
“Aku berhasil!, aku berhasil melukainya.” Ucap Ray dengan semangat, ia melihat ekor sang monster menggeliat di atas tanah.
Karena terlalu bersemangat, Ray lupa jika tujuan utamanya ialah menghancurkan Kristal merah yang berada di dada monster tersebut.
Ketika Ray ingin mencabut tombak yang ketiga, dengan penuh amarah monster tersebut mundur cukup jauh dan di waktu itu juga sang monster langsung berlari kedepan dan menghadang batang pohon yang Ray singgahi.
Dengan keras batang pohon diseruduk oleh Nue. Karena takut terjatuh, dengan cepat Ray berpegangan dengan dahan pohon yang ada di dekatnya.
Ketika Ray membuka mata ia sangat terkejut akan apa yang baru saja ia lihat. “Tidak mungkin!, dengan tenaga sekuat itu ia dapat mengubah posisi pohon ini.”
Sekarang Ray merasa panik, bagaimana tidak posisi pohon yang tadi lurus menjulang keatas sekarang sudah miring kearah belakang Ray.
“Dengan posisi sekarang, makhluk itu dapat kapan saja memanjat ke atas dan menerkamku.”
Setelah menyeruduk dengan keras, sang monster melangkah sedikit kebelakang dan menggoyangkan kepalanya karena benturan yang dilakukannya terhadap batang pohon tersebut.
Ia menatap ke arah pohon yang sudah bergeser itu. Walaupun tidak terlalu miring, akan tetapi karena memiliki tubuh yang cukup panjang membuatnya dapat memanjat kearah Ray dengan sangat mudah.
“Aku harus bagaimana sekarang, jika aku turun dan berlari ke pohon yang lain itu akan mustahil. Walaupun aku bisa, disini tidak ada pohon yang lebih besar dan kokoh dari pada yang sekarang kutempati ini.” Ucap Ray yang terlihat mulai kewalahan mencari solusi lain.
Dengan langkah yang tidak terlalu cepat, sang monster tersebut mendekat ke arah Ray. Makhluk itu menunjukkan taringnya yang cukup tajam untuk menakut-nakuti Ray.
Cahaya matahari mulai tenggelam, kegelapan mulai menyelimuti sebagian permukaan bumi terutama wilayah didalam kubah. untungnya, walaupun matahari sudah tenggelam, untuk penglihatan Ray masih membaik akibat air danau yang dapat memantulkan cahaya bulan.
__ADS_1
“Sekarang aku tidak bisa kabur, akan tetapi walaupun begitu aku akan melakukan perlawanan kepada monster sialan itu. jika memang aku tidak bisa menang melawannya, setidaknya harus ada perlawanan yang kulakukan.”
Secara bersamaan ketika Nue berjalan mendekat ke arah Ray dengan amarah yang sudah membeludak, diwaktu itu juga Ray memegang erat tombak ketiga dan mengarahkannya kehadapannya. Ujung tombak yang ia genggam tepat mengarah dikedua mata Ray.
“Tombak-tombak ini yang akan menjadi saksi jika aku harus berakhir disini.” Dengan tatapan penuh keseriusan, Ray memanjat ke dahan yang lebih tinggi.
“Groar!…” kedua telapak kaki bagian depan sang monster diletakkan di permukaan batang pohon, kuku tajamnya dikeluarkan dari balik bulu kaki dan siap untuk memanjat.
“Jangan berharap bisa dengan mudah membunuhku disini dasar makhluk terkutuk.”
Dengan tatapan amarahnya, Ray melemparkan tombak yang ia genggam dengan sekuat tenaga. Naasnya tombak yang ia lempar ternyata dapat ditangkis oleh makhluk itu menggunakan kuku tajamnya.
“Hah… ternyata makhluk rendahan sepertimu bisa juga menghindari seranganku dengan mudah. Walaupun begitu aku belum selesai, karena pertarungan yang sebenarnya dimulai dari sekarang.” Ucap Ray dengan keberanian yang membara.
Ray menarik tombak ke empat dan melemparkannya lagi kearah monster tersebut, karena permukaan tanah dan kaki monster yang tidak menyentuh lagi membuat sang monster tidak bisa menghindari serangan itu dan tertancap ke kaki kanan bagian depan sang monster.
“Graaa!…” Jeritan Nue yang menggelegar menandakan rasa yang teramat sakit. Darah keluar dari pinggiran ujung tombak yang tertancap di kaki monster itu.
Ray terlihat sangat puas. melihat bahwa makhluk itu masih belum terjatuh, ia menarik tombak yang lain dan mulai melemparnya dengan membabi buta.
Enam tombak ia lemparkan dengan waktu singkat, empat diantaranya mengenai monster tersebut dan dua lagi meleset. Walaupun begitu luka yang diterima oleh sang monster sudah cukup parah. Kedua kaki depan terluka akibat tertancap tombak, sehingga membuatnya mulai tak mampu lagi untuk memanjat ke atas akibat rasa yang teramat sakit.
“Ha ha ha… sekarang apa kamu masih memiliki kemampuan untuk menyerangku?, lihat dirimu makhluk sialan. Dengan banyaknya luka yang kamu terima, kamu tidak akan bisa melakukan penyerangan lagi.” Hina Ray kepada monster tersebut.
__ADS_1
Karena tidak dapat menahannya lagi, Nue melepaskan cengkeramannya dan menjatuhkan diri kebawah. “Drup!” Suara tubuh Nue yang terjatuh.
Walau Ray terlihat begitu puas akan apa yang dialami oleh monster tersebut, ia juga memiliki rasa kasihan.
“Ketika melihatmu terkapar dan tak berdaya, aku juga merasa kasihan terhadapmu. Mungkin ini semua kesalahanku karena aku datang kewilayahmu, akan tetapi tanpa membunuhmu aku tidak bisa keluar dari tempat ini. Lagi pula untuk membuka skill pertamaku. Aku tidak tau ini akan bermanfaat atau tidak, akan tetapi aku harus mengorbankan satu nyawa dan itu adalah kamu Nue!” Ucap Ray sembari tangan kanannya menarik satu tombak dari belakang tubuhnya.
Ketika Ray berfikir bahwa semuanya akan selesai jika ia mengakhirinya sekarang, secara tiba-tiba monster itu bergerak dan bangkit berdiri. Ray merasa tidak akan ada masalah lagi sebab luka yang diterima sang monster sudah cukup fatal.
Namun perkiraannya salah, Nue bangkit berdiri dan mengaum begitu keras hingga dapat memecahkan gendang telinga siapa saja yang berada dekat dengan monster itu.
Ray yang sudah tau jika makhluk itu akan mengaum langsung menutup telinga terlebih dahulu, sehingga telinganya hanya berdengung.
Disaat itu Cahaya merah keluar dari Kristal yang berada di dada monster tersebut, lalu menutupi seluruh tubuh makhluk itu. Ray merasakan kemampuan yang begitu luar biasa, ia mulai menarik tombak dari belakang tubuhnya dan bersiap jika hal yang tak terduga muncul.
“Mengapa cahaya merah itu menyelimuti tubuhnya?, apa jangan-jangan makhluk itu belum serius melawanku.”
Dugaan yang dibuat Ray benar, ia melihat dengan mata kepalanya sendiri tubuh monster itu membesar. Tumbuh dua tanduk yang begitu besar dan runcing di atas kepalanya, bahkan dibagian tubuhnya juga mulai tumbuh dua sayap yang begitu mengerikan.
“Tidak… ini tidak mungkin!. Selama ini makhluk itu menyembunyikan wujud dan kemampuan aslinya, bagaimana aku bisa mengalahkannya kali ini.”
Ray yang dilanda kepanikan hanya dapat melihat monster itu tumbuh menjadi sebuah malapetaka baginya.
Secara tiba-tiba hembusan angin berhembus lebih kencang dari biasanya, Ray melihat bahwa pepohonan dan rumput dibawah berubah warna menjadi merah. Yang ia rasakan bukan hanya cemas bahkan rasa takut yang begitu kuat didalam dirinya.
__ADS_1
“Makhluk itu!, ternyata dia bisa mengendalikan semua yang ada didalam kubah ini. Selama ini aku hanya berfikir bahwa dia tidak memiliki kemampuan apa-apa, tapi nyatanya itu semua salah.” Ucap Ray dengan rasa putus asa.