
Disaat Ray ingin menggenggam dahan yang lain menggunakan tangan kirinya, secara tiba-tiba tangan kanan yang masih memegang dahan terlepas. Merasa bahwa akan terjatuh, dengan reflex tangan kiri Ray langsung memegang dahan yang berada dibawahnya.
‘Huh… selamat, untung aku masih bisa berpegangan dengan dahan ini karena jika tidak, bisa-bisa aku terjatuh kebawah dan membangunkan monster itu.’
Merasa bahwa keberuntungan berpihak padanya, Ray kembali memfokuskan diri untuk menggenggam dahan teratas.
‘Akhirnya aku bisa.’ Batin ray seraya tersenyum tipis dengan mata yang berbinar.
Dengan sekuat tenaga, ia mengangkat tubuhnya ke atas pohon. tidak memerlukan banyak waktu, akhirnya Ray sampai di atas pohon dan dengan segera melepas ikatan akar pohon yang melilit pada lingkaran pinggangnya lalu meletakkan buah kelapa berdekatan dengan tombak.
“Akhirnya aku bisa sampai di atas ini.” Ucap Ray dengan nada pelan sembari membaringkan tubuhnya di permukaan dahan kayu yang cukup lebar dan kuat sehingga dapat menopang tubuh Ray.
“Apa aku bisa melanjutkan rencana ini dengan baik, karena begitu sulit bagiku untuk membulatkan tekat ini. Ketika aku ingin menjalankannya, disaat yang bersamaan ada keraguan besar yang secara tiba tiba tersemat dalam tekat yang telah aku buat.”
Ray memandangi langit biru yang cerah dengan awan tipis yang bergerak lambat melintasi titik pandang nya. Ia mengangkat tangan kanannya ke atas dengan jari-jari terbentang melebar hingga ia mulai mengintip dari sela-sela jarinya itu.
“Aku penasaran bagaimana keadaan ayah dan ibu di sana, apa mereka baik-baik saja. Ah… sudah kedua kalinya aku mengatakan kalimat yang sama ini, tapi… aku sangat merindukan mereka terutama untuk satu makhluk yang selalu menggangguku dirumah.” Setelah mengucapkan kalimat tersebut, tanpa ia sadari air mata keluar melintasi pipi untuk terjatuh meninggalkan tempat ia terbendung.
Secara perlahan ia mengusap air mata yang membasahi kedua pipinya, angin berhembus dengan pelan dan menyandung beberapa daun yang sudah menguning sehingga membuatnya terjatuh dan mendarat tepat di pipinya yang basah.
“hah… sudahlah, menangis bukanlah satu-satunya cara untuk menyelesaikan masalah.”
Karena merasa lapar, Ray kembali duduk dan berjalan ke arah buah kelapa yang sudah ia ambil dari bawah.
__ADS_1
‘Untuk saat ini aku hanya bisa memakan buah ini lagi karena di sekitar sini hanya buah ini saja yang tumbuh dan dapat dimakan, walaupun aku tidak terlalu suka dengan buah ini tapi untuk bertahan hidup aku hanya dapat menyantapnya.’
Setelah melepasnya dari ikatan akar pohon, Ray mengambil satu tombak buatannya dan membelah buah kelapa itu menggunakan ujung tombak yang runcing. Dengan santai ia menyantap hidangan yang sudah tersedia dihadapannya sembari memandang lurus ke depan melihat genangan air yang cukup luas.
‘Andai saja ada ikan yang hidup di air sana, mungkin aku sudah memburunya dan mengumpulkan banyak untuk kusantap.’ gumam Ray dengan tangan kanannya sibuk mengorek daging kelapa.
Waktu pun menjelang sore, Ray yang sudah mengisi kembali perutnya yang kosong kembali membereskan seluruh alat yang akan ia gunakan untuk bertempur melawan monster yang sedang tertidur.
“Aku harus menyerangnya hari ini juga, karena sore dan malam adalah waktu yang sangat bagus untuk melaksanakan pertarungan. Ketika bertarung didalam kegelapan, aku bisa menyerangnya dari berbagai arah dan pastinya juga monster tersebut tidak akan melihat keberadaanku pada malam hari.” Ucapnya sembari mengikatkan seluruh tombak pada bagian punggungnya.
Setelah seluruhnya telah siap, ia kembali turun kebawah untuk membangunkan makhluk itu. Dengan tombak yang telah berada di punggungnya.
“Jika nanti monster itu secara tiba-tiba menyerangku, maka dengan cepat aku dapat menarik tombak ini dan bertarung dengan jarak dekat. Itupun kalau aku memang tidak sempat memanjat ke atas pohon itu lagi.”
Ketika Ray membungkuk untuk mengutip beberapa batu, secara tiba-tiba monster itu bergerak memperbaiki posisi kepalanya dan membuat Ray sangat terkejut.
‘Dasar makhluk sialan, selalu saja membuatku terkejut.’ Batin Ray.
Karena merasa sudah kembali aman, Ray kembali lagi membungkuk dan megambil beberapa batu.
‘Baiklah sepertinya ini sudah cukup untuk membangunkannya, dan sekarang waktunya berpesta!.’
Dengan seluruh keberanian yang Ray miliki sekarang, ia melemparkan batu itu dengan kuat dan tepat mengenai kepala monster tersebut.
__ADS_1
Karena merasa terganggu, monster tersebut bangun dan bangkit berdiri. Dengan tatapan marah, ia melihat Ray yang tepat dihadapannya dengan jarak yang tidak terlalu jauh.
Merasa bahwa tidak perlu lagi melemparkan batu yang kedua kali, Ray langsung berlari dengan sangat cepat menjauhi monster tersebut.
“Dasar makhluk lamban, cepat kejar aku bodoh!.” Teriak Ray dengan kencang.
Melihat Ray yang berlari menjauh darinya, monster itu juga ikut berlari mengejarnya dengan penuh amarah. Di setiap monster itu melangkah, terdengar suara geraman yang cukup keras hingga Ray dapat mendengarnya.
‘Sepertinya dia sangat marah kepadaku, mungkin jika dia bisa bicara pasti maksud dari geramannya itu adalah: AKU TIDAK AKAN MELEPASKANMU DASAR MANUSIA BODOH!.’ Batin Ray sembari berlari dengan kencang.
Walau Ray merasa jika larinya sudah sangat cepat, ketika ia melihat kebelakang, Ray langsung terkejut karena kecepatan yang dimiliki oleh monster tersebut lebih cepat darinya.
‘Sial!, dengan kecepatanku yang sekarang sangat mustahil bagiku untuk memanjat kembali ke atas pohon. lebih baik aku berlari melewatinya saja dari pada terpojok disaat aku mulai memanjat.’
Dengan kecepatan Ray yang sudah maksimal menurutnya, ia berlari melewati pohon tempat persembunyiannya. Sekarang Ray hanya bisa terus berlari sembari memikirkan rencana.
‘Ayo berpikirlah otak, aku harus mencari cara menghindar atau menyerangnya.’
Ray yang sedang berlari menyempatkan diri melirik kebelakang untuk melihat monster tersebut. Ia mengamati langkah kaki monster itu dan mulai menganalisanya didalam pikirannya.
‘Melihat setiap langkah yang dibuat oleh makhluk itu, sangat mustahil baginya untuk berhenti secara mendadak. Jika memang benar, maka dengan mudah aku dapat melewatinya dari bawah dan bahkan aku juga dapat menyerangnya tepat kearah Kristal tersebut.’ Batin Ray menyimpulkan.
Melihat bahwa jarak diantara mereka berdua masih cukup jauh, Ray menghentikan langkah kakinya dan berbalik berlari kearah monster itu. Dengan jarak yang sudah cukup dekat dengan sang monster, Ray menarik satu tombak yang berada di punggungnya dan membalikkan tombak lainnya ke depan.
__ADS_1
Di waktu yang bersamaan ketika monster itu melompat, Ray yang berlari langsung menjatuhkan dirinya ke tanah dan terseret lewat dari bawah monster tersebut. Dengan sangat jelas, Ray melihat Kristal yang terletak di dada sang monster dan dengan sekuat tenaga, ia mengangkat dan mengarahkan ujung tombak kearah Kristal itu.