
Bab 14
Beberapa saat kemudian Andrew tiba di Bar High Heaven. Dia memarkirkan mobilnya dan masuk ke dalam Bar.
Di dalam dia melihat banyak orang yang sedang menikmati musik yang dimainkan, banyak juga yang minum minum.
Andrew duduk di sebuah kursi sambil melihat lihat sekitar, kemudian ada seorang pelayan menghampirinya. "Tuan, apa yang ingin anda minum?".
"Berikan minuman terbaik kalian". Andrew berkata dengan santai.
"Baik, tunggu sebentar". Pelayan itu pergi menyiapkan minuman.
Saat Andrew sedang mengamati Bar, seorang wanita cantik tiba tiba duduk disebelahnya. "Hai Tampan, apakah kau sendiri saja?".
Andrew melihat ke arahnya dan balik bertanya. "Bagaimana denganmu?".
"Aku juga sendiri, bagaimana kalau aku menemanimu minum?". Wanita itu berkata sambil tersenyum.
"Silahkan". Andrew berkata dengan santai.
Kemudian pelayan datang membawakan minuman untuk Andrew, lalu wanita itu memesan minuman untuknya.
Andrew meminum seteguk minumannya. 'Ini tidak terlalu keras'. pikirnya
Wanita itu kemudian bertanya. "Siapa namamu tampan?".
"Bukankah kamu harus memperkenalkan dirimu terlebih dahulu sebelum bertanya nama orang lain?". Andrew berkata dengan santai.
Wanita itu kemudian memperkenalkan dirinya. "Oh maafkan aku~, namaku Linda, siapa namamu?".
"Aku Andrew". Andrew membalas dengan santai.
"Bolehkah aku memanggilmu Andrew saja? sepertinya kita seumuran". Linda bertanya sambil tersenyum.
__ADS_1
Andrew menggelengkan kepalanya. "Tidak masalah".
Kemudian pelayan datang membawakan minuman untuk Linda, Lalu dia mengajak Andrew untuk bersulang.
"Cheers"
*Clang*
Mereka kemudian meminum minuman mereka, setelah beberapa saat Linda bertanya. "Ini pertama kali aku melihatmu disini, apakah kamu sedang stres?".
"Aku kesini ingin menyingkirkan sampah yang mengganggu". Andrew menjawab dengan santai.
"Sampah? sampah seperti apa itu?". Linda bertanya dengan penasaran.
Andrew menggelengkan kepalanya. "Kamu tidak perlu tau, aku juga ingin bertanya padamu, apakah kamu sering ke sini?".
"Tidak juga, aku hanya kadang kadang mampir untuk menghilangkan stres". Linda menjawab dengan santai.
Linda menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tau".
"Oh baiklah kalau begitu". Andrew berkata dengan santai.
Mereka melanjutkan minum hingga Linda mabuk berat dan mengutuk. "Sialan, aku tidak mau dijodohkan dengan putra pertama dari SG Grup itu, aku ingin menemukan cintaku sendiri".
Dia kemudian menempel pada Andrew. "Benarkan Andrew, apakah kamu mau menemaniku malam ini?".
Andrew menjauhkannya dan berkata. "Hilangkan dulu mabukmu, aku tidak ingin bercinta dengan orang yang sedang mabuk".
"Aku tidak mabuk". Linda kembali menempel pada Andrew.
Andrew langsung mencium bibirnya, Linda terkejut dengan itu dan mencoba melepaskan diri, namun Andrew memeluknya dengan erat.
"Apa yang kamu lakukan?". Linda berkata dengan marah setelah Andrew melepaskannya.
__ADS_1
"Bukankah tadi kamu mengajakku tidur bersama?". Andrew bertanya sambil tersenyum.
"A-aku tidak pernah mengatakan itu, kamu sialan, kamu sudah mengambil ciuman pertamaku". Linda berkata dengan gugup.
"Oh, berarti tadi kamu berkata dalam keadaan mabuk". Andrew berkata dengan santai.
"Apakah kamu tidak ingat apa yang kamu katakan padaku tadi?". Andrew bertanya dengan menggoda.
Linda kemudian mengingatnya dan wajahnya langsung memerah. "A.. aku ti.. tidak i.. ngat apa apa".
"Jika kamu tidak dapat mengingatnya, maka aku yang akan mengingatkanmu". Andrew berkata sambil menggoda.
Sebelum Andrew bisa mengatakannya, Linda menutup mulut Andrew dengan tangannya. "Jangan katakan itu".
Beberapa saat kemudian Linda melepaskan tangannya dari mulut Andrew, setelah itu Andrew berkata. "Sepertinya kamu memiliki banyak masalah".
Linda mengangguk dan berkata dengan sedih. "Ya, orang tuaku memaksaku untuk menikah dengan Putra pertama SG Grup".
"Aku tidak menyukainya sama sekali, dia adalah orang yang licik". Tambahnya.
Andrew kemudian bertanya. "Memangnya kenapa orang tuamu ingin menikahkanmu dengannya?".
Linda berkata dengan sedih. "Sebenarnya ini adalah masalah bisnis, bisnis orang tuaku awalnya baik baik saja, namun saat acara pertemuan para pebisnis, aku ikut dengan orang tuaku. Di sana aku bertemu dengannya, dan dia langsung memintaku untuk berkencan".
"Aku langsung menolaknya,orang tuaku juga menolaknya. namun dia terus memaksa hingga akhirnya dia menyuruh semua orang yang berbisnis dengan ayahku untuk tidak lagi berbisnis dengan ayahku, hingga akhirnya kami mengalami kebangkrutan".
"Saat itu dia datang kekeluarga kami untuk membantu kami mengembalikan kejayaan bisnis orang tuaku, tapi dengan syarat aku menikah dengannya. Orang tuaku yang mendengar itu tidak langsung menerimannya".
"Setelah beberapa waktu, bisnis orang tuaku makin memburuk, hingga akhirnya mereka menyuruhku untuk menikah dengannya agar bisnis orang tuaku kembali".
Andrew mengangguk. "Jadi seperti itu".
Mereka terus berbicara sampai beberapa saat kemudian Andrew mengakhiri pembicaraan mereka. "Baiklah, sekarang saatnya untuk membersihkan sampah".
__ADS_1