
Bab 5
Ketika tiba ditempat kakek yang sedang memancing itu, Rose bertanya dengan rasa ingin tahu. "Kakek, apakah kakek sudah mendapatkan banyak ikan?".
Kakek itu berbalik, dan ketika dia melihat Rose, dia menjawab sambil tersenyum. "Oh, gadis kecil yang imut, kakek masih belum mendapatkan apa apa".
Rose kemudian bertanya dengan wajah polos. "Kakek, bolehkah aku ikut memancing?".
Kakek itu tertawa dan berkata. "Hohoho, kamu ingin memancing juga? boleh saja".
Kakek itu kemudian memberikan sebuah pancingan beserta umpannya kepada Rose. "Pakailah pancingan ini".
Rose kemudian mengambilnya dengan bahagia. "Yay, Ayah, Rose bisa memancing juga".
Andrew yang melihat Rose sangat bahagia hanya tersenyum dan berkata. "Ya, Semoga Rose bisa mendapatkan banyak ikan".
Kakek tua yang melihat tingkah laku Rose yang menggemaskan juga tersenyum, kemudian dia berkata kepada Andrew. "Kamu memiliki putri yang menggemaskan".
Andrew tersenyum dan menjawab. "Ya, aku sangat bersyukur memilikinya".
Rose kemudian menghampiri Andrew dan berkata. "Ayah, tolong pasangkan umpannya".
Andrew mengambil kailnya dan kemudian memasangkan umpannya, setelah selesai Rose langsung melemparkan kailnya ke dalam air.
Sambil menunggu umpannya dimakan oleh ikan, Andrew berbicara dengan kakek tua itu.
Kakek tua itu bertanya kepada Andrew. "Anak muda, siapa namamu? aku baru pertama kali melihat kalian di sini".
Andrew kemudian menjawab. "Nama Saya Andrew, kami memang baru pertama kali berkunjung kesini".
Kakek tua itu kemudian memperkenalkan dirinya. "Aku Taylor".
Taylor mengamati Andrew dan kemudian bertanya kembali. "Andrew, dari yang aku lihat dari postur berdirimu, sepertinya kamu adalah ahli bela diri".
Ketika Andrew mendengar itu dia tidak terkejut, dia kemudian bertanya. "Sepertinya Tuan Taylor juga adalah seorang seniman bela diri".
Taylor pura pura bertanya. "Oh, bagaimana kamu tahu? padahal aku berdiri seperti orang normal pada umumnya".
__ADS_1
Andrew menjawab dengan santai. "Saya bisa merasakan Aura haus darah dari tubuh anda".
Mendengar itu Taylor terkejut dan dia langsung waspada. "Siapa yang mengirimu?".
Andrew menggelengkan kepalanya. "Tidak ada yang mengirim saya, saya hanya kebetulan melihat anda di sini, dan ini adalah pertama kali saya bertemu dengan anda".
Taylor mengendurkan sedikit kewaspadaannya, dan dia berkata. "Baiklah, aku akan mempercayaimu kali ini, aku tidak ingin bertarung denganmu disini karena ada putrimu".
Ketika Andrew dan Taylor saling berbicara, tidak terasa waktu sudah berlalu 1 jam. Namun Rose belum juga mendapatkan ikan.
Dia kemudian mengeluh kepada Andrew. "Ayah, kenapa aku belum juga mendapatkan ikan? padahal aku sudah lama memancing disini".
Andrew mendekatinya dan mengelus kepalanya. "Rose, memancing itu adalah untuk melatih kesabaran".
Andrew kemudian melanjutkan. "Sama seperti menjalani kehidupan, kita harus bersabar menghadapi setiap ujian yang kita terima. Jika kamu berhasil melaluinya dengan sabar, maka kamu akan mendapatkan kebahagiaan".
Andrew menambahkan. "Jika kamu tidak sabar dalam menjalani kehidupan, maka hidupmu akan mengalami kesulitan".
Andrew menambahkan lagi. "Begitu juga dengan memancing, jika kamu tidak sabar, mungkin kamu akan langsung pergi meninggalkan pancinganmu dan akhirnya kamu tidak mendapatkan apa apa".
Mendengar penjelasan Andrew, Rose langsung mengangguk mengerti. "Baiklah Ayah, sekarang Rose mengerti, Rose hanya harus bersabar".
Taylor yang mendengar perkataan Andrew langsung takjub, lalu dia menghampirinya dan berkata. "Mendengar dari perkataanmu tadi, sepertinya kamu sudah sering merasakan pahit manisnya hidup".
Mendengar perkataan Taylor, Andrew hanya tersenyum.
Setelah beberapa saat kemudian akhirnya umpan milik Rose dimakan oleh ikan, Rose langsung mengangkat pancingannya.
*Byurs*
Dan ikan yang besar kemudian muncul dari dalam air. Rose yang melihat itu langsung tertawa bahagia.
"Yay, hahaha, akhirnya aku mendapatkan ikan yang besar, ternyata benar kata Ayah, jika aku bersabar, aku akan mendapatkan kebahagiaan yang berlipat".
Rose kemudian memperlihatkan hasil tangkapannya kepada Andrew dan Taylor. "Ayah, kakek, lihatlah, aku berhasil mendapatkan ikan yang besar".
Andrew tersenyum melihat itu dan berkata. "Hebat, Rose adalah kebanggaan Ayah".
__ADS_1
Taylor juga tersenyum, lalu berkata sambil tertawa. "Hohoho, kakek juga tidak akan kalah, selanjutnya kakek akan mendapatkan ikan yang lebih besar".
Andrew kemudian menghampiri Rose dan melepaskan ikan itu dari kailnya dan memasukkannya ke dalam wadah dan memberikannya pada Rose. "Ini, ikan ini adalah milik Rose".
Rose menggelengkan kepalanya dan berkata. "Bukan, ikan ini adalah milik kakek, Rose hanya ingin membantu kakek untuk mendapatkan ikan".
Kemudian Rose mengambil wadah itu dan memberikannya kepada Taylor. "Kakek, ambillah ikan ini, ikan ini milikmu".
Taylor tersenyum dan mengelus kepala Rose, lalu dia berkata. "Karena kamu yang mendapatkannya, maka ikan ini adalah milikmu".
Mendengar itu, Mata Rose berbinar dan bertanya. "Benarkah?".
Taylor tersenyum dan mengangguk. "Ya".
Rose langsung melompat dengan gembira. "Yay, Terima kasih kakek, kakek adalah yang terbaik".
Rose kemudian berlari ke arah Andrew dan berkata dengan bahagia. "Ayah, kakek memberikan ikan ini kepadaku, jadi bisakah kita makan ikan malam ini?".
Andrew tersenyum dan mengangguk. "Ya, kita akan makan ikan hasil tangkapan Rose malam ini".
Rose kemudian memancing kembali untuk mendapatkan ikan tambahan, Namun hingga hari sudah mulai gelap, dia tidak mendapatkan ikan lagi.
Andrew kemudian mengajaknya untuk pulang. "Rose, karena hari sudah mulai gelap, bagaimana kalau kita pulang sekarang?".
Rose mengangguk. "Baik Ayah".
Rose kemudian mengembalikan pancingannya kepada Taylor. "Kakek, terima kasih karena telah meminjamkan aku pancingan".
Taylor mengambilnya dan berkata sambil tersenyum. "Sama sama, jika kamu datang kesini untuk memancing lagi, kakek akan meminjamkan pancingan padamu lagi".
Rose mengangguk dengan gembira dan melambaikan tangannya. "Baiklah kakek, kami akan pulang dulu, dadah".
Taylor juga melambaikan tangannya. "Dadah".
Kemudian Rose mengambil ikannya dan berlari ke arah Andrew. "Baiklah Ayah, kita akan pulang sekarang".
Andrew mengangguk ke arah Taylor, Taylor juga balas mengangguk. Kemudian Andrew membawa Rose ke tempat sepedanya terparkir.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian mereka tiba ditempat sepeda Andrew terparkir, Andrew membuka kunci sepedanya dan meletakkan Rose di keranjang sepedanya, Lalu dia menaiki sepedanya dan mengayuhnya menuju kerumah.