
Bayangan Ray hanya terpaku pada dada sang monster, karena tujuan utamanya sekarang ialah Kristal yang melekat di dada monster tersebut.
‘Bagaimana sekarang aku harus melawannya, menggunakan senjata dengan jangkauan jauh saja sangat sulit untuk menghancurkan intinya, apalagi dengan belati pendek seperti ini.’ Batin Ray bersungut.
Kini Ray mengalami kesulitan mencari jalan keluar. disisi lain sang monster Nue masih saja mengendus tanah bekas Ray terjatuh tadi, sesering apapun makhluk itu mengendus untuk melacak Ray tetap saja tidak menemukan aroma yang ia inginkan.
‘Tidak ada cara lain selain melawannya dengan jarak dekat, mungkin menghadangnya di jarak yang dekat dapat memberiku kesempatan untuk menghancurkan intinya secara langsung.’ Hanya kesimpulan itu yang Ray dapatkan, selain itu dirinya juga sudah siap dari awal untuk berduel dengan sang monster.
Sekali lagi Ray bergerak dengan perlahan untuk melihat situasi dibalik batang pohon tempat persembunyiannya, monster itu hanya terlihat bergerak seperti biasa. Karena merasa masih aman, Ray kembali ke posisi semula.
Pria itu keheranan karena kelakuan sang monster yang tiada henti mengendus tanah tempat dirinya terduduk tadi.
‘Sudah dari tadi dia mengendus tapi belum dapat melacakku?, apa jangan-jangan penciuman makhluk itu rusak?, atau jangan-jangan dia memang tidak pintar dalam melacak?.’
Setelah pria itu bertanya pada dirinya sendiri, seketika pikirannya terbawa ke hal yang mungkin tidak terpikirkan sama sekali.
“Hush.. hush..”
Ray mengendus dirinya sendiri untuk memastikan apa yang selah dengan aroma tubuhnya, mulai dari lengan tangan dan juga pakaian yang ia gunakan diendusnya, sampai pada bagian akhir yaitu ketiaknya juga diendus untuk memastikan kebenaran yang ada dipikirannya saat ini.
‘Ternyata benar!... aroma tubuhku tidak menunjukkan bau tubuh manusia, entah kenapa bau yang kucium di sekujur tubuh ini sama persis dengan bau air danau bercampur bau tanah. Jangan-jangan makhluk itu kebingungan untuk memastikan bau yang ia dapatkan di tempatku. Didalam pikirannya mungkin merasa keliru karena aroma yang berbeda dari penciuman biasanya tidak ada sama sekali sehingga ia mengalami kesulitan.’
Merasa bahwa dirinya masih aman, Ray kembali menatap belati itu untuk kesekian kalinya. Terkadang ia juga menghela nafas panjang karena rencana didalam pikirannya sedang buntu. Bukan berarti jika dia akan menyerah, hanya saja Ray masih belum yakin apa bisa mengalahkannya.
Cuaca di dalam kubah masih tetap sama, awan merah yang terlihat mendung dengan disertai petir yang terkadang menyambar. Angin juga kadang berhembus dan kadang juga tidak ada sama sekali, bagi Ray kini tempat itu terlihat seperti neraka. Hanya saja bedanya dengan neraka adalah suhu di dalam kubah masih tetap sejuk.
Kembali ke Nue yang masih belum menemukan Ray bersembunyi, kini monster itu sudah tidak tahan lagi.
__ADS_1
“GROAR…”
Nue kembali mengaum lebih keras, diikuti dengan petir yang ikut menyambar dari langit. Karena merasa mangsanya masih didalam persembunyiannya, Nue mengeluarkan skill khusus miliknya yaitu [Blasting Magic Dance].
Skil ini akan mengeluarkan 20 Magic Boom berwarna merah yang akan menyebar kemana saja secara acak. Ketika serangan ini diluncurkan maka akan terlihat seperti tarian cahaya yang begitu indah. Setelah bulatan cahaya itu menyentuh tanah maka akan menghasilkan ledakan cukup besar, dari ledakan itu akan menghasilkan api yang akan membakar tempat ia diluncurkan.
“Syiu…”
Mendengar suara itu, Ray merasa ada hal yang aneh. Dirinya kembali mengintip dari balik batang kayu untuk melihat apa yang dilakukan oleh monster itu sekarang.
“Hah?... butiran cahaya apa itu?.” Ucap Ray ketika dirinya melihat butiran cahaya merah yang berada diatas tanduk sang monster tersebut.
Setelah energi yang dikumpulkan sudah cukup, dalam hitungan detik secara bersamaan seluruh Magic Boom diluncurkan ke atas dan disitulah Ray melihat bahwa cahaya itu mulai menyebar ke segala arah.
Pandangan Ray masih terkagum melihat keindahan caya merah yang dilepaskan itu, dirinya masih belum tau jika cahaya cantik yang menyebar itu adalah sebuah bencana yang dapat membunuhnya dengan cepat.
“Duar…”
Secara reflex tangan kanan Ray langsung menutupi kedua matanya, 5 detik berlalu kini Ray membuka mata dan menyaksikan apa yang terjadi barusan. Dirinya hanya tercengang melihat ledakan besar barusan, dan kini setiap tempat yang di datangi cahaya merah itu juga terdengar ledakan yang sama.
Tubuh Ray bergemetar lihat pemandangan yang terjadi, semuanya telah hancur dan terbakar hangus. Untungnya dari 20 Magic Boom yang diluncurkan tidak ada satupun yang datang ke tempat Ray bersembunyi.
“Ba-bagaimana bisa?, serangan tadi… serangan macam apa itu?” Ucapnya dengan nada gemetar.
“Syiu…”
Terdengar kembali bunyi yang sama ketika Magic Boom di luncurkan, dengan tubuh yang masih merasakan rasa takut, secara perlahan bergerak untuk melihat kembali apa yang monster itu lakukan. Dibenak Ray kini serangan kedua akan diluncurkan untuk menyapu bersih tempat itu agar dirinya dapat keluar dari persembunyiannya.
__ADS_1
Benar saja, [Skil : Blasting Magic Dance] milik monster tersebut diluncurkannya lagi. Ray kembali menyaksikan butiran cahaya merah di luncurkan kesegala arah, sialnya salah satu dari cahaya merah itu melesat cepat tepat ke tempat persembunyiannya sekarang. Tanpa berfikir panjang, Ray mendorong tubuhnya ke sebelah kanan untuk menghindar.
“Bruk… Srak…”
Tubuhnya kini terjatuh dan terbentur diatas permukaan tanah, kedua tangannya kini berada diposisi memegang kepalanya agar menghindari cedera dibagian kepala.
“Duar…”
Ledakan itu terdengar jelas ketelinga Ray dan membuat pendengarannya kini berdengung.
“Hah.. hah.. hah..”
Nafas berat keluar dari mulut Ray, jantungnya kini ikut berdegup kencang. Ray tidak tau jika sang monster memiliki serangan seperti itu, dirinya hanya dapat memandang seluruh area telah hancur.
“Groar!...”
Ruaman terdengar kembali, monster itu kini telah melihat Ray keluar dari persembunyiannya. Tanpa memberi belas kasih, Nue menembakkan satu serangan ke arah Ray.
“Zrip… Duar!...”
Serangan itu meledak tepat dimana Ray tadi terjatuh lemas, asap hitam masih mengepul tebal di tempat ledakan terjadi. Selang beberapa saat asap itu mulai menghilang dan ditampilkan Ray yang sedikit terkena serangan. Tangan kirinya kini terluka cukup parah, darah mengalir dari luka itu.
“Hah… hah…”
Nafas berat itu kembali terdengar walau kini lebih berat dari biasanya, tubuhnya mulai mati rasa dan kesadarannya kembali memudar. Awalnya Ray memiliki tekat untuk mengalahkan sang monster, akan tetapi dirinya kini telah menyaksikan hal yang tidak ia ketahui sebelumnya.
‘Kenapa… kenapa jadi seperti ini!, apa yang terjadi dengan semangatku. Sekarang aku kehilangan harapan, bahkan tubuh sulit untuk berkerak. Luka ini terasa begitu parah, saking parahnya aku tidak bisa merasakan tangan kiriku.’ Gumam Ray yang kini hanya dapat berdiri dekat dengan ledakan terjadi
__ADS_1