Reinkarnasi Ke Dunia Lain

Reinkarnasi Ke Dunia Lain
Pertarungan yang sebenarnya (2)


__ADS_3

“Gdub.. Srak..”


Ray cukup jauh terseret diatas tanah, ia dengan sekuat tenaga menahan dan menekan dirinya agar tidak terlalu jauh terseret. Rasa sakit bercampur panas ia rasakan ditelapak tangannya, setelah berhenti ia menyempatkan dirinya untuk melihat keadaan telapak tangan yang cukup terasa sakit baginya.


“Bagaimana bisa?”


Melihat luka yang mulai tertutup kembali akibat gesekan secara langsung dengan permukaan tanah yang kasar membuat dirinya keheranan. Ia tidak mengerti mengapa luka itu bisa dengan cepat sembuh, padahal kemampuan penyembuh saja belum ia dapatkan.


Sejenak dirinya mengingat kembali botol yang berisi cairan penyembuh yang diberikan oleh Riel kepadanya.


‘Jangan-jangan efek dari ramuan penyembuh yang diberikan Riel masih berpengaruh, jika hal itu memang benar, maka itu hal yang begitu menguntungkan bagiku.’ Gumam Ray sembari kembali berdiri tegak menghadap sang monster.


“Groar…”


Auman keras terdengar ketelinga Ray yang saat ini jaraknya cukup jauh dari sang monster, geraman itu menimbulkan getaran kembali dan bahkan jika dibandingkan dengan yang pertama masih jauh berbeda. Angin juga ikut berhembus dari arah sang monster sehingga tubuh Ray bisa saja terbang terpental akibat dorongan angin yang cukup kuat.


Kedua bola mata Ray terbelalak ketika dirinya melihat aura yang berbeda dari tubuh sang monster. bulu kuduknya berdiri dan bahkan dirinya sempat gemetar melihat aura itu.


“Dia sangat berbeda dari yang tadi, aura tadi yang tidak terlalu jelas untuk dilihat oleh mata biasa, sekarang sudah sangat jelas dan bahkan kengerian yang kurasakan ketika melihatnya ingin membuatku berlari menghindar.”


Kedua tangan pria itu mengepal dengan keras menahan ketakutan yang selalu melonjak terhadap dirinya. Kini perbedaan level yang sangat jauh diantara mereka sudah sangat jelas.


Ray sejenak melihat area sekelilingnya, dirinya mendapati pohon-pohon juga ikut tumbang karena dorongan angin yang kencang tadi. disaat itu keringat dingin mulai membanjiri tubuh pria yang cukup rapuh melawan sang bencana.


“Ba-bagaimana bisa aku dapat bersembunyi dari makhluk itu, seluruh tempat persembunyian telah terbuka lebar, pohon besar yang menurutku mustahil untuk tercabut saja kini telah tumbang semua. Sekarang bersembunyi pun sangat mustahil, kini aku harus menghadapi kebenaran yang sebenarnya.” Dengan membulatkan tekat, Ray kembali membusungkan dada dan dengan semangat yang membara dirinya kini telah siap bertarung.


Ia melihat posisi sang monster saat ini berada, seluruh bagian dan sisi wilayah yang bagus untuk menghindari serangannya juga telah Ray temukan. Saat ini dirinya hanya menunggu waktu dimana sang monster akan berbalik dan menyerangnya.

__ADS_1


Terlihat seluruh tempat sudah begitu kacau, kondisi pencahayaan didalam kubah juga cukup gelap karena matahari yang masih ditutupi oleh awan hitam yang begitu tebal.


Ray sempat beranggapan bahwa awan itu berkumpul akibat penguapan air ketika terik matahri yang terjadi sehari sebelum kejadian ini berlangsung. Tapi kini dugaan yang dibuatnya salah karena sudah 1 jam awan itu mengepul dan tidak ada hujan yang turun.


‘Memang benar, awan hitam itu terbentuk akibat ulah monster itu sendiri. Mungkin seluruh keadaan ini terjadi karena kehendaknya sendiri, bahkan kondisi atmosfer disini tidak beraturan.’ Ray yang menyinpulkan dalam batin.


“Doom… greak…”


Ray mendengar suara dari arah sang monster, dan tak disangka suara itu terdengar dari gerakan yang monster itu lakukan. Kini mereka berdua saling berhadapan dan menatap satu sama lain. Ray melihat dengan jelas tatapan ingin membunuh dari makhluk tersebut. Tidak mau kalah, Ray juga menatap monster itu dengan tatapan membunuhnya, kini perselisihan mulai memuncak.


“Shish… shish…”


Suara desusan terdengar dari sang monster, asap putih yang cukup panas juga ikut keluar bersamaan dengan bunyi desusan itu.


Ray yang melihat gerak-gerik sang monster langsung tau jika monster itu akan langsung menghadangnya.


“Srak… srak…”


Setelah Nue menggesekkan kakinya ketanah, ia langsung menghadang Ray yang kini berada lurus didepannya.


Ray merasakan getaran yang cukup kuat, ia tau jika getaran itu berasal dari kaki sang monster yang menghantam keras tanah. Walaupun begitu, Ray masih berdiri ditampatnya tadi, dirinya bahkan belum mau untuk bergerak dari tempatnya itu.


‘Ini masih belum…” Ray menatap tajam ke arah sang monster yang kini sudah berlari menghadangnya.


‘Jika sekarang aku harus berlari kebelakang atau menghadangnya bisa saja rencanaku akan gagal.’ Gumam Ray.


Kini jarak diantara mereka sudah cukup dekat, Ray yang masih menunggu kesempatan masih tetap berdiri teguh ditempatnya.

__ADS_1


Akibat getaran yang sudah mulai kuat, Ray merasa jika tanah yang ia injak sekarang sudah ingin ambruk. Kedua tangannya masih mengepal dengan kuat, kedua bola matanya masih tetap menatap tajam sang monster.


Setelah Nue berada di jarak yang Ray inginkan yaitu 3 meter, kini dirinya mengayunkan tangan kanannya dan melemparkan pasir yang digenggamnya sedari tadi tepat ke mata sang monster. dengan cepat dirinya menghindar ke arah kanan sang monster.


Karena mata sang monster yang sudah kemasukan pasir membuat dirinya kehilangan Kendali dengan kecepatannya, kini monster itu berlari terus kedepan dengan mata tertutup akibat pedih yang cukup sakit dirasakannya.


Melihat kesempatan yang bagus, Ray juga berlari ke arah yang berlawanan dengan sang monster. sebenarnya ketika Ray menahan tubuhnya menggunakan tangannya, dirinya menyempatkan untuk mengambil segenggam pasir tanah ditangan kanan. Jika dirinya tadi ikut berlari menjauh atau menghadang sang monster, Ray tidak akan tau waktu yang tepat dan menentukan jarak yang sesuai untuk melemparkan pasir itu ke mata sang monster.


‘Akhirnya aku berhasil!’ Tanpa melihat kebelakang, Ray kembali berlari ke tempat dimana tombak yang ia gunakan memotong sayap sang monster terjatuh.


“Srak.. srak.. srak.. srep…”


Ray benhenti dan melihat tombak yang tergeletak di atas tanah, pandangan semangatnya seketika berubah menjadi pandangan layu. Dirinya mendapati tongkat tombaknya itu sudah terlalu hancur dan pendek.


“Sialan!... Bagaimana bisa aku menggunakan tombak ini untuk menghajarnya!, sangat sulit bertarung dengan senjata pendek seperti ini.” Ray mengutuk dirinya karena bencana yang menimpanya.


Kedua bagian tombak yang terpatah ia genggam menggunakan kedua tangannya, kini ia harus berpikir cara bertarung menggunakan tombak pendek itu.


“Gdubrak… srak…”


Mendengar bunyi itu, Ray langsung melihat ke arah sumber suara. Dirinya melihat sang monster terjatuh dan terserat tidak terlalu jauh dipermukaan tanah.


Karena tidak dapat mengontrol kecepatannya, monster itu berlari dan tersandung oleh batang pohon tumbang yang cukup besar sehingga tubuh besarnya tak dapat ditahan lalu terjatuh dan terseret.


“Ha.. ha.. ha..”


Ray tertawa lepas melihat kejadian itu, dirinya terlihat sedang menyaksikan adegan yang cukup lucu.

__ADS_1


__ADS_2