RED UMBRELLA

RED UMBRELLA
RED UMBRELLA #32


__ADS_3

"Araya.. ?.ini ayah . " Nathan mendekat,.ia meraih tangan mungil gadis kecilnya.. mengusap punggung tangan yg terasa hangat. Obatnya telah meresap. Demamnya juga mulai menurun. Araya dalam keadaan stabil sekarang.


"Paman Sean... Hikshikshiks.." araya tersadar. Ia berkali kali menyebut nama Sean dalam ingatannya.


"Araya.. dengarkan ayah, paman Sean sedang pergi keluar kota untuk pekerjaannya.. Araya disini dengan ayah yaa.. jangan menangis..",ia mengusap lembut kepala putrinya,menghapus air mata yg keluar dari Araya


"Ibuuuu... Hikshikshiks.."


Mendengar putrinya menangis, Jena lekas masuk dan mendekat. Wanita itu membawa araya kedalam pelukannya.


"Sayang.. dengarkan ibu, araya harus sembuh . Nanti kalo araya sembuh kita temui paman Sean ya.. "


"Araya mau paman Sean datang kesini ibu... Hikshikshiks.."


Tak tahan melihat putrinya lebih menyanyangi orang lain ketimbang dirinya, Nathan mengalah. Ia memilih pergi tanpa berpamitan pada Jena .


Wanita itu sampai tak melihat kepergianny,Jena hanya fokus untuk menenangkan putrinya.


__________


"Makan dikit yaa.. "bujuk Jena menyodorkan sendok berisi bubur ayam kearah mulut araya


"Aku gak mau!.."gadis kecil itu malah mengerucutkan bibirnya membelakangi Jena


Jena menghela nafas,ia harus lebih sabaran menghadapi gadis kecilny


"Araya mau sembuh kan? Katanya mau ketemu paman Sean?.."


"Paman Sean jahat! Araya sakit paman gak datang kesini!.."

__ADS_1


Jena tak tahu lagi harus menjawabnya bagaimana, ia tak mungkin menjelaskan keadaan yg sebenarnya pada putri kecilnya


"Arayaaaa... ~


Sebuah boneka beruang besar melambai lambai dikaca pintu .


Jelas atensi gadis kecil itu tertuju padanya


"Boneka jelek! Araya gak mau lihat boneka itu !.."


Bukannya merasa senang karena terhibur, araya justru memilih menutup dirinya dengan selimut rumah sakit sampai tak terlihat lagi wajah serta seluruh badannya. Hanya beberapa helaian rambut yang terlihat


Jena menoleh, Keduanya sampai bersitatap. Nathan menghela nafas sembari tersenyum kecewa . 


"Biasanya ? Araya suka apa?.."tanya Nathan pada Jena setelah mereka keluar dari kamar Araya


"Dia suka pada boneka beruang,


"Dia suka menggambar


"Ada lagi?


Jena menoleh dg wajah datarnya. Dan Nathan seolah tau apa yg Jena pikirkan. Wanita itu pasti berfikir bahwa dirinya mungkin terkesan memaksa


"Yg dia butuhkan saat ini hanya Sean . Maaf, tp memang begitu. Disaat putriku sakit . Sean selalu ada disampingnya.. "


"Ini salahku Jena,


"Percuma menyalahkan diri sendiri terus menerus, tidak ada hasil..",

__ADS_1


"Aku akan berusaha, Aku tidak akan menyerah ." Tekad Pria itu


"Nath..


Panggil Jena saat suaminya beranjak bangun untuk pergi


Nathan menoleh kembali,


"Ya?


"Maaf,


"Untuk apa ?


Pria itu kembali duduk dan bertatapan dg istrinya


"Maaf ,bukannya aku mencoba menghilangkan sosok ayahnya. Tapi.. "


Nathan kembali meraih tangan Jena , menggenggamnya dengan penuh keyakinan.


"Ini bukan salahmu, ini jelas salahku.. semua ini karena aku tidak ada di sampingmu saat itu . Saat dimana kau mengalami kesusahan. Saat dimana kau harus menjaga putriku , saat dimana kau membesarkan araya dengan kasih sayangmu sendiri.. "


Jena dapat melihatnya kali ini, mata itu.. mata yg Jena harapkan selama ini.. tatapan Nathan yg penuh dengan kedewasaan,penuh dengan kasih sayang serta ketulusan.


"Aku... Merindukanmu.. merindukan sosok yg baru saja aku lihat..."


Nathan tersenyum, ia menunduk sesaat sebelum kembali menatap istrinya. " Kau akan terus melihat sosok itu Jena, melihat sosok yg ingin kau lihat selama ini dariku,Maka.. kembalilah denganku?kembali kekota dimana kita mencetak sebuah kenangan saat dulu.. aku tau itu menyakitkan bagimu, kali ini aku akan berusaha menghapus semua kenangan buruk itu.. akan kuubah kenangan buruk mu menjadi kenangan indah selama kau bersamaku.. "


Senyum kecil itu muncul, benarkah hati Jena saat ini sudah luluh pd kata kata manis seorang Jeon Nathan?

__ADS_1


Bersambung


Btw, aku bakal bikin cerita baru. Nanti mampir ya..


__ADS_2