
{Seperti yang tadi saya ucapkan, tubuh utama saya telah hancur dan yang tersisa hanya serpihan jiwa atau bisa disebut serpihan Roh. Agar saya tidak lenyap, saya menyimpan seluruh energi yang tersisa. Akan tetapi sebuah Roh dapat berbicara bahkan memunculkan dirinya jika mereka mengumpulkan seluruh energi kehidupan pada satu titik-}
“Baiklah aku paham, tapi mengapa kamu tadi mengatakan bahwa kamu akan lenyap.” Selip Ray memotong penjelasan dari sang gadis misterius tersebut.
{Karena aku hanya memiliki sedikit energi kehidupan dan energi itu sudah aku gunakan.}
“Maksudmu sekarang ini energi itu sudah habis?.” Tanya Ray dengan raut wajah serius.
{Masih ada sedikit lagi yang tersisa, sehingga sekarang aku tidak mempunyai banyak waktu untuk berbicara denganmu. Dengan sendirinya aku akan hilang seperti sebuah gelembung yang tidak akan bertahan lebih lama diudara.}
Mendengar semua perkataan itu, Ray terdiam dan menatap kedepan tepat ke arah sumber suara itu dengan raut wajah penuh kesedihan.
{Tidak apa-apa, lagipula ini sudah takdirku. Dan untuk mengakhirinya, aku akan menunjukkan wujudku seperti kita pertama kali bertemu.}
Seketika itu daun yang tadi melayang dihadapannya secara tiba-tiba berhenti. Ray menatap sekelilingnya, tatapan itu langsung terhenti ketika ia melihat kebawah. Monster yang tadi berusaha untuk menggali juga terhenti seperti membeku. Bukan hanya itu saja, air danau yang bergerak akibat hembusan angin juga berhenti bergerak.
Ray sadar jika seluruh waktu dalam kubah sedang terhenti, secara perlahan cahaya putih muncul dihadapannya. Mula-mula cahaya itu masih sangan kecil, setelah beberapa saat cahaya itu mulai membesar yang membuat mata Ray kesilauan.
‘Mataku…! Aku tidak bisa melihat dengan jelas.’ Batin Ray.
Cahaya yang tadi begitu selau berubah menjadi sosok gadis dengan bentuk dan rupanya sama seperti manusia biasa. Ia melayang diudara dengan gaun putih yang sangat cantik. Disaat yang bersamaan angin berhembus yang membuat kain gaun bagian bawah dari gadis itu berayun seperti gelombang laut yang begitu tenang.
Melihat pemandangan yang begitu indah membuat kedua mata Ray terbelalak. Seluruh tubuhnya membeku, Ia merasakan aura yang begitu hangat dari sosok yang sekarang tepat berada dihadapannya.
“Ka-kamu adalah orang yang menghi-”
{Benar!, ini aku. Maaf karena dulu ketika kita pertama kali bertemu aku tidak menunjukkan sosokku yang asli.} Ucap gadis misterius memotong kalimat Ray.
“Aku ingin bertanya sesuatu padamu.”
__ADS_1
Mendengar ucapan Ray, gadis itu tersenyum {Aku akan menjawab pertanyaanmu lagi.}
Melihat senyuman itu, Ray tersipu malu dan memalingkan wajahnya. “Apa selama ini kamu selalu memperhatikan seluruh tindakan yang kulakukan.”
{Sebelum aku menjawab itu, aku juga ingin bertanya. Kenapa kamu bisa memikirkan hal seperti itu?.}
“Karena tadi kamu mengatakan bahwa wujudmu selama ini berupa Roh, jadi kemungkinan besar setelah aku berada di tempat ini kamu selalu disekitarku dan melihat semua yang telah kulakukan.”Jawab Ray dengan pandangan yang masih menatap kebawah.
{Itu semua benar Ray Frinson, selama ini aku memperhatikan seluruh aktifikas yang kamu lakukan. Mulai dari kamu terbangun dari tidurmu, mengumpulkan makanan, menyiapkan seluruh rencana dan senjata untuk menyerang monster itu, menjahilinya sampai kau sendiri dikejar, dan-}
“Tunggu tunggu, aku bukan menjahilinya. Aku hanya ingin menariknya untuk masuk kedalam perangkapku.” Ucap Ray memotong pembicaraan gadis tersebut.
{Ha ha ha… maaf, aku hanya bercanda.} Tawa sang gadis misterius.
Seketika itu, Ray juga ikut tertawa karena mengingat apa yang telah ia lakukan hingga membuat monster itu marah padanya.
Mendengar kalimat yang diucapkan gadis itu, Ray mengangkat wajahnya dan langsung menatap wajah sang gadis misterius. Ia melihat wajah murung gadis itu, Ray tau bahwa semua yang telah diucapkannya itu benar. Disaat itu Ray juga merasa telah membuat gadis itu cemas akan semua kelakuan yang telah ia perbuat.
{Maafkan aku Ray, karena selama ini aku tidak bisa menolongmu.}
“Sudah cukup, lebih baik kamu diam. Itu semua bukan salahmu, aku yang terlalu lemah untuk terus maju. Seharusnya aku yang meminta maaf karena aku tidak bisa menjalani dengan baik kehidupan yang telah kau berikan.”
Setelah mengucapkan kalimat itu, Ray membungkukkan tubuhnya. “Maafkan aku.” Ucap Ray.
Melihat Ray yang membungkuk meminta maaf, gadis misterius itu mendekat dan dengan kedua tangannya menyentuh wajahnya. {Sudah Ray, ini semua bukan kesalahanmu tetapi aku-}
“Tidak…! Aku yang bersalah, Ini bukan salahmu. Kumohon jangan salahkan dirimu karena kelemahanku.” Bentak Ray sembari masih membungkuk.
{Terimakasih Ray, selama aku hidup baru pertama kali ini aku bertemu orang sepertimu yang begitu tulus meminta maaf.}
__ADS_1
Ray kembali menegakkan tubuhnya. Jarak antara Ray dengan gadis misterius itu yang tadi cukup jauh, sekarang sudah begitu dekat. Dengan perlahan Ray ditarik kedalam pelukan sang gadis, ia merasakan kehangatan yang sangat familiar.
‘Pelukan ini, sepertinya aku sudah pernah merasakannya. Tapi dimana?, ahhh… aku yakin jika aku pernah merasakan ini tapi kenapa aku melupakan hal sepenting ini.’ Ucap Ray dalam lubuk hatinya.
Dalam pelukan gadis itu, Ray tenggelam dalam kedamaian. Air mata Ray keluar dengan sendirinya, disaat itu ia terlihat seperti seorang anak kecil yang sangat haus akan kasih sayang.
{Ray… kuharap kau bisa terus maju, aku yakin akan ada masa depan yang begitu indah yang tercipta karenamu. Aku yakin itu, dan disaat itu juga kau akan merasakan semua yang telah kau perjuangkan akan terbayarkan.}
Melihat Ray yang masih memeluknya dengan erat, membuat sang gadis misterius itu tak ingin melepas pelukan itu darinya. Dari tatapannya terhadap Ray terisyaratkan bahwa ia tau semua jalan yang akan Ray lalui.
{‘Ray… maafkan aku. Ada beberapa kalimat bohong yang kuucapkan, aku tidak berani memberitahukan semuanya padamu. Aku tau, jika kau mengetahui kebenarannya kamu tidak akan mau berjalan hingga akhir.Maaf…’} Batin sang gadis misterius tersebut dengan raut wajah sedih.
Tidak berselang lama ketika gadis itu berbicara dalam hati, dengan perlahan tangan yang masih membekap Ray dalam pelukannya mulai menghilang.
{Hah!… sudah waktunya.} Ucap gadis tersebut.
Mendengar kalimat itu, Ray melepaskan pelukannya dan melihat kearah gadis yang berada didepannya. “Apanya yang sudah wak-” Ray menggantung kalimatnya ketika tatapannya terhenti kearah tangan sang gadis yang mulai menghilang.
“A-ada apa dengan tanganmu, me-mengapa mulai menghilang?. Apa yang terjadi!...”
Ray terlihat panik atas apa yang ia saksikan dihadapannya, ia menyentuh telapak tangan sang gadis itu yang sudah menghilang.
{Sepertinya ini sudah waktunnya Ray.}
“Apa maksudmu, apa yang sudah waktunya!... aku tidak memahami perkataanmu.” Ucap Ray histeris.
{Bukannya tadi sudah kujelaskan padamu?, apa kamu tidak mengingatnya lagi?}
Seketika itu Ray mengingat kalimat yang gadis itu ucapkan ketika ia menjelaskan tentang dirinya yang dapat berbicara dihadapannya.
__ADS_1