Reinkarnasi Ke Dunia Lain

Reinkarnasi Ke Dunia Lain
Ray kecil


__ADS_3

‘Uh … ke-kenapa hatiku terasa sesak, hanya cerita seperti itu dapat membuat dadaku terasa sakit.” Benar saja, ia kembali meremas pakaian di bagian dadanya itu dengan keras. Wajah yang hanya dapat tersenyum itu akhirnya terbungkam dengan raut wajah sedih.


“Tapi yasudahlah, mungkin jika dia masih hidup aku akan selalu bergantung pada dirinya. Dari awal kami dekat dan menjadi seorang sahabat aku selalu bergantung pada dirinya. Apa kamu tau kejadian ketika anak atlet ingin merundungku?. Diwaktu itu Kibou datang menolongku, dan disaat itu juga duniaku terasa berwarna. Mulai dari waktu itu juga aku tidak pernah mengalami kemalangan, yang dipikiranku hanya ada dia dan kebahagian yang akan selalu hadir dalam hidupku.”


Semakin Ray menceritakan akan kebahagiaan yang ia dapat dari Kibou, semakin sesak pula dada sosok yang bersamanya itu. wajah tangis itu mulai terisyaratkan dengan jelas dan bahkan jika ia mau, ia bisa saja menangis dan berteriak dengan sangat kencang. Tapi ia hanya dapat menahan dan terus menahannya.


“Apa maksud dari kata ‘mungkin jika dia masih hidup’ yang kau ucapkan!. Apa dirimu tidak pernah menginginkan dirinya?”.


Walau sosok itu mengucapkannya dengan nada lembut dan datar, ia sudah begitu sangat marah dan ingin mengeluarkan apa yang sekarang ia pikirkan saat itu juga.


“Bukan maksudku aku tidak menginginkannya, bukankah tadi aku sudah bilang bahwa duniaku berwarna saat bertemu dengannya?. Maksud dari kalimatku yang kau ulang tadi itu hanya sebuah kiasan semata. Disaat bersamanya , aku tidak lagi berfikiran tentang kerasnya dunia ini. Tapi setelah ia pergi, baru aku menyadari bahwa begitu keras dan kejamnya dunia dan kenyataan yang kujalani. Jadi … kepergiannya memberikanku kenyataan yang sebenarnya tentang hidup ini”. Ujar Ray dengan nada tenang dan sedikit senyuman di akhir kalimatnya itu.


Dengan perlahan suasana hati sosok misterius itu kembali tenang. Walau masih merasa sedih, ia tetap berusaha untuk kembali seperti pertama kali bertemu Ray. Seperti biasa ia kembali berdiri dan langsung berjalan mendekati Ray yang masih tetap kukuh dengan pendiriannya untuk tidak bergerak bangkit dan membuka matanya.


“Ini yang terakhir aku bertanya kepadamu, jika memang kamu tidak mau … tidak apa-apa, aku tidak akan memaksamu lagi.”


Mendengar perkataan sosok yang belum Ray ketahui siapa dia sebenarnya membuatnya tertegun sejenak. Kadang kala dibenak Ray muncul keraguan, dan terkadang juga ada sedikit dorongan untuk dirinya membukakan matanya.


‘Aku sebenarnya masih ragu untuk membukakan mata ini, karena setiap kali aku membukanya akan ada hal buruk yang akan menimpaku. Aku takut jika harus merasakan sakit lagi, ta-tapi aku juga tau tugas yang telah diberikan kepadaku.’ Batin Ray bersungut.


“Sudah berapa kali kukatakan, hanya ada aku dan kamu disini. Coba pikir, bagaimana kamu bisa tersakiti atau kembali menderita jika hanya kita berdua. Tapi ya sudah jika kamu memang tidak mau, aku tidak bisa memaksanya karena itu adalah pilihanmu. Kalau begitu aku akan pergi, selamat tinggal…” Ucap sosok misterius yang sudah pasrah dengan keputusan Ray.


Dengan langkah kaki yang tidak terlalu cepat, sosok itu berjalan meninggalkan Ray yang masih terbaring dibelakangnya.

__ADS_1



“Kenapa kamu pergi, aku tidak mengatakan jika aku tidak mau untuk membuka mataku.” Panggil Ray dari belakang sosok misterius yang berjalan untuk meninggalkannya.


Sontak sosok misterius itu terkejut dan menghentikan langkah kakinya, ia tidak menyangka jika Ray yang keras kepala itu akan membuka kembali matanya.


“Aku ingin bertanya sekali lagi, siapa kamu sebenarnya?” Tanya Ray untuk terakhir kalinya.


“Akhirnya kamu membuka matamu, padahal aku sudah putus asa untuk membujukmu agar dapat bangkit lagi. Memang awalnya aku merasa usahaku sia-sia, tapi diakhir terbalaskan juga” Ucap sosok itu dengan senyuman tipis dibibirnya.


“Kamu belum menjawab pertanyaanku.” Tegas Ray sekali lagi.


Tanpa menjawab pertanyaan Ray, sosok itu hanya memutarkan badan dan berbalik menghadap Ray.


Melihat rupa asli sosok misterius itu, seketika Ray hanya dapat membelalakkan kedua matanya melihat sosok yang selama ini membuat dirinya penasaran. Tidak ada kata-kata lain yang dapat dirinya ucapkan selain kata “Ka-kamu?.”


“Kamu a-adalah diriku?” Tanya Ray yang masih tidak percaya akan apa yang dirinya lihat.


“Seperti yang kamu lihat, akan tetapi sekarang wajah kita sudah sedikit berbeda bukan?. Kamu yang sekarang sudah lebih dewasa dan tangguh dari aku yang sekarang ini.” Melihat Ray yang sekarang membuat dirinya cukup senang.


“Ta-tapi kenapa?.” Tanya Ray lagi.


“Tapi kenapa apanya?, apa yang kamu lihat yang sekarang ini benar adanya. Tidak ada yang namanya peniru, Fatamorgana atau Dejavu diantara kita saat ini.”

__ADS_1


“Bukan itu maksudku, aku bertanya kenapa diriku waktu masih berumur enam tahun ada disini?. Tanya Ray kembali.


“Coba ingat hal apa yang membuatku bisa ada disini.” Tantang Ray kecil.


“Apa maksudmu?, aku tidak tau hal apa yang membuatmu ada disini. Aku tidak paham tentang hal itu, sekarang saja aku masih bingung dengan apa yang kulihat saat ini.” Ujar Ray kebinggungan.


“Bukankah kau yang meminta untuk ditolong?.”


Mendengar ucapan dari dirinya waktu masih kecil membuat Ray kembali terkejut. Ia hanya bisa mematung dengan pikiran yang kembali ke saat dirinya terjebak kabut hitam yang menelan dirinya.


“Kamu sendiri yang meminta untuk ditolong saat itu. Pada waktu itu tidak ada yang bisa menolongmu selain aku, tubuhmu sudah ingin mati. Ketika aku melihatnya, aku berpikir sia-sia jika aku menyelamatkanmu dari kabut durjana yang sudah menyelimuti tubuhmu. Akan tetapi ketika aku melihat dirimu, eh … bukan maksudku diriku yang dewasa mengucapkan kalimat terakhirnya, akupun langsung menarikmu dari kabut durjana dan membawamu ketempat ini. Disini kabut itu tidak akan bisa menyentuhmu.” Jelas Ray kecil pada Ray dewasa.


Mendengar penjelasan itu, Ray kembali mengingat bahwa dirinya meminta pertolongan disaat dirinya tidak mampu lagi untuk bergerak. Ia melihat kedepan dan menunduk dihadapan dirinya yang masih kecil.


Melihat dirinya yang dewasa menundukan kepala kepada dirinya (dirinya yang dimaksud yaitu Ray kecil) sontak membuatnya kaget.


“A-apa yang kamu lakukan, kenapa kamu menunduk. Cepat! angkat kepalamu.” Ucap Ray kecil panik.


“Ini adalah tanda ucapan terimakasih banyak, jadi terimakasih sudah menyelamatkanku dari maut yang menyerangku.” Ucap Ray dewasa yang masih menundukkan kepalanya.


“Hah … hm … Argh … baiklah, aku menerima ucapan terimakasihmu, sudah angkat kepalamu. Tidak enak dilihat jika terus begitu.”


“Hah… baik.” Ucap Ray dewasa tersenyum dengan tangan kanannya menggaruk kepalanya.

__ADS_1


Walau terlihat masih kecil, Ray kecil terlihat begitu malu dengan apa yang Ray besar lakukan.


“Lebih baik kamu jangan terlalu sering menunjukkan sisi lembutmu pada orang lain, terkadang orang-orang disekitarmu juga akan mulai mempermainkan kepolosanmu. Dan disaat itu kamu akan tau bagaimana sakitnya seluruh kebaikanmu akan dibalas dengan kejahatan.” Tegur Ray kecil pada dirinya yang dewasa itu.


__ADS_2