Reinkarnasi Ke Dunia Lain

Reinkarnasi Ke Dunia Lain
Melaksanakan tahap strategi pertarungan


__ADS_3

Dengan perlahan, Ray berjalan di atas pasir. Ia melangkah ke arah semak dimana Monster itu pertama kali keluar. Tanpa suara Ray juga mengamati sekelilingnya untuk berjaga jaga jika monster itu secara tiba-tiba keluar dari sisi lainnya.


Berkat cahaya bulan malam yang begitu terang, Ray dapat berjalan dan melihat tanpa kesulitan.


‘Semoga monster itu tidak keluar. Jika itu terjadi, aku tidak akan bisa lari. Huh… tubuhku terasa bergetar, aku terlalu takut sampai-sampai bulu kudukku berdiri.’ Dalam batin Ray.


Setelah mendekati semak tempat persembunyian monster itu, Ray mulai mengambil beberapa kayu yang tergeletak di dekatnya. Ia bersiap siap untuk melempar kayu tersebut kearah semak.


‘Baiklah akan aku lakukan. Sekarang aku hanya akan melemparkan sesuatu kearah semak itu, lalu berlari sekuat tenaga jika monster itu keluar.’ Ray yang menyimpulkan dalam hati.


Dengan sekuat tenaga, Ray melemparkan satu potong kayu yang ia ambil tadi kearah semak.


“Srak…” Bunyi lemparan kayu yang mengenai semak.


Setelah kayu dilemparkan, Ray berlari dengan cepat kebelakang. Sudah cukup jauh berlari, akan tetapi ia terhenti karena merasakan tidak ada yang mengejarnya. Ray kembali berbalik dan melihat kearah belakangnya.


‘Kenapa monster itu tidak mengejarku?.’ Tanya Ray dalam hati


“Baiklah akan kucoba sekali lagi untuk memancingnya keluar.” Ray kembali berjalan mendekati Tempat persembunyian monster tersebut.


“Srak” sekali lagi dengan cepat, Ray berlari kebelakang. Akan tetapi, langkahnya terhenti lagi karena masih belum ada yang mengejarnya.


“Dasar monster aneh, aku sudah melemparnya dua kali tapi masih belum direspon.” Ucap Ray dengan nada kesal.


“Jika hanya melempar kayu tidak bisa memancingnya keluar, maka aku akan berteriak memanggil monster sialan itu.” dengan kesal Ray berjalan kearah semak. Sesampainya disana, ia membuat sebuah keributan yang menurutnya cukup untuk menarik monster itu keluar.


“Srak”


“Oi monster jelek, keluar!. Aku disini menantangmu untuk bertarung.” Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Ray masih berdiri dan menunggu respon monster itu.

__ADS_1


Waktu berjalan cukup lama, akan tetapi tidak ada tanda-tanda jika monster itu ingin keluar.


‘Dasar makhluk sialan, aku sudah lelah menunggu disini untuk memancingnya keluar tapi tetap belum keluar juga.’


Tanpa menunggu lagi, Ray bergerak untuk mencari sesuatu yang akan digunakan untuk dilemparkan kearah persembunyian monster tersebut.


“Baiklah aku akan menggunakan Batu ini, jika kayu tidak berpengaruh terhadapnya, setidaknya batu ini dapat membuatnya merasa sakit.” Ucapnya sambil tersenyum tipis.


Ketika Ray ingin mengambil batu itu, tanpa sepengetahuannya Monster tersebut telah berada tepat dibelakang Ray.


“Kenapa tiba tiba ada angin hangat yang berhembus dari belakangku yah?. Ahhh…. tidak mungkin monster jelek itu ada dibelakangku sekarang.”


Ray yang dengan santai menggali batu akibat tertimbun oleh tanah tidak menyadari jika angin hangat yang ia rasakan adalah nafas yang dikeluarkan oleh monster tersebut.


“Gali gali gali tut tut tut…” Ray yang dengan santai menyanyikan lagu konyol sambil terus menggali.


“Tunggu, kenapa anginnya semakin hangat yah. Dan juga tekanan udara yang diberikan sangat berbeda dengan tekanan udara biasanya.”


Ray yang sudah sadar akan hal aneh tersebut mulai melirik kearah belakang secara perlahan. Tanpa diduga duga wajah Ray langsung berhadapan dengan monster tersebut dan seketika itu pula kepanikan bercampur dengan keringat yang luar biasa datang melanda Ray.


‘Eh…, dari tadi mon-monster ini sudah ada dibelakang ku!” Ucapnya sambil menelan ludah.


Tanpa berfikir panjang Ray mengambil segenggam pasir dan langsung melemparkannya ke wajah monster itu. Melihat sang monster yang sedang kesakitan akibat pasir yang masuk kedalam matanya, Ray langsung berlari sekuat untuk menghindar.


“Sialan!, kenapa dia tiba-tiba muncul tepat dibelakangku sedangkan dari tadi aku berusaha melemparkan kayu untuk memancingnya keluar tapi dia tidak merespon sama sekali. Dan sekarang kenapa harus muncul diwaktu yang tidak tepat.”


Setelah mengumpat, Ray hanya fokus berlari tanpa memperdulikan seluruh halangan yang menghalangi langkahnya.


Semakin lama langkah Ray semakin cepat, ia memasuki tempat yang ditutupi oleh pepohonan agar dapat mudah menghindar dari kejaran monster tersebut. Akan tetapi itu semua tidak berpengaruh pada kecepatan lari makhluk itu.

__ADS_1


Semua benda yang menutupi jalannya baik pohon yang menghambat di tumbangkan menggunakan kepalanya dengan mudah. Melihat itu, mulut Ray terbuka lebar sambil terus berlari kencang.


‘Bukan, dia bukan monster melainkan mesin pembunuh…’ Ucap Ray panik dalam hati. Setelah cukup lama dikejar, Ray langsung memusatkan tujuannya kearah pohon yang ia gunakan untuk berlindung.


“Aku harus bisa memanjat ke atas pohon itu dengan cepat” sebentar Ray melirik kebelakangnya untuk memastikan bahwa jarak antara monster tersebut cukup jauh dari jaraknya yang sekarang.


“Baiklah, akan kutunjukkan keahlianku dalam memanjat pohon makhluk sialan!.” Ia tersenyum licik meremehkan makhluk yang ada dibelakangnya.


Dengan kuat kedua kaki Ray mendorong tubuhnya keatas pohon. Tidak tepat ke puncak pohon, Ia hanya mendarat di pertengahan batang pohon dan dengan cepat kedua tangannya bergerak menggenggam pelepah pohon itu. Ray memanjatnya seperti gerakan kecoak.


Sesampainya di atas, Ray berdiri dan melirik kebawah pohon. Ia melihat bahwa monster itu mengamatinya dari bawah.


“Uwek… kejar aku monster bodoh, aku di atas sini. Ha ha ha… kamu pikir aku ini manusia yang tidak punya otak?.”ucapnya sembari memasang wajah meledek kearah monster itu.


Akan tetapi, ada suatu hal yang belum Ray pahami dari apa yang ia lihat selama monster itu mengejarnya.


“Kamu pikir bisa memanjat kesini?, lihatlah batang pohon ini bahkan lebih besar dari tubuhmu itu makhluk sialan.”


Secara perlahan, monster tersebut melilitkan ekor panjangnya yang berbentuk ular ke batang pohon yang Ray panjat. Dan dengan sekuat tenaga, monster itu menggoyangkannya.


“ke-kenapa dia bisa menggoyang pohon sebesar ini?.” Teriak Ray kencang dengan keadaan kedua tangan memeluk pohon sekuat tenaga.


“Sudah… sudah cukup, aku tadi hanya bercanda. Aku tidak bermaksud membuatmu marah, aku hanya butuh nyawamu saja!. Eh tunggu, emang kalau aku bilang seperti ini dia bakal mau berhenti menggoyangkan pohon ini yah?.” Ucap Ray memikirkan kalimat bodoh yang keluar dari mulutnya.


“Ahhh, aku sudah gila. Aku malah mengajak makhluk yang tidak berotak itu untuk berkompromi. Tapi kumohon hentikan monster sialan, aku tidak tau lagi dimana tempat untuk bersembunyi jika pohon ini tumbang.” Ray hanya berteriak pasrah dengan keadaan yang menimpanya sekarang.


Semakin lama, semakin kencang makhluk itu menggoyangkan pohon yang ditumpangi Ray, bahkan Terlihat jelas bahwa pohon itu akan roboh jika digoyang terus menerus.


‘Kepalaku mulai pusing, bahkan aku ingin muntah. Aku tidak tahan lagi menahannya.’ Akhirnya Ray memuntahkan seluruh yang ada di dalam perutnya tepat di atas kepala sang monster.

__ADS_1


__ADS_2