
Pagi hari, seperti biasah. Jena sudah terbiasa bangun pagi pagi buta untuk memasak makanan dan menyiapkan bekal untuk adikny, ia sampai lupa bahwa sekarang Jena bukan lagi dirumahnya .
Gadis itu berjalan kearah dapur, mencuci muka ,lalu mencari bahan makanan yg tersedia didalam lemari pendingin. Rumah sebesar dan semewah ini ternyata sama sekali tidak ada pembantunya. Ternyata pria itu tinggal sendirian.
Terlihat hanya ada beberapa telur dan juga beras yg tersedia cukup hanya untuk makan satu orang . Gadis itu tersenyum,setidaknya telur telur ini masih bisa ia gunakan untuk menyiapkan makan untuk Nathan,suaminya. Tangannya begitu lihai mengambil telur telur dan mencuci beras yg tersedia.
Jena mengalah, ia akan makan nanti saja dicafenya bersama Irene . Gadis itu sudah tidak sabar menemui sahabatnya setelah semalam pergi tanpa berpamitan.
10menit berlalu, Jena juga telah selesai membersihkan tubuhnya. Ia sampai tak ganti baju karena kopernya masih didalam sana,didalam kamar Nathan yg ditutup semalam secara kasar .
Rambut terurai serta wajah non makeup Jena yg begitu natural cantik memancarkan aura positifnya. Ia berjalan kearah kamar Nathan. Sempat ragu untuk mengetuk pintu kamar pria itu, tapi ia juga harus meminta izin pada suaminya untuk pergi bekerja.
Tok tok tok ✊,"Memberanikan diri adalah pilihannya. Mau sampai kapan?jam sudah menunjukkan pukul 7. Jena pikir apakah Nathan tidak pergi bekerja juga?
Beberapa detik kemudian,tidak mendapati sahutan apapun dari dalam sana, akhirnya Jena membuka pintunya tanpa seizin Nathan
Pemandangan yg cukup pilu harus Jena lihat, Barang barang berantakan bercecer dilantai.. semua baju Nathan yg berhamburan ,serta pecahan pecahan kaca dan bercak darah .
Pandangannya beralih pada sosok yg masih terlelap dengan setelan jasnya.Jena mendekat. Mendapati kepalan tangan Nathan yg berdarah sampai mengering sendiri. . sungguh miris.
Tanpa membangunkan Nathan, gadis itu membersihkan kamarnya dan menatap kembali barang barang milik suaminya. Setelah semua selesai, ia kembali mendekat kearah Nathan yg masih terlelap. Jena terduduk ditepi ranjang . Mengambil tangan Nathan dan mengobatinya dengan obat merah. Tak lupa Jena juga memakan plaster pada tangan Nathan yg lecet lecet.
Merasa tangannya ada yg menyentuh, Nathan tersadar. Pria itu membuka mata dan langsung menarik tangannya dg kasar.
Mereka bersitatap kembali " siapa yg menyuruhmu masuk ke kamarku dg lancang!"
Jena masih bersikap tenang, ia kembali menutup kotak P3K dan segera bangun dari tempat duduknya.
"Aku sudah memasakanmu makanan dimeja makan, Cepatlah bangun sebelum makanan itu Dingin..aku juga meminta ijinmu untuk pergi bekerja"
"Ch.. pergi tinggal pergi. Jangan menikmati suasana saat ini!kau tetap bukan siapa siapa bagiku!.",
"Baiklah,.."
Jena melangkah pergi,tapi sebelum ia kembali melanjutkan langkahnya. Jena berbalik badan..
__ADS_1
"Aku mungkin pulang sore.. Jika kau butuh sesuatu, tolong hubungi aku.."
Pria itu tak mau menghiraukan ucapan Jena, rahangnya mengeras .wajahnya yg tampan bercampur kesinisan tak mau melihat apalagi menatap gadis itu..
_________
Cafeee..
Suara pintu terbuka,.Irene berkali kali mengecek apakah itu Jena sahabatnya yg datang . Untuk kesekian kalinya wanita itu memastikan dan benar saja itu Jena .
"Jena!
Gadis itu hanya tersenyum seperti basah seolah tak terjadi apa apa dengannya.ia langsung berganti pakaian diruang ganti dan memakai celemek kerjanya . Tangannya kembali lihai membersihkan mesin mesin kopi . Kebetulan Irene sengaja telat membuka Kedai kopi mereka karena sebuah alasan. Yaitu Jena
"Jena?kau baik baik saja?kau sudah makan?emm.. kebetulan aku membeli 2 bungkus nasi dengan Lauk yg seperti biasa kau suka, ayo makan ?"..
Jena mengentikan aktivitasnya,ia menatap Irene lalu tersenyum.
Keduanya lalu makan bersama . Jena terlihat lahap menyantap makanan yg Irene belikan untuknya. Untuk sahabatnya.
Melihat hal itu, Irene menjadi sakit hati, gadks itu menangis sembari dg susah payah menelan makanannya. Ia merasa kasihan pada sahabatnya.
"Irene.. aku baik baik saja,
",T-tapi kau terlihat- .. hikshikshiks.. " Temannya bahkan tak sanggup melanjutkan kata katanya
"Sean? bagaimana dengan dia? Maaf ,aku semalam tidak berpamitan pada kalian.. "
"Jangan pedulikan kami Jena, Harusnya kau pedulikan dirimu.. hiks"
Jena tersenyum, ia begitu bersyukur mendapatkan sahabat/teman yg begitu baik dan peduli dengannya
Tingg !
Sebuah pesan singkat masuk ,
__ADS_1
"Kak, ayo ketemu!"
Pesan itu membuat Jena kembali melunturkan senyumanny
"Siapa? Nathan k?atau Sean?atau Lisa?" Irene seperti peka terhadap perubahan sikap Jena . Ia tau bagaimana perasaan Jena saat ini. Pasti canggung sekali menemui adiknya dikala kekasih adiknya harus ia nikahi
"Bukan siapa siapa, ini hanya pesan dari nomor tidak dikenal.. emm. Btw makasih makanannya ya..aku mau keluar sebentar ren.. mau beli Pembalut.. " alasan Jena . Ia tak mau membebani Irene dengan masalahnya sendiri
Irene mengangguk , ia tahu sahabatnya telah berbohong .
________
Taman dekat kedai kopi Jena
"Lisa..
Panggil gadis itu ,ia mendekat
Lisa menoleh, terlihat dari raut wajahnya yg sedang tidak baik baik saja
"kak!, Kembalikan Nathan padaku!"
Lisa benar benar to the point,
Entah harus bersikap bagaimana menghadapinya. Tapi Jena mencoba tetap tenang .
"Aku kecewa denganmu kak!Dia itu kekasihku!kenapa kakak merebut Nathan dariku!, Tinggalkan Nathan kak! Kembalikan ! Kembalikan dia padaku!.."
Jena berfikir, pernikahan bukanlah sebuah permainan seperti mengoper sebuah barang. Ia memang benar menyanyangi adiknya melebihi apapun ,tapi? Pernikahannya juga bukan sebuah permainan belaka.
"Lisa.. bukan kakak tidak mau mengembalikan Nathan padamu, tapii mintalah Nathan pada ibu dan ayahnya, minta maaflah pada mereka dan mintalah Kekasihmu kembali secara baik baik.. "
"Kakkk!!!!
Nada itu semakin meninggi,
__ADS_1
Jena ? Dia hanya tersenyum miris melihat nasipnya juga adiknya sekarang .
Bersambung