
"Kau mau melukai dirimu sendiri?.".
Sean tampak khawatir dengan Jena, wajahnya mulai memucat. Bibirnya membiru . Sudah jelas gadis itu kedinginan,
"Sean?Sejak kapan kau disini?.." Gadis itu menggigil hebat,
"Apa kau mati rasa Jena!, Sepagi ini kau menghujam tubuhmu dengan air hujan!?..,Pegang ini!..",Sean meraih tangan Jena yg begitu dingin untuk memegang payung merah yg pria itu berikan.
Pria itu dengan cepat membuka Jas mantelnya dan memberikannya keJena ,lebih tepatnya memakainya ke punggung Jena .
"Segera masuk dan ganti bajumu. Kau akan sakit jika terus menerus begini.."
"A-aku su-sudah sakit Sean.. hikshikshiks.. "
Dari kata itu , Sean mulai mengerti. Jena tak bahagia bersama Nathan,
Gadis itu terduduk di tanah yg ditumbuhi rumput . Tak peduli jika badannya menjadi kotor ,bahkan payung merah yg Sean berikan sudah melayang dan terjatuh dihadapannya sendiri.
Keduanya terguyur air hujan.
__ADS_1
Sean terdiam membatu, ia tak tahan melihat Gadis yg dicintainya menangis. Apalagi menangisi sosok pria yg seharusnya tidak bersamanya.
Tanpa mereka sadari, Sesosok pria dengan balutan celana Hitam panjang dengan kaos putih oblong tengah memperhatikan mereka .
___________
Ketiganya menikmati kopi bersama, Irene melirik Sean beberapa kali dan Sean peka akan hal itu. Irene tampak khawatir dengan Jena , begitupun Sean .
"Em.. Jena, Bagaimana kalo kita pergi keeeeee-
Sean menyenggol kaki Irene dan Irene meliriknya. Mungkin niat Irene baik, dia hanya ingin menghibur temannya .tapi menurut Sean keadaan Jena saat ini sedang tidak baik baik saja , bahkan wajahnya terlihat pucat.
Sejak hujan tadi,Sean membawa Jena untuk keluar dari rumah Nathan menuju kedai kopi mereka . Tak peduli keadaan mereka yg sedang basah kuyup. Keduanya pergi bersama dan berganti pakaian dikedai kopi. Jena memakai pakaian milik Irene dan Sean kebetulan juga ada baju yg tertinggal dikedai mereka
Situasi saat ini sedang tidak baik baik saja.
"Jena, kau bisa menginap disini. .aku merindukan masa masa saat kita menghabiskan waktu berdua Diisni . Benar kan Sean?bagaimana kalau kau juga menginap disini menemani kami? Setuju?." Irene mencoba tersenyum sebaik mungkin untuk menghibur temannya . Tapi senyuman Jena benar benar memudar.
Gadis itu hanya memberikan senyuman tipis sebelum kembali menyeruput kopinya.
__ADS_1
"Aku tidak bisa lama lama disini,aku harus kembali kerumah.. ini sudah jam makan siang, aku bahkan lupa tidak berpamitan dengan Nathan pagi tadi.."
Seokjin kembali bertatapan dengan Irene.mereka seperti sedang bertelepati lewat mata.
Irene memahami apa maksud Sean,
Begitupun sebaliknya
"Jena, kau lupa ya.. besok-
Ucapan Irene terpotong. Jena segera bangun dari tempat duduknya.
",Maaf Irene,aku benar benar harus kembali. Terimakasih untuk kopi hangatnya. Dan.."gadis itu menoleh ke arah Sean.
"Aku pergi Sean, lain kali jika ingin menemui ku . Hubungi aku terlebih dahulu.. ."
Gadis itu benar benar pergi. Baik Sean maupun Irene tak dapat menghentikannya.
Percuma saja , Jena telah berubah semenjak ia menjadi seorang istri .bukan apa, memang benar itu kewajiabannya menjadi seorang istri,tapi sikap suaminya yg keterlaluan apakah masih bisa disebut sebagai seorang suami?...
__ADS_1
Bersambung.. .
Mohon dukungannya ya dengan cara like Comment dan votee