
Jena melemas.. Ia bahkan tak bertenaga lagi kali ini,
"Bagaimana keadaan bayiku dok?"
"Syukurlah semuanya baik baik saja nona, hanya saja sedikit benturan tadi membuat perut anda memar..nanti saya berikan vitamin dan obat obatan lainnya sebagai penguat ya.."
"Terimakasih dokter,"
Jena berusaha bangun kembali , kini ia masih terduduk diranjang pemeriksaan
"Pelan pelan saja bangunnya nona,"
"Iya dokt,
Dokte melihat koper berwarna ungu yg Jena bawa ,
Ia melirik kearah Jena sekilas kemudian kembali mencatat resep untuk pasiennya itu,
"Nona Jena,?apa anda sedang membutuhkan tempat tinggal?"tawar dokter kandungannya yg tak sengaja melihat koper miliknya
Jena mengangguk pelan,
Dokter tersenyum.
_____
__ADS_1
"Silahkan masuk nona ,.memang tak sebagus dan tak semewah rumah pada umumnya, tapi rumah ini cukup nyaman untuk ditempati"
Dokter memberikan apartemen pribadinya untuk Jena tinggal sementara,dokter itu merasa kasihan pada pasiennya.. terlebih dengan kondisinya yg sekarang tengah mengandung besar.
Jena melihat kesekitar, "rumah ini bagus dokter.."ia kembali tersenyum
"Ini kuncinya nona, maaf saya harus kembali kerumah sakit,sift saya hari ini sore dan malam.. tidak apa apa kan saya tinggal sendiri?kalo ada apa apa nona bisa menghubungi satpam didepan . Ini nomernya.."
Tak lupa sang dokkterjuga memberikan nomor satpam yg menjaga rumah apartemennya.
"Terimakasih banyak Dokter"
"Sama sama ,saya permisi ya.."
"Tunggu dokt,
"Dokter bisa panggil saya dg nama saja, Jena. "
Dokter itu kembali tersenyum sebelum mengangguk i permintaan Jena. Kemudian pergi.
Jena meletakkan pakaian2nya dan menatanya rapi didalam almari yg tersedia. Ia teringat dg Nathan sekarang, memikirkan lelaki yg telah menyakitinya.. entah mengapa ia mengkhawatirkan pria gila itu.."apakah dia sudah makan?siapa yg menyiapkan air hangat untuknya?" Pikiran itu terus muncul dalam benak Jena.
Sudahlah.. hari mulai larut malam.. Jena harus beristirahat.ia merasa kasihan pada bayinya karen harus merasakan kesaktian akibat ulahnya .
"Maafkan ibu sayang,maafkan ayahmu juga, sebenarnya ayahmu sangat menyayangimu.. Jadi tetaplah tumbuh dengan baik ya.. " ia mengusap pelan perut buncitnya berkali kali .menghapus air matanya yg tidak sengaja turun , dan menarik nafasnya berulang kali untuk menetralkan dadanya yg terasa sesak.
__ADS_1
______________
"Apa dokt?saya mengalami menopause?"
"Iya nyonya, usia nyonya sudah menginjak kepala 4 jadi wajar jika nyonya mengalami menopause" terang dokter rose . Dokter kandungan yg selama ini memeriksa kandungan Jena . Dan sekarang mertuanya yg sedang memeriksakan kondisi kesehatan nya disana.
"Huhh, yasudahlah.. memang sudah saatnya saya menopause. Terimakasih dokter" Ibu Nathan segera bangun . Matanya tak sengaja menangkap catatan buku harian periksa Atas nama Jena
Pergerakannya tiba tiba terhenti, ia kembali duduk dan menanyai nama yg tertera diatas kertas itu
"Emm? Dokter..
"Iya nyonya?
"Maaf itu, seperti nama Jena?
"Ohh?iyaa, benar nyonya. Ini nama pasien saya.. " rose tersenyum ramah seperti biasanya. Dia tak mengetahui bahwa wanita paruh baya yg menjadi pasiennya Sekarang ialah ibu mertuanya Jena. Rose menutup catatan tersebut .
"Jena ?apakah Jena Kim?
Ibuny terus menaruh rasa penasaran,semoga benar bahwa menantunya itu memang tengah hamil
"Maaf nyonya,saya tidak dapat mengatakan data diri pasien saya keorang lain,.ngmg2 anda siapanya nona Jena?
"Saya mertuanya.. "wanita paruh baya itu menepuh dadanya pelan menegaskan bahwa beliau adalah ibunya
__ADS_1
Rose tersentak, ia terdiam ,ia tak tau harus mengatakan apa pada wanita paruh baya tersebut
Bersambung