
Sebuah brankar dengan cepat membawa Araya kedalam ruang UGD, Dokter dan para perawat bergegas dengan tugas masing masing. Jena hanya bisa berdoa agar putrinya baik baik saja, Disisi lain. Nathan sedang menyelesaikan administrasi pembayaran rumah sakitnya.
"Jena? Gimana? Dokter masih belum keluar?
wanita itu menggeleng pasrah, "belum Jung, Semoga Arraya baik baik saja. Aku takut Jung..
"Jangan berfikiran yg aneh aneh, Semoga putri kita baik baik saja,..,"pria itu menarik Jena kedalam dekapannya,mengusap Surai panjang wanitanya
"Km tenang ya.. jangan panik , Km harus kuat... Percayalah, Araya akan baik baik saja"
Tak lama setelah itu, dokter keluar."Tuan Sean".. Keduanya menoleh. Baik Jena maupun Nathan mendekat kearah dokter ."bagaimana keadaan putri kami dokt?".. "Anda tuan Sean?". Baik Jena maupun Nathan saling bersitatap sejenak lalu kembali menatap dokter.. "Nama Saya Nathan dokt, Ayahnya.. bukan Sean ".
"Maaf Tuan, tapi pasien didalam terus menyebut nama Tuan Sean, Saya pikir nama itu adalah nama ayahnya,Jadi siapa Tuan Sean?." Dokter menatap Jena juga Nathan bergantian
__ADS_1
"Apa putriku menyebut nama itu dokt?
"Ya nyonya, Putri anda berkali kali menyebut nama tersebut, Sebaiknya anda pertemukan putri anda dengan orang tersebut sesegera mungkin. Ini terjadi sebagai hal umum pada anak anak, Pada dasarnya anak kecil yg sudah begitu menyanyangi seseorang pasti akan merasa kehilangan jika ora g tersebut memang benar menghilang dari kehidupannya." Jelas dokter
Jena terdiam, pikirannya tiba tiba juga ikut hilang. Kemana dirinya akan mencari Sean, paman kesayangan araya.tak memungkiri jika araya terus menanyakan nama Sean dalam tidurnya. Pria itu memang sudah merawat araya sejak bayi ,menjaga sertta membantu membesarkan araya saat dimana Nathan tidak bersama Jena saat itu.
"Maaf dokter, Sean adalah nama teman saya, Memang benar araya sangat dekat dg putriku. Tapi dia telah pergi. Saya tidak tau harus mencarinya kemana lagi..,"
"Dokt, ijinkan saya masuk, saya ayahnya.. "desak pria itu
"Baiklah, tapi tuan. Tolong segera keluar karena pasien masih membutuhkan waktu untuk istirahat sampai ia kembali sadar.."
"Bagaimana dengan panasnya dokt?
__ADS_1
"Tenang saja nyonya, saya sudah memberinya obat penurun panas langsung lewat infus. Jadi sebentar lagi pasti akan segera turun demamnya..",
Jena mengangguk paham. Dokter pergi meninggalkan mereka .
"Aku masuk dulu,.."
Pria itu mengusap lengan Jena sebelum masuk, Jena tau bagaimana perasaan Nathan saat ini. Mungkin ia kecewa ,mungkin juga ia merasa sakit hati karena putrinya terus menyebut nama orang lain. Tapi tidak ada yg bisa Jena lakukan, Araya dan Sean memang sudah seperti anak dan seorang ayah..
Jena meraih ponselnya dalam tas, ia mencari nama pria itu dan menghubunginy berkali kali.. nomor Sean masih tidak aktif. Sudah satu hari berlalu. Jika waktu itu ia mengatakan baterai ponselnya low. Seharusnya sekarang sudah ia cas dan kembali dapat digunakan. Mengapa ini rasanya berbeda. Apakah Sean menghindari Jena?..
Bersambung...
Ayo vote. Comment , Jangan Jd siLent reader ya guys
__ADS_1