
“Ti-tidak mungkin, aku tadi meletakkan semua tombak yang telah aku buat disini. Ta-tapi kenapa semuanya hilang?.” Ray masih belum percaya akan apa yang sedang menimpanya. Ia mulai menyisihkan setiap daun yang menutupi tempat itu.
Ray terus mencarinya dengan teliti, ia memeriksa setiap tempat yang tertutup. Setelah memeriksa seluruh tempat itu ia tetap belum menemukan tombak buatannya, bahkan satupun dari sekian banyaknya tombak yang ia buat belum ia temukan juga.
Kepanikan melanda Ray, ia mulai terlihat putus asa. Jika ia harus mengulang untuk membuat tombak itu, maka Ray harus memerlukan waktu yang cukup lama karena bagian yang paling sulit dalam pembuatan tombak adalah pengikisan ujung kayu agar dapat menghasilkan ujung yang tajam dan runcing.
“Tidak mungkin jika aku harus mengulangnya lagi, aku tidak memiliki waktu yang banyak.” Ucap Ray seraya memperhatikan monster di pinggir danau yang masih minum.
“Bahkan jika aku turun untuk mengambil batu yang tadi kuletakkan di bawah pohon ini pasti akan langsung ketahuan oleh monster itu. Pendengaran yang dimilikinya sangat di luar nalar.” Mengetahui kondisinya sekarang, Ray hanya dapat terdiam dan mengamati pergerakan monster itu.
“mengapa aku selalu mengalami kesulitan yang diluar kemampuanku. Bahkan aku yang sudah hidup kembali ini masih mengalami penderitaan, aku pikir aku akan mendapatkan kehidupan yang bahagia. Jika aku tau aku akan bernasib seperti ini, aku tidak akan mau untuk dibangkitkan lagi.” Ucap Ray sambil menangis di atas pohon.
Ray terduduk dengan kepala menunduk dan terlihat sangat menderita. Ia hanya dapat menangis sambil menunggu monster yang ada di seberang danau datang kembali untuk menyerangnya lagi.
Dari posisinya yang tadi menunduk kebawah menatap dahan kayu besar yang didudukinya , Ray perlahan melihat kebawah pohon dan melirik ke arah depan. Seketika itu ia terkejut bercampur bahagia.
Ray tidak percaya akan apa yang barusan ia lihat. Untuk memastikannya lagi, ia kembali menatap tajam ke bagian depan bawah pohon yang ia singgahi. Raut wajah Ray yang tadi terlihat lesu dan putus asa berubah menjadi raut wajah bahagia. Bagaimana tidak, seluruh tombak buatannya itu terjatuh tepat dibawah ujung dahan pohon tempat iya dulu menyimpan tombak tombak itu.
“A-aku pikir seluruh tombak itu akan hilang dan tak akan pernah ditemukan lagi. Ternyata mereka semua terjatuh kebawah.” Ucap Ray sembari tertawa pelan.
__ADS_1
Ia mengusap matanya yang basah dan kembali bersemangat. Ray melihat ke arah monster untuk memastikan jika dia belum bergerak dan berjalan datang ke bawah pohon untuk menyerangnya.
‘Apa aku bisa sempat mengangkut semua tombak yang terjatuh itu ke atas pohon ini?. Jika diperhatikan kemungkinan peluang untuk berhasil itu cukup sedikit. Aku harus mencari cara agar dapat mengalihkan perhatian monster itu.’ Batin Ray bermonolog sembari memikirkan cara untuk membawa tombak itu keatas pohon.
Selama Ray memikirkan cara, Monster yang berada di pinggiran danau terlihat masih asik berdiri menatap air yang membasahi kakinya. Dengan pelan, Monster itu meregangkan jari jarinya didalam air dan asik memperhatikan kakinya yang mulai masuk ke dalam pasir putih.
Setelah cukup lama berdiri di dalam air, sang monster mulai bergerak maju ke bagian air yang lebih dalam lagi. Terlihat bahwa makhluk itu merendamkan seluruh tubuhnya kedalam air seperti sedang membersihkan tubuhnya.
Dari awalnya hanya berendam, makhluk itu mulai terlihat menggerakkan tubuhnya ke kanan dan kiri lalu menggaruk badannya menggunakan kaki belakang. Sama seperti halnya ular biasa yang tidak dapat bertahan lama jika seluruh tubuhnya masuk kedalam air, ekor monster yang berbentuk ular tersebut hanya masuk hingga lehernya saja.
Ditempat lain, Ray yang berada di atas pohon masih saja sibuk memikirkan cara untuk mengalihkan perhatian monster tersebut sambil menutup kedua matanya. Ia tidak dapat melihat apa saja yang telah monster itu lakukan selama dirinya berfikir keras.
Sesudah itu, monster tersebut berjalan ke arah barat menjauhi lokasi Ray. Ia berjalan ke bawah pohon kelapa yang pernah Ray ambil buahnya lalu menidurkan badannya dibawah teduhan pohon tersebut. Karena cuaca di tempat itu sangat bagus, sang monster akhirnya tertidur pulas ditemani hembusan angin lembut yang begitu sejuk.
Di sisi lain Ray masih saja sibuk memikirkan cara hingga ia tidak sadar bahwa monster yang sedari tadi di dalam danau sudah tidak ada lagi.
“Ha?, aku sudah tau bagaimana cara mengalihkan perhatian monster itu.” Ucapnya sembari membuka kedua mata yang sedari tadi tertutup lama.
Seketika ia mematung sejenak ketika pandangannya mengarah ke arah danau. ‘Lah?, kemana perginya makhluk besar itu?. Bukannya barusan dia masih berada didalam air itu yah?.’ Batin Ray bertanya.
__ADS_1
Karena kehilangan jejak, Ray pun mulai merasa panik karena ia tidak tau arah perginya monster tersebut. Ia beranjak berdiri dan mencari dari ketinggian pohon yang ia singgahi.
‘Kenapa aku sangat ceroboh, sekarang makhluk besar itu sudah pergi dan aku tidak tau kemana perginya dia. Seharusnya aku harus lebih memperhatikannya, karena bisa gawat jika makhluk itu mulai mencari cara untuk menangkapku.’ Dalam hati Ray menyimpulkan keadaan yang terjadi.
Seluruh lokasi bagian depan Ray amati secara teliti, namun ia belum menemukan kemana perginya monster tersebut. Di saat seperti ini Ray tidak dapat berbuat banyak lagi dan dipikirannya hanya dapat menunggu monster tersebut untuk keluar dan mendekatinya.
Di saat Ray mulai terlihat putus asa mencari lokasi monster tersebut, ada sebuah hal yang tak terduga yang Ray temukan.
“Bukannya itu tapak kaki makhluk jelek itu yah?.” Ucap Ray sembari kedua tangannya di lekukkan seperti sedang memegangi sebuah teropong.
“Iya benar!, itu adalah jejak tapak kakinya. Dari jejak kakinya, sepertinya monster itu mengarah ke sisi kiriku.” Pandangan Ray mengikuti arah jejak monster tersebut.
“Itu dia!.” seru Ray dari atas pohon. Seketika Ray mulai mengambil sikap duduk kembali dan memandangi monster tersebut dari atas pohon.
“Sepertinya monster itu lagi beristirahat. Mungkin dia sedang kelelahan karena dari tadi hanya menggoyang pohon sebesar ini cukup lama.”
Melihat kondisi makhluk itu, Ray memperlihatkan senyum liciknya. Akhirnya ia dapat menjalankan aksinya tanpa diganggu oleh monster tersebut.
“Tanpa melakukan tindakan pengalihan yang akan membuatku kelelahan, mungkin ini adalah waktu yang terbaik untuk mengangkut semua tombak yang terjatuh tadi ke atas pohon ini.”
__ADS_1
Tanpa berfikir panjang, Ray secara perlahan turun dari atas pohon. Sesampainya di bawah ia langsung berjalan dengan sangat pelan agar tidak menimbulkan suara sekecil apapun supaya tidak membuat monster tersebut terbangun.