
Angin berhembus lembut membelai rambut Ray yang baru saja terbangun. Ia menatap sekelilingnya yang terasa sangat berbeda dengan tempatnya dulu berada.
Ray yang masih tidak percaya dengan keajaiban yang terjadi pada dirinya langsung berdiri dan memandang tangan dan kakinya.
“Wah… apa aku sedang bermimpi, aku sekarang hidup kembali.” Ucap Ray sambil melangkah menuju danau yang ada didepannya.
Ia berlari dengan cepat menuju air untuk melihat pantulan wajahnya. Ia seketika terkaget melihat penampilannya yang sekarang.
“Ehhh? Ini… ini aku?, ini seperti mimpi. Penampilanku yang sekarang sangat berbeda dengan yang dulu, bahkan sangat jauh berbeda.”
Ray yang masih belum percaya mencubit wajahnya dengan keras untuk memastikan apakah dia bermimpi.
“Aw… sakit. Ini memang bukan mimpi, aku bisa merasakan sakit.” sembari melihat kembali pantulan tubuhnya yang muncul di air.
“Padahal ketika aku melompat dari atas jembatan, kupikir perjalanan hidupku akan berakhir sampai disitu. ternyata perjalananku masih berlanjut. Yahh… bagaimana lagi, ini sudah takdir.” Ucap Ray sambil membasuh wajahnya.
“Kalau dilihat-lihat lagi, ternyata aku yang sekarang lebih tampan juga. Untuk tinggi badan juga sangat jauh berbeda. Kalau tidak salah tinggi badanku dulu sekitar 130 cm. sekarang kalau diamati lagi mungkin tinggi badanku yang sekarang mencapai 170 cm.”
Setelah Ray menilai penampilan barunya, ia melangkah keluar dari danau dan menuju ke bawah pohon tempat ia terbangun tadi.
Ia duduk dengan pandangan menuju ke tengah danau yang bersinar akibat cahaya matahari yang terpantul. Secara perlahan tangan Ray mengelus rumput yang berada di sampingnya.
“Apakah aku yang sekarang akan bernasib sama dengan aku yang dulu!.” Ucapnya sembari berbaring dibawah teduhan pohon.
“Ha!... aku baru ingat. Kalau tidak salah biasanya jika orang terlahir ke dunia lain pasti memiliki suatu kemampuan khusus. Tapi… apa benar yah dunia ini adalah dunia fantasi yang biasanya diceritakan dalam novel atau komik yang pernah aku baca.” Bertanya pada dirinya sendiri.
“Yah… bagai mana lagi. Aku harus mengetes dulu terlebih dahulu.”
Ray yang bangkit berdiri memandangi area sekeliling untuk mencoba kemampuan yang ia peroleh dari hasil Reinkarnasinya. Ia berfikir sejenak cara untuk mengeluarkan sihir yang ada didalam dirinya itu.
“Oh iyah, kalau tidak salah didalam komik yang aku baca dulu, para tokoh biasanya mengucapkan suatu mantra, baiklah.. aku harus mencobanya.”
Ray yang mulai melakukan pergerakan konyol untuk memperagakan setiap gerakan yang ada di tokoh komik yang ia baca.
__ADS_1
“Baiklah… KA-ME-HA-ME-HAAA…!” Teriak Ray kencang dengan kedua lengan tangan menyatu dan telapak tangan terbuka seperti kelopak bunga yang mekar.
“Eh… kok tidak ada yang keluar yah. Baiklah mungkin aku harus lebih lantang lagi mengatakan Kamehameha nya seperti di dalam komik.” Sambil mengambil posisi bersiap-siap.
“KA-ME-HA-ME-HAAA…!” Teriak Ray sekali lagi dengan nada yang lebih tinggi dari yang pertama.
“Huh, ternyata masih gagal.” Menunduk sambil meratapi kegagalannya.
“Tunggu, kalau Kamehameha gagal masih ada satu mantra lagi yang sering muncul di komik Shoujo. He he he… aku yakin ini pasti berhasil.” Ray yang menunjukkan senyuman jenakanya.
“Baiklah sekarang aku hanya butuh semacam ranting sebagai alat penyalur sihirnya.”
Sementara itu di seberang danau ada sesuatu yang memperhatikan Ray. Ia melihat Ray dari balik semak-semak sehingga Ray tidak menyadari kehadirannya.”
“Oke, akhirnya aku mendapatkan ranting yang sesuai. Hi hi hi… sepertinya ranting ini bisa merasakan kekuatanku yang begitu dahsyat sehingga aku dapat merasakan kalau ranting yang kugenggam ini sedang berteriak ‘Ahhh tuan Ray, magimu begitu besar sehingga memenuhi setiap celah tubuhku ini.’ Ha ha ha.” Ucap Ray dengan memasang wajah mesum.
“Baik mari kita mulai. MAGICAL SPLASHHH…!” Teriaknya lagi sambari mengarahkan tongkat yang ia pegang ke depan.
“Sekali lagi… MAGICAL… SPLASHHH!. Uh kenapa tidak bisa, padahal aku sudah begitu serius mengucapkan mantra itu.”
“Kenapa?... jangan-jangan aku tidak memiliki kemampuan sama sekali.” Ucap Ray yang sudah lelah dengan segala usaha yang ia buat.
Ray yang sudah terlihat menyerah akhirnya terbaring di atas rumput dengan tiupan angin pelan yang menyejukkan.
“Kruuuk…!” Bunyi perut Ray yang sedang kelaparan.
“Oh iyah, aku lupa kalau dari tadi aku belum makan. Hup… aku harus makan apa yah, sepertinya disini tidak ada monster atau hewan yang bisa kuburu.” Ray yang kembali mengambil posisi duduk.
“Kalau di danau ini ada tidak yah ikan?, lebih baik aku lihat-lihat dulu.” sambil melangkah menuju danau yang tepat didepan Ray.
Tempat Ray berada sekarang adalah tempat yang lumayan jauh dari pemukiman manusia. Bahkan jarang ada yang datang ke tempat ini karena banyaknya monster di setiap perjalan menuju wilayah Ray sekarang.
Orang setempat biasanya menyebut tempat Ray berada dengan sebutan The dead island, karena setiap manusia atau makhluk yang datang dan bukan asli dari tempat itu akan mati.
__ADS_1
Ray yang masih belum tau tentang lokasi dia sekarang tidak terlalu mempedulikannya. Karena yang paling utama dipikiran Ray adalah makan.
“Ternyata di danau ini juga tidak ada ikannya. Tidak mungkin, tidak mungkin aku mati kelaparan ditempat ini.” Dengan raut wajah ketakutan.
Secara perlahan Ray mengangkat kepalanya dan menoleh kebelakang.
“Ha!, itu… itukan pohon kelapa. Kenapa dari tadi aku tidak sadar kalau yang memberiku teduhan adalah pohon kelapa. He he… aku memang goblok, ternyata tidak ada perubahan pengetahuan yang kudapat setelah bereinkarnasi." ucap Ray sembari melangkah secara perlahan mendekati pohon kelapa itu.
Sesampainya tepat didepan pohon kelapa itu, Ray mengamati cara untuk memetik buah kelapa yang terlihat sangat enak itu.
“Kalau aku memanjat mungkin tidak bisa, soalnya itu terlalu tinggi untuk di panjat. Kalau pakai kayu sepertinya juga tidak bisa. Soalnya disini hanya ada pelepah, ranting dan potongan kayu yang terlalu pendek. Astaga ini gimana caranya!.” Ray mulai menggerutu dan kesal karena rencana pemetikan buah kelapa yang lumayan sulit ditemukan.
Setelah lama mencari ide lain, akhirnya Ray mengambil satu keputusan dan itu adalah memanjat pohon kelapa itu.
“Tidak ada cara lain lagi selain memanja.t” Ucap Ray sambil mulai memanjat.
“Uh… ini sangat sulit, batang kelapa ini terlalu licin. Tapi aku harus bisa, demi perutku yang sedari tadi menangis meminta makan.”
Setelah berusaha dengan keras, akhirnya Ray sampai di atas pohon kelapa dan mulai memetiknya.
“Huh… sampai juga, baiklah saatnya memetik kelapa ini dan langsung menyantapnya.”
Lima menit berlalu, Ray akhirnya memetik seluruh buah yang tadi masih menggantung di pohonnya. Akan tetapi ada satu masalah lagi yang harus ia selesaikan.
“Sekarang gimana caraku untuk turun…! astaga ini sangat menakutkan. Jika dilihat dari atas ini, terlihat tanah sangat jauh. Aku harus bagaimana.” Sembari memandang kebawah.
“tidak ada cara lain lagi selain turun dengan perlahan tanpa melihat kebawah.”
Secara perlahan Ray mulai turun. Akan tetapi ia tidak sengaja menolah ke bawah untuk melihat seberapa jauh lagi jarak tanah ke posisinya dan secara tiba-tiba tindakannya itu membuatnya mulai pusing.
“Drup!” Suara tubuh Ray yang terjatuh.
“Aduh aduh aduh, pinggangku sakit. Huh, akhirnya rintangan sulit untuk memetik kelapa ini sudah selesai. Saat nya menyantap.” Kembali keposisi duduk dan mendekati buah kelapa yang terkumpulkan.
__ADS_1
Ray mulai membuka kelapa itu satu persatu dan menghabiskan seluruh bagian dalam buah kelapa tanpa tersisa.