
Bab 39
Andrew berkata dengan dingin kepada Martin yang ada di dalam mobil. "Ingatlah untuk tidak memprovokasi kami lagi, Kami adalah Skull Gang."
"Thomas, biarkan dia lewat."
Thomas langsung mengalihkan mobilnya dari depan mobil Martin. Kemudian Asisten Martin langsung mengendarai mobilnya dengan cepat.
Tino menghampiri Andrew dan bertanya dengan penasaran. "Bos, kenapa tidak kita bunuh saja dia?."
"Tidak untuk saat ini, aku ingin menguras semua harta mereka untuk menjadi milik Skull Gang." Agus berkata dengan santai.
Andrew kembali menambahkan. "Dan mulai sekarang kita bukan lagi Geng Macan Tutul. Mulai hari ini kita adalah Skull Gang."
"Hidup Skull Gang."
"Panjang Umur Skull Gang."
"Hidup Bos Andrew."
Semua mantan anggota Geng Macan Tutul berteriak gembira. Mereka merayakan kemenangan serta pembentukkan Geng baru.
"Sekarang kita kembali."
Andrew berkata kepada Tino dan yang lainnya, mereka mengangguk dan langsung meninggalkan tempat itu dan kembali ke markas.
.....
Di dalam mobil, saat ini Martin sangat marah. Dia membnetank bentak dan memberi perintah kepada Asistennya.
"Penghinaan ini akan aku balas suatu hari nanti, Cari tahu identitas mereka semua. Aku ingin kamu untuk memberikannya padaku secepat mungkin."
"Baik Tuan." Asisten itu mengangguk dengan cepat.
Kemudian Martin memeriksa Kondisi Steven yang dari tadi belum bangun.
__ADS_1
"Hey nak, bangun."
Martin terus mencoba membangunkannya, Steven akhirnya membuka matanya. Namun dia tidak bisa menggerakan tubuhnya dan juga tidak bisa mengeluarkan suaranya.
Melihat itu Martin semakin marah, dia dengan cepat berkata kepada Asistennya. "Kau harus menemukan identitas mereka setelah kita sampai di rumah."
Kemudian dia berkata dengan kejam. "Aku akan membuat mereka semua menyesal, Aku juga akan membuat orang terdekat mereka akan merasakan akibatnya."
.....
Sementara itu di sebuah rumah yang sangat sederhana.
saat ini seorang wanita sedang menerima telepon dengan wajah tertekan.
[Siapkan uang seperti yang kami sebutkan sebelumnya, Jika tidak kamu akan kehilangan saudaramu untuk selamanya]. Suara dari sisi lain telepon terdengar dengan kejam.
"B... bisakah kalian memberiku waktu lagi? saat ini aku masih belum punya cukup uang untuk membayarmu." Wanita itu bertanya dengan gugup.
[Tidak bisa, kami sudah memberimu waktu seminggu dan sekarang sudah saatnya kamu membayarnya]. Suara dari sisi lain telepon terdengar marah.
"D.. dasar bajingan, aku tidak akan melakukannya." Wanita itu berkata dengan sangat marah.
[Jika begitu, kau harus mengucapkan selamat tinggal pada saudaramu]. Orang dari sisi lain telepon berkata dengan dingin.
Kemudian terdengar lagi suara jeritan dari sisi lain telepon. [Kakak, tolong aku... aku tidak ingin mati].
"Luis." Wanita itu berteriak. Kemudian dia bertanya lagi dengan cepat. "Apa yang kau lakukan dengan adikku?."
[Aku akan membunuhnya jika kau tidak memberikan uangnya besok]. Suara dari sisi lain telepon terdengar kembali sebelum akhirnya mati.
'Apa yang harus aku lakukan sekarang?'. Wanita itu terus berpikir dengan panik.
Kemudian dia ingat sesuatu. "Ya, aku harus meminta bantuan padanya."
Wanita itu mencari sesuatu dari tasnya, setelah beberapa saat dia menemukannya. Wanita itu mengeluarkan secarik kertas yang berisis nomor telepon.
__ADS_1
Kemudian dia menghubungi nomor tersebut. Setelah beberapa saat terdengar suara dari sisi lain telepon. [Halo, ini siapa ya?].
"Andrew, ini aku Olive." Wanita itu segera berkata ketika dia mendengar suara dari sisi lain telepon.
Wanita itu tentu saja Olive, Dia saat ini sedang sangat butuh uang untuk membebaskan adiknya yang di sandera oleh sekelompok preman.
Adiknya akhir akhir ini sering pulang terlambat dan juga sering marah marah tidak jelas.
Setelah di selidiki, dia mengetahui kalau adiknya telah mengkonsumsi narkoba. Dan dia juga berhutang kepada penjual narkoba itu.
Dan sekarang dia ditahan karena tidak bisa membayar hutangya. Adiknya mengatakan kepada penjual itu kalau kakaknya akan membayar semua hutangnya.
Akhirnya penjual itu menghubungi Olive untuk membayar semua hutangnya. Namun setelah semuanya terbayar lunas.
Adiknya kembali mengkonsumsi narkoba dan berhutang lagi, Hal itu membuat Olive sangat marah. Namun dia tidak bisa melakukan apa apa terhadap adiknya dan juga penjual narkoba itu.
Sekarang penjual narkoba itu berniat untuk membunuh satu satunya keluarganya. Dia tidak akan membiarkan itu terjadi, jadi satu satunya cara adalah meminta bantuan kepada Andrew.
Bantuan seperti apa yang kamu perlukan dariku?]. Suara Andrew terdengar menggoda dari sisi lain telepon.
"A.. aku butuh uang, bisakah kamu meminjamiku uang?." Olive bertanya dengan malu.
[Uang? berapa yang kamu butuhkan?]. Andrew bertanya dengan santai.
"S.. seribu Dollar." Olive berkata dengan malu.
[Seribu dollar ya? kalau boleh tau untuk apa uang itu?]. Andrew kembali bertanya.
Olive kemudian menceritakan semuanya kepada Andrew. Mendengar itu Andrew mengangguk mengerti dan berkata. [Aku akan meminjamkanmu uang, tapi aku akan ikut denganmu memberikan uang itu kepada penjual narkoba itu].
"Ba...baiklah, aku tidak keberatan". Olive mengangguk setuju.
Dia tidak keberatan Andrew ikut dengannya, Lagipula penjual narkoba itu tidak memerintahkannya untuk tidak membawa orang lain.
[Baiklah, kirimi aku alamat rumahmu... aku akan segera kesana]. Andrew berkata dengan santai.
__ADS_1
"Baik." Olive mengangguk dan mematikan telepon. Setelah itu dia mengirimkan alamatnya kepada Andrew.