
Ledakan kembali terjadi, berbeda dengan ledakan yang pernah Ray rasakan, kini ledakan itu lebih terasa seperti energi yang meledup keluar. Akibat dari ledakan memicu kembalinya energi yang hilang, kedua mata Ray melihat secara langsung seluruh area yang tadinya telah hancur kembali ke kondisi semula. Pepohonan yang tumbang tumbuh kembali, tanah yang berlubang akibat ledakan kembali rata. Yang paling membuat Ray terkesan ialah awan yang berada di atasnya, awan merah itu dengan hilang dan matahari kembali memancarkan sinar yang begitu terang.
Kedua tangan pria itu langsung menutup kedua matanya karena merasa begitu silau, setelah itu ia membukanya dengan perlahan. Kini ia terkagum dengan indahnya biru langit yang cukup lama tak dilihatnya.
“Wah…”
Kedua pupilnya membesar melihat keindahan yang sudah hilang kini kembai lagi. Terdengar dengan jelas suara air danau yang kembali bergerak akibat angin yang berhembus mendorongnya. Suasana hati Ray kini berubah menjadi lebih tenang dengan apa yang ia rasakan dan lihat saat ini, sekarang tempat itu kembali ke keadaan awalnya.
‘Aku merasa telah lama tidak melihat tempat seindah ini, di saat ini terasa begitu nyaman.’ Gumam Ray sembari menyentuh dadanya.
Karena terbawa suasana, Ray melupakan apa yang seharusnya saat ini ia lakukan. Ray merasa seluruh masalah dan beban didalam dirinya telah hilang, tapi ketenangan itu hanya bertahan sebentar saja setelah ia mulai merasa sedikit gonjangan ditanah.
“Groar!...”
Rauman yang tidak lagi familiar terdengar kembali ke telinga Ray, Pria Remaja itu kembali sadar dan langsung mengarahkan pandangannya menatap tepat ke arah sumber suara.
“Monster itu akhirnya telah sadar kembali!” Ucap Ray yang sedang berdiri tegak tidak jauh dari sang monster.
‘Kakak… sekarang saatnya untuk mengakhiri semua ini. Aku sudah melepaskan seluruh energi yang telah diserap monster ini, sekarang kapasitas energinya sudah terbatas.’
Sebelum sang Roh mengatakannya, sebenarnya sudah lebih dulu tau jika monster yang dihadapannya tidak sekuat tadi. Tubuh sang monster juga kini lebih kecil dari biasanya. Ray hanya dapat tersenyum dan mengambil sikap kuda-kuda menyerangnya.
‘Aku harap kakak bisa dengan cepat mengalahkannya, karena aku tidak tau sampai kapan aku bisa menahan kemampuan monster ini.’ Ucap Roh itu sedikit cemas kepada Ray.
“Berarti kamu tidak bisa menahan kemampuan monster ini dalam jangka waktu lama!, apa itu maksudmu?” Tanya Ray dengan posisi siap menerjang jika nanti monster itu menyerangnya.
‘Bukan!, aku tidak pernah bilang jika aku tidak bisa menahan lama monster ini. Hanya saja aku tidak tau sampai kapan aku bisa menekan energi mana dan sihir monster ini, makanya aku sarankan kakak lebih baik mengalahkannya dengan cepat.’
Ray langsung memahami bagaimana sekarang keadaan Roh gadis kecil yang membantunya, ia tau jika Roh itu lebih kesulitan dibandingkan dengan dirinya.
__ADS_1
“Baiklah!, aku akan berusaha agar mengalahkan monster ini dengan cepat. Tapi… ada satu yang ingin aku tanyakan sebelum aku berhadapan dengan monster ini.” Tanya Ray dengan wajah serius.
‘Ya ampun… dalam keadaan seperti ini kakak masih memiliki pertanyaan?. Hah… baiklah, kakak mau bertanya apa?’ Saut Roh itu dengan nada sedikit kesal.
“Siapa namamu?”
Mendengar pertanyaan itu, Roh gadis kecil seketika terdiam. Walau dalam bentuk Roh yang tak berwujud, ia tetap sangat sulit untuk mengucapkan sepatah kata.
Tidak menerima balasan dari Roh yang Ray ajak bicara, membuatnya merasa sedikit kesal karena di abaikan tanpa sebab.
“Hei!... aku sedang bertanya.”
Mendengar desakan Ray, Roh gadis itu semakin kebingungan akan apa yang harus ia katakan. Tapi… dibalik pertanyaan Ray, ada sebuah kisah pedih yang harus teringat kembali di dalam pikirannya. Jika Roh itu memiliki tubuh, maka akan terlihat jelas air mata yang mengucur deras dari kedua matanya.
“Kalau memang tidak mau memberitahukannya, tidak apa-apa. Maaf kalau aku sudah memaksamu mengatakan hal yang tidak terlalu penting, dan aku juga minta maaf jika pertanyaanku itu membuatmu risih.” Ucap Ray yang sudah tau jika pertanyaannya itu telah melukai hati sang Roh.
‘A-aku tidak memiliki nama’
Mendengar balasan dari pertanyaannya tadi, Ray sedikit terkejut dan tertawa. “Ha.. ha.. ha.. Bagaimana bisa kamu tidak memiliki nama!, bahkan anak yang baru lahir saja sudah langsung dinamai oleh orang tuanya.”
‘Aku tidak memiliki ayah dan ibu. A-aku anak yang dibuang, setelah aku dilahirkan aku langsung dibuang oleh kedua orang tuaku.’
Seketika raut wajah senang Ray kini berubah ke raut wajah kaget setelah mendengarkan kebenaran yang Roh itu ucapkan kepadanya. Tubuh pria itu membeku seperti tak bernyawa, kini Ray tidak tau harus bagaimana meminta maaf akan kalimat kurang ajar yang diucapkannya tadi.
“Ma-maaf, aku tidak bermaksud melukai hatimu. Hanya saja aku hanya ingin tau namamu” Ucap Ray dengan raut wajah sedih.
‘Huh… kakak tidak perlu cemas, aku tidak marah hi.. hi..’
Walau Roh itu membalas dengan senyuman, Ray tau jika didalam hatinya sudah merasa sangat hancur.
__ADS_1
“Baiklah!... bagaimana kalau aku memberimu nama?”
Seketika Roh itu terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar. ‘Nama?’ Ucapnya dengan nada pelannya.
“Hm… tapi kalau kamu tidak mau, aku tidak bisa memaksanya. Lagipula sangat sulit berbicara seperti ini jika kamu tidak memiliki nama.”
Roh itu merasa sangat bahagia dengan apa yang baru saja ia dengar, bahkan saking senangnya dirinya ingin menangis dengan sangat kencang.
‘Aku mau, tapi… jika kakak memberi aku nama maka aku-’
“Baiklah kalau kamu mau” Ucap Ray memotong kalimat Roh itu.
Sebenarnya ada sesuatu yang harus Roh itu jelaskan pada Ray, tapi melihat Ray yang sedang serius memikirkan nama untuknya membuat Roh itu hanya dapat memendam apa yang dirinya ingin sampaikan. Roh tersebut tidak mau melihat kembali raut wajah sedih Ray kembali.
“Baik!, sekarang aku sudah mendapatkan nama yang bagus untukmu. Mulai sekarang namamu adalah Kibou.”
Mendengar namanya untuk pertama kali membuat Roh itu harus menteskan air mata penuh kebahagiaan.
Setelah mengucapkan nama untuk Roh tersebut, Ray merasa jika sang Roh tidak terlalu suka dengan nama barunya.
“Apa kamu tidak suka dengan nama itu?, jika kamu tidak menyukainya aku akan mencari nama yang lain untukmu.”
‘Tidak, a-aku menyukainya. Aku sangat menyukai nama ini, aku… aku… aku menyukainya.’
Ray tau jika sang Roh sedang menangis saat ini, dirinya hanya bisa dapat menunggu hingga Roh itu dapat mengeluarkan semua emosinya saat itu juga.
Cukup keras isak tangis gadis tanpa wujud tersebut hingga Ray dapat mendengarnya dengan jelas, kini suasana didalam kubah terasa sedikit lebih adam dan begitu menenangkan didalam hati.
Kibou yang berarti harapan, Ray ingin suatu saat Roh itu akan menjadi sebuah harapan baginya agar dapat terus maju hingga akhir perjalanannya.
__ADS_1