
Bab 34
Di dalam rumahTaylor, saat ini Andrew dan Taylor duduk berseberangan di diepan meja makan.
Taylor menuangkan secangkir minukan untuk Andrew dan menyerahkannya.
"Minumlah ini dulu"
Mereka berdua memimun air itu dan kemudian Taylor mulai menjelaskan.
"Sebenarnya aku adalah seorang pembunuh bayaran yang bekerja sendiri tanpa bergabung ke kelompok manapun"
"Lalu?". Andrew bertanya.
"Apakah kau tidak terkejut?". Taylor memandang Andrew dengan heran.
"Sebenarnya aku sudah menduganya dari sejak pertemuan pertama kita". Andrew berkata dengan santai.
"Kenapa kau bisa mengetahuinya? apakah kau juga orang yang mengincarku?". Taylor bertanya dengan waspada.
Andrew menggelengkan kepalanya dan menjelaskan. "Sepertinya kamu salah paham kakek tua, aku bukanlah seorang pembunuh bayaran sepertimu".
"Lalu darimana kau tau kalau aku seorang pembunuh bayaran?". Taylor bertanya dengan heran.
"Aku bisa merasakan dari Auramu bahwa kau sudah banyak membunuh orang". Andrew berkata dengan santai.
"Apakah sejelas itu?". Taylor bertanya dengan bingung.
"Tentu saja tidak semua orang bisa merasakannya, mungkin orang yang lebih kuat darimu bisa merasakannya dengan mudah sepertiku". Andrew menjelaskan dengan santai.
Mendengar itu Taylor sedikit marah dan berkata dengan kesal. "Jadi maksudmu kau lebih kuat dariku?".
"Bisa dibilang begitu". Andrew tersenyum dan mengangguk.
"Cih, Kentut". Taylor membantahnya langsung.
"Aku sudah menjadi pembunuh bayaran sejak lama, mungkin saat itu kau masih di dalam rahim ibumu, jangan mimpi untuk melampauiku". Taylor berkata dengan jengkel.
Andrew kemudian berkata dengan santai. "Terserah jika kau tidak percaya, dan kau juga bisa mengetesnya sendiri".
__ADS_1
"Tidak, saat ini aku harus memulihkan kekuatanku dulu". Taylor menggelengkan kepalanya.
"Cih, baru menghadapi lawan seperti tadi saja kau sudah keawalahan". Andrew berkata dengan menghina.
Mendengar itu Taylor langsung berkata dengan marah. "Bajingan, sebelum melawan mereka aku sudah berkelahi dengan beberapa pembunuh, dan tenagaku sudah habis saat itu, jadi aku hampir kalah dari mereka".
"Lanjutkan ceritamu yang tadi". Andrew berkata lagi.
Taylor kemudian menjelaskan kembali. "Aku mengambil sebuah misi dan ternyata yang aku bunuh adalah Klien mereka, dan itu membuat mereka sangat marah"
"Jadi pemimpin kelompok pembunuh bayaran itu mencariku dan memaksaku untuk bergabung dengannya atau aku harus mati ditangannya"
"Aku menolaknya dan dia menjadi sangat marah dan langsung memasukkanku dalam daftar yang harus disingkirkan dengan cepat"
"Jadi begitu". Andrew mengangguk.
"Ngomong ngomong apakah gaji pembunub bayaran di sini sangat besar?". Andrew bertanya.
"Tentu saja, bahkan kau mungkin diberikan sebuah tambang emas atau tambang berlian sebagai imbalan". Taylor menjawab.
"Jadi begitu". Andrew mengangguk.
"Baiklah kakek tua, aku akan pergi dulu". Andrew berdiri dari tempat duduknya.
"Dasar bajingan kecil, tidak ada sopan santunnya sama sekali terhadap orang tua ini". Taylor berkata dengan kesal.
"Pergilah, jika kau terus ada di sini, kau akan membuatku semakin marah". Taylor mengusir Andrew dengan marah.
Andrew kemudian masuk ke dalam mobilnya dan menyalakan mesinnya.
*Vroom*
Sebelum dia meninggalkan kediaman Taylor, Andrew berteriak ke arah Taylor. "Sebaiknya kau pensiun kakek tua, Badanmu sudah bau tanah".
Andrew langsung menginjak gasnya dan melaju dengan kencang.
"Dasar sialan, apa kau mengutukku untuk mati hah". Taylor sangat marah.
Kemudian dia kembali masuk ke dalam rumahnya dan menyembuhkan lukanya.
__ADS_1
Sementara itu Andrew saat ini sedang menuju ke Bar High Heaven.
Setelah beberapa saat akhirnya dia tiba di Bar High Heaven, Seorang bawahan menyapanya dengan cepat.
"Bos, selamat datang"
Andrew turun dari mobilnya dan menyerahkan kunci kepada bawahan itu. "Parkirkan mobilku".
"Baik Bos". Bawahan itu dengan cepat mengambil kunci dari tangan Andrew.
Andrew kemudian masuk ke dalam Bar dan menuju ke ruangannya, dia juga menyuruh seseorang untuk memanggil Tino ke ruangannya.
Sementara itu di tempat parkir bawahan yang tadi memarkirkan mobil Andree bergumam dengan gembira. "Sepertinya aku akan naik jabatan".
....
Di ruangan Andrew saat ini Tino sudah datang dan menemui Andrew dan menyapa dengan sopan. "Bos, apakah ada sesuatu yang perlu saya lakukan?".
"Apakah Ayah Steven memberikan balasan?". Andrew bertanya.
"Saat ini masih belum ada". Tino menggelengkan kepalanya.
"Jadi begitu". Andrew mengangguk.
"Dan belikan aku komputer yang super canggih dan kirim ke sini". Andrew memberikan perintah pada Tino.
"Baik Bos". Tino kemudian pergi meninggalkan ruangan Andrew dan pergi membeli Komputer.
Kemudian bawahan yang tadi memarkirkan mobil Andrew datang dan mengembalikan kunci mobil kepada Andrew.
Sebelum bawahan itu pergi meninggalkan ruangan, Andrew menanyakan namanya. "Siapa namamu?".
"Saya Thomas Bos". Bawahan itu menjawab dengan cepat.
"Baik, kamu boleh kembali sekarang". Andrew mengangguk.
"Baik Bos". Thomas keluar dari ruangan Andrew dengan suasana hati gembira.
'Sepertinya Bos ingin memberikan pekerjaan kepadaku, makanya dia menanyakan namaku'. Pikirnya
__ADS_1
Andrew saat ini memang ingin memberikan pekerjaan padanya, dia berpikir untuk meperkerjakannya sebagai sopir untuk menjemput anak anak.