucunya Mario.
"Akhirnya cita-cita kita menjadi keluarga seutuhnya tercapai juga ya, Ma." Kakek Arjuna.
"Iyah Alhamdulillah ya, Jun. Kita bisa mewujudkan keinginan kita. Semoga mereka bisa saling mencintai, menjaga dan hidup bersama sampai akhir hayat memisahkan." Eyangkung Brahma tersenyum manis.
Dua pria yang usianya sudah hampir seabad itu saling bertatapan. Mereka begitu bahagia sebab apa yang mereka rencanakan bisa berjalan dengan lancar dan sesuai dengan harapan.
"Semoga kita berumur panjang dan bisa melihat pernikahan mereka yang selalu bahagia. aku mau merasakan menjadi buyut," tutur kakek Arjuna.
"ya, aku juga berharap demikian. aku ingin melihat cucu sematang wayangku menikah dan hidup bahagia dengan keluarganya. Maka dari itulah aku memilih cucumu untuk menjadi pendamping hidup Melisa. melihat Melisa terkadang masih bersikap kekanak-kanakan. Mario bisa mengimbangi sikap Melisa itu." Eyangkung Brahma bicara dengan nada sendu.
"Kita ditakdirkan menjadi pria yang bahagia dimasa tuanya."
Arga tersenyum dan sangat tersentuh dengan ucapan kedua pria paruh baya yang sedang asik mengobrol di teras depan rumah. Arga bersyukur ternyata bapaknya begitu bahagia. Diapun merasakan hal yang sama, bahagia dan juga merasa tenang karena putrinya bersama pria yang tepat.
"Dad, kenapa?" Katty berbisik halus, melihat mata suaminya yang memerah.
"Bapak dan Om Arjun sedang membicarakan Melisa dan Mario. mereka sangat bahagia dan aku terharu mendengar semua obrolan mereka yang sederhana, tapi sangat mengena." Arga mengusap kedua matanya.
"Dad, bersyukurlah kita, memiliki keluarga yang bisa dan terbiasa hidup sederhana meski harta melimpah. Mami juga bersyukur sekali sebab Melisa sudah berubah sekarang. Ini membuat mami berfikir, kalau kita juga harus berubah. Kita harus menjadi orang tua yang lebih baik lagi." Katty mengusap dan menggenggam tangan suaminya erat.
Dua sejoli yang sudah merasakan indahnya jatuh cinta dan bahagianya saling memiliki ini sangat bersyukur dengan keadaan keluarga yang hidup tak mengikuti gaya hidup mewah. Mereka juga sangat bersyukur memiliki seorang putri yang bijaksana dan baik hati, selain parasnya yang cantik.
...****************...
__ADS_1
Orlando bersiap untuk pergi ke suatu tempat. Dia yang awalnya ingin meninggalkan desa Cemara karena patah hati sebab mengetahui dan mendengar penuturan wanita yang pernah mengisi relung hatinya tentang dia yang sudah move on.
"Melisa, lihat saja. aku akan mendapatkan kamu lagi. aku tidak akan mudah percaya begitu saja kalau kalian memiliki hubungan khusus." Orlando bicara sambil menatap cermin.
Orlando mengendarai mobilnya. Dia akan mengunjungi seseorang dan ingin kembali mendapatkan hatinya.
Orlando terus bersiul sepanjang perjalanan untuk menyemangati dirinya sendiri dan juga untuk menetralkan perasaannya yang gugup.
Orlando tiba di rumah seorang sesepuh desa Cemara. Dia memarkir mobil dan turun. Dilihatnya rumah itu ramai oleh tamu. Namun, dia tidak mengurungkan niatnya.
Orlando memasuki pagar rumah dan berjalan lurus sampai di teras rumah yang dimana dua pria sedang asik mengobrol ringan.
"Assalamualaikum." Salam Orlando saat sampai di depan kedua pria itu.
"Waalaikumsalam, Orlando." Kakek Arjuna menjawab salah Orlando dan menyebut namanya.
"Orlando?" tanya Eyangkung Brahma sambil menatap wajah anak muda yang berada di depannya.
"Cucunya Zein?" Eyangkung Brahma langsung berdiri dan menghampiri.
"Wah kamu ternyata sudah besar ya sekarang. Silahkan masuk, kamu mau kemana?" tanya Eyangkung Brahma.
"Saya mau ke sini kek. Mau bertemu dengan Melisa." Orlando gugup.
"Melisa? kalian saling kenal?" tanya Eyangkung Brahma.
"Iyah. kami teman dekat di Jakarta," Orlando sangat gugup.
__ADS_1
"Kalian teman di Jakarta. Wah ternyata selain kita yang berteman, ternyata cucu kita juga saling mengenal." Eyangkung Brahma tertawa senang.
"Ayo masuk, nanti eyang panggilkan Melisa dan Mario. Mereka mungkin masih di dalam. Mereka sepertinya sedang membicarakan tanggal pernikahan." Kakek Arjuna ikut menghampiri Orlando.
"Tanggal pernikahan?" tanya Orlando dengan terbata.
"Iyah, baru saja kami melangsungkan acara lamaran untuk Melisa dan Mario," Jawab Eyangkung Brahma.
"Mereka akan menikah?" tanya Orlando lagi.
"Sudah, kamu masuk saja ke dalam dan bergabung dengan mereka berdua." Ajak kakek Arjuna.
"Ah, maaf. sepertinya saya kembali saja ke villa. Karena tidak enak menganggu acara keluarga. Saya pamit."
Orlando langsung pergi dan masuk ke dalam mobilnya.
Melihat sikap Orlando yang terburu-buru pulang, Eyangkung Brahma dan Kakek Arjuna saling berpandangan sambil mengangkat bahu masing-masing.
"Pak, ada siapa tadi? Katty dengar seperti ada yang datang." Katty menelisik ke sekitar rumah.
itu, temannya Melisa. Orlando tadi kemari, tapi pergi lagi." Cerita kakek Arjuna.
"Orlando? buat apa dia kemari? anak itu membawa pengaruh buruk untuk Melisa." Kesal Katty.
"Membawa pengaruh buruk? maksud kamu bagaimana?" tanya Eyangkung Brahma.
Katty menceritakan semua tentang Melisa dan Orlando. Katty menceritakan bagaimana Orlando membawa pengaruh buruk untuk Melisa selama mereka dekat. Katty menceritakan juga kalau Orlando telah mengkhianati Melisa, memberikan luka yang dalam di hati putri kecilnya.
__ADS_1
"Bapak tidak menyangka, cucu Zein salah pergaulan. Untung saja kamu dan Arga langsung bertindak membawa Melisa pulang ke desa Cemara. kalau tidak mungkin hal buruk yang tidak kita inginkan terjadi."
Eyangkung Brahma dan Katty juga merasa bersyukur kala itu Arga langsung membuat keputusan.