RED UMBRELLA

RED UMBRELLA
RED UMBRELLA #25


__ADS_3

"Paman?dia siapa?"


Dengan polisnya Ara bertanya pada sosok pria yg sedang berdiri dan beradu tatap dengan Sean


Sean beralih menghadap kearah Araya ,ia berjongkok kembali "Araya, ayo pulang.. Ibumu pasti sudah menunggu dirumah.,besok Araya kembali sekolah kan?"


Araya mengangguk.. Sean tersenyum mengusap kepala gadis kecil itu, ia kembali berdiri dan menggandeng tangan kecil itu untuk segera pergi dari sana,mengabaikan Nathan


"Dia putrimu?"


Nathan berucap, ucapannya mampu membuat kedua kaki Seokjin menghentikan langkahnya seolah membeku,


Ia terhenti sebentar ,lalu kembali melanjutkan jalannya."Ayoo paman..


Araya menarik tangan Sean ,


"Paman?


Lagi lagi Jungkook mampu menghentikan langkahnya,begitupun dg araya.. ia mengusap rambut halusnya yg menutupi wajah cantiknya


Nathan mendekat," dia putrimu?atau -?"


Sean dengan cepat menepis tangan Nathan yg menunjuk Araya, "Bukan urusanmu!". Sean mengangkat tubuh Araya dan membawanya segera pergi dari sana sebelum semuanya semakin rumit


"Yak! Dimana Jena? Kau pasti tau kan dimana Istriku!?.." teriak Nathan ,namun diabaikan oleh pria itu . Ia memilih mengabaikan panggilannya berkali kali


"Yakk!Sean!


"Paman dia siapa?"


"Bukan siapa siapa, Jangan lihat kebelakang, " lantas gadis kecil itu segera menolehkan wajahnya kedepan menuruti perintah pamannya


____


"Eoh?kalian sudah kembali?"


Jena segera mengambil alih araya yg terlelap dari gendongan Sean .


Kedua tangan Sean penuh dengan Satu Boneka beruang besar dan yg satunya lagi memapah Araya, putri semata wayang Jena


"Hm ..


"Sebentar, aku tidurkan dulu araya.. kau duduk dulu.." Jena membawa araaya untuk masuk kedalam kamar

__ADS_1


"Baiklah.. "Sean menurut,ia duduk disana ,diruang tamu sembari menunggu Jena


"Ini Sean, diminum dulu . "Wanita itu menaruh secangkir kopi buatannya didepan Sean.


"Arayya merepotkanmu ya?"


"Tidak.. Jangan khawatir,dia sudah seperti putriku.. "liriknya sembari meminum kopi tersebut


Jena kembali tersenyum,ia lagi lagi merasa bersyukur karena Sean mau sebaik ini padanya.


"Emm.. Jena, ada sesuatu yg ingin aku katakan.. "


"Apa itu?katakan saja


"Dia kembali..


"Maksudmu?


"Nathan, dia ada di kota ini..


Jena mulai menegang,keduanya bersitatap dalam pikiran yg sama


"Dia mencarimu, bahkan boneka yg tadi aku bawa,itu darinya..


"Tidak, .. dia belum mengetahuinya..


"Lalu aku harus bagaimana?sudah sejauh ini aku pergi ,aku tidak mau mereka mengambil putriku .."


Kedua tangan Jenq mendadak bergetar hebat, sebuah trauma mendalam membuat luka yg begitu menyayat baginya


"Jena ,tenanglah.. " Sean mendekat,ia memeluk Jena untuk mencoba menenangkannya


"Aku takut Sean . Aku takut.. aku sangat takut... "


"Tenang Jena,tenang..


Dan mulai malam ini,Jena selalu memeluk erat putri kecilnya saat tidur. Ia benar-benar takut kehilangan putri satu-satunya yg ia punya. Harta terindah yg ia punya. Hanya Araya yg Jena punya saat ini , satu satunya yg Nathan berikan untuk wanita itu ialah Araya


_____________


"Aduhhhhhh,


Nathan segera berlari kearah gadis kecil yg tak sengaja ia tabrak , Arraya menggunakan seragam sekolahnya dan berlari kejalanan tanpa sepengetahuan Jena . Gadis kecil itu mengejar seekor kucing yg berlari kencang melewati jalanan.

__ADS_1


"Km baik baik saja ? Tunggu (Nathan melihat wajah araya dg seksama).. km ?kau gadis kecil yg semalam?boneka beruang?km ingat?"


Araya menoleh polos, ia juga mengingat paman ini yg semalam memberikannya boneka beruang.


"Arayaaaa.. ~


Keduanya menoleh secara bersamaan. Jena membulat sempurna melihat putrinya duduk dengan keadaan luka dilututnya. Terlebih putrinya sedang bersama seseorang yg ia sangat kenal..


"Arayya.. kau baik baik saja ?hm?" Jena hampir menangis.. ia berlari mendekat lalu segera menggendong putrinya


"Jena?


Jena melirik tidak suka kearah Nathan,


Ia segera berlari kembali masuk kedalam rumah..


"Tunggu Jena... !


Blamm!"


Jena mengunci rapat pintu rumahnya


"Jena tunggu!! Aku ingin bicara . Tolong ijinkan aku bicara Jena . Ijinkan aku menemuimu.. ijinkan aku menemui putri kita.. Jena..!"


Pria itu terus saja menggedor gedor pintu rumah Jena ,membuat keduanya ketakutan hebat.


"Ibu dia siapa?


"Ayo sayang. .kita obati dulu luka dilututmu.. "


"Ibu paman itu menggedor ggedor pintu rumah terus.. ?"


Tangan Jena kembali bergetar hebat .keringat dingin mulai keluar. Ia benar benar tidak fokus


"Ibu kenapa?.. ibuu?"


Pandangannya buyar seketika.Jena pingsan.


Dengan cekatannya Araya langsung berlari mengambil telepon rumah dan menelpon pamannya Sean .


Mendengar kabar itu, Sean segera berlari menuju mobilnya ,meninggalkan pekerjaannya yg terbengkalai


Bersambung... .

__ADS_1


Hampir Endಥ‿ಥ(。ŏ﹏ŏ)


__ADS_2