
Bab 38
Sementara itu di sisi lain, Saat ini Martin dan bawahannya juga sudah tiba di dekat tempat untuk pertukaran.
Martin memandang Asistennya dan berkata. "Apakah kamu sudah menyuruh semuanya untuk bersembunyi di sekitar sini?".
"Semuanya sudah dilakukan Tuan". Asisten itu menjawab dengan hormat.
"Bagus, begitu pertukaran selesai, Kita akan langsung menangkap mereka dan membuat mereka menyesal karena telah memprovokasiku!". Martin berkata dengan kejam.
Beberapa saat kemudian dia tiba di pabrik kosong yang di janjikan. Dia melihat putranya Steven terikat dengan lemah sambil dikelilingi oleh beberapa orang.
"Sialan, beraninya dia melakukan itu pada putraku? aku akan membunuh mereka dengan tanganku sendiri". Martin ingin langsung keluar dari mobil dengan marah.
Namun dia dihentikan oleh Asistennya. "Tunggu tuan, kita harus bersabar dulu... kita harus menyelamatkan Tuan Muda dulu, baru saat itu kita bisa membunuh mereka".
Martin kembali menenangkan dirinya. "Kau benar, aku tidak boleh bertindak gegabah".
Kemudian dia keluar dari mobil bersama Asistennya dengan santai. Dia juga membawa tas yang berisi uang 100 ribu Dollar.
Martin mendekati kelompok Andrew dan bertanya. "Sekarang bisakah kita langsung saja melakukan pertukaran?".
Andrew berkata dari balik topengnya. "Berikan uangnya lebih dulu".
"Bagaimana bisa begitu? kita harus melakukannya secara bersamaan". Martin berkata dengan marah.
"Kalau begitu hitung dulu uangnya didepan kami semua". Andrew kembali berkata.
Martin pun dengan terpaksa menghitung uang yang di bawanya dengan dibantu oleh Asistennya.
Tidak butuh waktu lama, akhirnya dia selesai menghitung semuanya. Dan jumlah uang itu pas sesuai dengan diminta oleh Andrew.
__ADS_1
"Berikan dia dan ambil uangnya". Andrew menoleh ke arah Tino dan memerintahkannya.
Tino membawa Steven dan mendekat kepada Martin. Lalu dia melemparkan Steven bersamaan dengan mengambil tas yang berisi uang dari Martin.
"Sekarang kita sudah tidak ada urusan lagi kan?". Martin mencoba untuk memastikan.
"Urusan lama kita memang sudah tidak ada, Tapi sekarang kita harus menyelesaikan urusan baru". Andrew berkata dengan dingin dari balik topengnya.
"Apa maksudmu? urusan apa lagi?". Martin bertanya dengan kesal.
"Jangan berpura pura, aku tau kau telah menaruh bawahanmu di sekitar sini, jadi tidak perlu menyembunyikannya lagi". Andrew berkata dengan santai.
"Hahaha, karena sekarang kau sudah tau, maka aku akan memenuhi keinginanmu, Keluar kalian semua". Martin tertawa dengan lepas dan menyuruh bawahannya untuk keluar.
Kemudian beberapa pria besar keluar dari tempat persembunyiannya dan mengepung Andrew dan kelompoknya.
"Sekarang aku akan membuatmu menyesal karena telah memprovokasiku". Martin berkata dengan dingin.
"Kalau mereka masih belum kuat, bagaimana dengan senjata tajam yang ada di tangan mereka?". Martin bertanya dengan nada main main.
Semua bawahan Martin mengeluarkan senjata tajam. Tino berkeringat dingin setelah melihat itu, Kemudian dia berbisik kepada Andrew. "Bos, sepertinya akan banyak yang gugur kali ini, seandainya aku membawa senjata tadi, ini tidak akan terjadi".
Mendengar itu Andrew hanya berkata dengan santai. "Tenang saja, mereka semua tidak ada apa apanya, kalian semua usahakan untuk tidak mati".
"Baik". Tino mengangguk dan kemudian berbalik ke arah bawahannya. Setelah itu dia berteriak dengan keras.
"SEMUANYA KITA AKAN BERPERANG HABIS HABISAN MALAM INI"
"Hiiyyaaa"
Semuanya berteriak kegirangan setelah mendengar perkataan Tino. Mereka semua sudah siap untuk bertempur kapan saja.
__ADS_1
Martin juga memberi perintah pada bawahannya untuk menyerang.
"BUNUH MEREKA SEMUA"
"Orrraaa"
Semua bawahan Martin berlari menuju Andrew dan Gengnya sambil berteriak dan memainkan senjata tajam mereka.
Andrew memasang posisi siap bertarung, Kemudian dia menyerang lawan yang ada di depannya.
*Buk*
Andrew dengan mudah menghajar lawannya dan membuatnya jatuh terkapar di tanah.
Andrew terus menghamburkan semua lawannya di medan pertarungan. Bawahannya yang melihat itu menjadi semakin bersemangat.
Mereka akhirnya bertarung dengan gila gilaan, tidak peduli dengan lawan yang menggunakan senjata.
Asisten Martin yang melihat itu langsung mengajak Martin untuk pergi dari tempat itu dengan cepat. "Tuan, sepertinya bawahan kita akan kalah, sebaiknya kita pergi sekarang".
Martin mengangguk dan membawa Steven yang tak sadarkan diri dengannya masuk ke dalam mobil.
Andrew yang melihat itu langsung memberi perintah pada Thomas. "Thomas, cegat mereka, jangan biarkan mereka kabur".
Thomas langsung keluar dari mobil Lamborghitu dan menaiki mobil yang dibawa oleh Tino.
Karena kuncinya masih terpasang di sana, jadi dia langsung saja menyalakan mobilnya dan langsung mencegat Martin.
Setelah beberapa saat akhirnya Andrew selesai mengalahkan semua bawahan Martin, dia tidak mengalami kesulitan sedikitpun menghadapi mereka.
Tapi beberapa anak buahnya ada yang terluka dan harus dirawat di rumah sakit.
__ADS_1
Andrew kemudian mendekati mobil Martin yang berhasil dicegat oleh Thomas.