
"Kejutan.. !
Seokjin tersenyum melihat Jena , gadis itu menoleh kebelakang sekilas memastikan suaminya , lalu kembali menghadap ke Sean . Jena sedikit cemas jika kehadiran Sean membuat Nathan salah paham, terlebih Nathan tak mnyukai jika Jena membawa seorang pria siapapun itu masuk kedalam rumahnya
Jena menarik tangan Sean membawanya menjauh,
"Sean, seharusnya kau memberitahuku jika mau datang kemari?"
"Aku hanya ingin memberikanmu ini, aku sudah sangat merindukan sahabatku ini .. " Sean mencubit gemas hidung Jena hingga membuat sang pemiliknya memerah karena malu
"Jangan lakukan itu lagi, Suamiku bisa salah paham nanti.." Jena tersenyum tipis menanggapinya
Sean tersenyum membalasnya,
"Ayo keluar Jena, kita jalan jalan.. kau tampak murung sekarang, aku sangat sedih melihatnya"
,"Maaf Sean aku tidak bisa, aku harus.. -
Nathan mengetahui mereka, pria itu memperhatikannya dari kejauhan,
Senyum menyeringai itu cukup menakutkan, Nathan membenci orang asing yg datang kerumahnya tanpa ijin darinya. Termasuk Sean .
"Aku terima bingkisannya.. Sekarang lekaslah pergi.. kumohonn . ".Jena menyerobot bingkisan ditangan Sean dan menyuruhnya segera pergi sebelum Nathan mengetahuinya.
Terlambat sudah pria itu sudah melihatnya.
"Baiklah aku pergi, Tapi ingat . Habiskan makanannya "Sean mengacak pucuk rambut Jena
"Iyaa.. "Jena kembali mengangguk
Pria itu pergi dan Jena kembali masuk kedalam rumah,
Jena terkejut mendapati Nathan telah duduk disana, diruang tengah tempat Jena biasa menonton TV,
Tangan kekar pria itu menggonta ganti channel tv penuh dg penekanan. Pada akhirnya gadis itu memberhentikan langkahny
"Jena ,
Ia menatap tajam Jena
"Iya?
"Selama aku pergi, kau tidak membersihkan sofa ini?
Jena melihat kearah sofa yg diduduki suaminy, Terlihat bersih.ia kembali melirik Nathan
"Sudah Nat,
"Bingkisan apa itu?bawa kemari.."
Jemarinya memberi kode untuk Jena mendekat
__ADS_1
Akhirnya Jena menurut untuk mendekat dan memberikan bingkisan pemberian Sean,
Nathan merampas bingkisan itu segera setelah Jena mendekat,ia menumpahkan isinya kelantai
Jena sontak menganga tak percaya,mengapa pria itu begitu jahat padanya.
"Nath !. Matanya berkaca kaca
"Ohh makanan?kupikir pakaian atau apa!? Bersihkan!.. Sekalian Bersihkan Sofanya! Lihat itu ! " Nathan menunjuk dapur tempat Jena biasah memasak. "Bersihkan juga dapurnya ! Jangan membuat lecet peralatan masak disini !.." pria itu berdiri segera lalu menginjak makanan yg sudah tumpah dilantai. Ia bahkan dg sengaja menabrak bahu Jena dg kasarnya
"Jangan cengeng! Itu belum seberapa !."
Jena menghapus air matanya, ia lekas pergi mengambil sapu dan alat bersih lainnya untuk membersihkan makanan yg Sean bawa untuknya.
Semoga Sean tidak melihatnya, dia akan kecewa melihat makanan yg sudah ia bawa tidak Jena makan sama sekali melainkan ditumpahkan lelah suaminya.
Bekerja bekerja dan terus bekerja . Satu hari penuh Jena disuruh suruh oleh suaminya untuk ini itu dan lain sebagainya. Sekaan mengerjainya akibat kekesalannya tadi. Nathan terus menyuruh Jisoo melakukan sesuatu yg membuatnya sampai kelelahan.
"Huekk, Mmphh~Hueekk"
Gadis itu menutup rapat mulutnya agar rasa mualnya berhenti.
Tidak bisa dipungkiri ,. Hormon kehamilan trimester pertama memang akan banyak ada mualnya.. termasuk pusing .
Jika tidak baik dalam menjaganya mungkin Jisoo akan kehilangan bayinya.
__________
Sebelum author lanjut!Budayakan Vote!Comment! jangan jadi silent reader ya guys.. .
4 bulan berlalu,Jena selalu melakukan hal yg sama. Bahkan dokter kandungannya sudah berkali kali memperingatkannya untuk tidak mengerjakan pekerjaan yg akan membuatnya kelelahan.
Perutnya cukup terlihat semakin membesar. Jena belum juga memberitahu suaminya. Bahkan kedua orang tuanya,apalagi kedua mertuanya .
Ia tak mau membebani siapapun mereka yg dekat dengannya.semua masalahnya Jisoo pendam sendiri.
Kini, Jenq sedang berada di mall tempat pusat perbelanjaan alat alat bayi. Ia membeli sebuah alat yg namanya Korslet. Jena melamun saat berada didepan sebuah kaca
"Maafkan ibu ya nak, terpaksa ibu harus menutupimu dengan mengikatkan alat ini diperut ibu . "
"Maaf nyonya, alat itu digunakan untuk nanti setelah melahirkan. Untuk ibu hamil dillarang menggunakan alat itu ya.. "
Jena tersadar saat seorang pelayan menegurnya. Niatnya memang baik, tapi Jena memerlukan alat ini untuk menutupi kehamilannya Agar tidak terlihat oleh Nathan ,suaminya sendiri
"Em.. aku hanya mencobanya sedikit.. aku membeli ini untuk saudaraku yg sehabis lahiran.. tolong bungkusan ya mba.. "
"Baiklah nyonya, tunggu sebentar"
Selesai membayar Jena berniat langsung pulang. Tapi maniknya menangkap seseorang yg tak asing baginya. Nathan ,lelaki itu sedang bersama Lisa.. mereka bergandengan tangan tertawa bersama, menikmati kesenangan mereka. Memasuki sebuah toko kosmetik .
Jena melihat Lisaa dg bahagianya memilih barang kemauannya dan menunjuk apapun yg ia mau. Suaminyalah yg membayar semua belanjaan Lisa. Benar benar telihat romantis dan bahagia kedua pasang sejoli itu. Tapi tidak dengan dirinya yg hidup denga kemirisan ini.
__ADS_1
"Jena?
Ia menoleh,mendapati Irene dan Sean disana.
Jena tersenyum kecut,
Pada akhirnya mereka bertiga memilih tempat untuk duduk bersama disebuah cafe didalam mall tersebut, Sean memesan banyak makanan untuk kedua sahabatnya.
"Makanlah. Aku yg bayar.. "
"Uuuhhh,Sombong sekali dia.. " Irene menyipit menatap Sean
Jena tertawa kecil, sekilas lama gadis itu akhirnya kembali tertawa setelah banyaknya air mata yg keluar.
"Terimakasih Sean.. "
Jena mengambil makannya dan meminum jus yg Sean pesan untuknya
Mata Irene terlihat sangat jeli,ia menangkap sebuah kantong plastik yg Jena bawa bertulisan "toko Babyy "
"Jen?
Irene melirik kearah plastik yg Jena bawa
"Ohh.. ini bukan apa apa ren..
Sadar akan kecurigaan sahabatnya,Jena segera menyembunyikan barang tersebut
"Jangan ada rahasia diantara kita ya Jen.. km baik baik aja kan? ",
Lagi lagi Jena hanya bisa tersenyum miris,
Sean terdiam, ia takut kecurigaannya selama ini benar.. Jena hamil
"Jadi?km beneran hamil Jen?
Jena terheran. Dari siapa Irene tau?bukannya selama ini Jena tidak pernah memberitahunya. Bahkan memberitahu Sean pun ia tak pernah
Gadis itu menunduk sebentar,mengulum bibirnya sebelum memutuskan untuk bercerita.ia kembali melihat kearah Sean dan Irene secara bergantian
"Maaf
Jena menangis kembali
10menit kemudian.
Irene ikut sedih mendengar cerita yg Jena katakan barusan, Sean? Pria itu mengepalkan tangannya kuat kuat rahangnya pun ikut mengeras. Ia tak terima jika Jena diperlakukan buruk seperti ini untuk yg kesekian kalinya..
"Brakkk!
Sean memukul meja disana,ia segera bangkit dari tempat duduknya.ia tak tahan lagi untuk menghajar Pria brengsek itu!
__ADS_1
Jena menggeleng ,Hingga Sean kembali duduk menurutinya
Bersambung..