
Dalam sekejap cahaya bulan meredup, ia kini ditutupi oleh awan hitam yang begitu pekat. Ray hanya diam mematung melihat semua kejadian itu, ia berfikir semua ini hanya ilusi.
Ketika sebuah ranting kecil mengenai wajahnya dan membuat Ray sedikit tergores, ia merasakan rasa sakit. Disaat itu Ray sadar kembali dan manyaksikan sang monster bertransformasi menjadi sosok yang lebih mengerikan.
“Sekarang, apa yang harus aku lakukan. Aku tidak memiliki rencana lagi, walaupun ada itu semua akan sia-sia juga. Apa aku harus berdiam diatas sini dan menyaksikan diriku sendiri dihabisi olehnya?.”
Seketika Ray berlutut dan hanya pasrah akan keadaan. Ia melihat kearah tombak yang saat ini digenggamnya “Ha ha… untuk apa aku menggenggamnya lagi. Disaat sekarang, senjata ini hanya akan menghambatku untuk dihabisi olehnya.”
Pasrah!, benar bahwa saat ini hanya itu yang dapat Ray rasakan. Tidak ada tangis dan airmata yang akan terjatuh untuk hari ini, ia hanya dapat berdiam dan memaksakan dirinya untuk tersenyum walau itu sangat terasa sakit.
“Hei Riel, maafkan aku. Aku tidak bisa melanjutkan keinginanmu untuk memperbaiki dunia ini. Ha ha ha… bukankah ini begitu lucu, tadi aku berjanji untuk membalaskan kematianmu dan memperbaiki semuanya. Ternyata aku seorang pembohong, seorang pria dengan mulut besarnya saja. Maafkan aku.” Ucapnya dengan wajah tertunduk pasrah.
Ketika Ray mulai tenggelam dalam dunia fananya, ia mendengar suara gadis kecil.
“Jangan menyerah!, kamu pasti bisa…” Ucap gadis itu pada Ray.
‘Hah, jangan menyerah katamu?. Lihat baik-baik kondisiku saat ini.’ Saut batin Ray.
“Kakak, kumohon jangan menyerah!. Kamu bisa, masih ada waktu untuk membatalkan semua ini!.”
‘Mungkin saat ini aku sudah terlalu lelah hingga aku dapat mendengar suara-suara aneh ini, aku yakin ini semua hanya sebuah ilusi untuk membuatku terkecoh.’
“Bukan… aku nyata!. A-aku tidak mau lagi terkurung dalam tubuh ini…, aku ingin lepas. Aku ingin bertemu ayah dan ibu, aku mohon bantu aku.” Ucap gadis kecil dengan nada tangisnya.
Ray menyadari jika itu semua bukan ilusi semata, ia mengangkat kepala dan menatap kedepan kearah monster yang sedang berevolusi.
‘Kamu dimana?’ Tanya Ray dalam pikirannya.
“Aku disini kakak.”
‘Disini?, tapi dimana?. Aku tidak melihatmu sama sekali, aku hanya bisa mendengar suaramu.’ Tanyanya lagi didalam pikiran.
Angin yang cukup kuat berhembus membawa dedaunan dan debu sehingga Ray kesulitan untuk memandang lebih jauh kedepan.
__ADS_1
“Sial!, aku tidak bisa melihat lebih jauh kedepan. Angin ini…, bagaimana aku bisa melihatnya jika angin ini berhembus terus menerus membawa benda benda kecil.” Ucap Ray sembari menyipitkan matanya dan melindunginya menggunakan kedua tangannya itu.
“Aku disini!, tepat dihadapanmu.” Ujar gadis kecil itu memberitahukan lokasi keberadaannya.
“Hah!, itu tidak mungkin.” Seketika Ray terkejut akan kenyataan yang telah ia lihat.
Didepan Ray yang sekarang adalah monster yang sedang berefolusi, dan suara yang didengarnya bersumber dari monster tersebut.
Untuk memastikannya lagi, Ray langsung bertanya kepada suara yang dari tadi berbicara dengannya. “Apa kamu monster yang berada di hadapanku sekarang ini?” Tanyanya untuk lebih memastikan.
“Benar, aku adalah monster yang ada di hadapan kakak sekarang. Maksudku, aku berada didalam tubuh ini dan sekarang aku ingin bebas. Kumohon tolong aku, kakak satu-satunya orang yang dapat melakukan itu.”
Ray masih kebingungan dengan apa yang sedang terjadi padanya, ia tidak ingin mempercayai itu semua, tapi… yang ada dihadapannya sekarang adalah sebuah kenyataan.
“Apakah kau tidak mengerti kondisiku sekarang, apakah kau tidak tau bahwa aku hanya manusia biasa tanpa kemampuan. Dan sekarang bagaimana aku bisa menolongmu, aku tidak memiliki apa-apa, hanya sebuah tombak yang kupunya saat ini dan itupun tidak akan ada gunanya.” Jawab Ray pelan dengan wajah murung yang tidak tau harus berbuat apa.
“Tidak!, semua yang kakak bilang itu salah. Kakak bisa melawannya, walau hanya dengan menggunakan tombak itu.” Saut gadis kecil dari tubuh sang monster.
Ray mengigit bibir bawahnya dan mengernyitkan dahi, wajahnya menunjukkan bahwa itu semua mustahil untuk dilakukan. Ia kembali menatap lurus kedepan dan melihat bencana yang sedang berproses untuk menghancurkan dirinya.
“Kakak bodoh!, kakak benar-benar sangat bodoh. Aku… aku tau kalau kakak bisa memikirkan jalan keluar, hanya saja pikiran kakak sedang tertekan. Kumohon lepaskan semua jeratan yang ada dipikiran kakak, berfikir jernih lah!.” Teriak gadis kecil itu kepada Ray.
Seketika Ray merasa tersadarkan oleh sesuatu. matanya terbelalak dan pikirannya terserat ke waktu ketika ia masih didunia kelahirannya dulu.
…
(-Ingatan Ray ketika masih berumur tujuh tahun-)
Hembusan angin pagi yang begitu sejuk membelai tubuh mungil Ray yang sedang berdiri didepan kandang ayam, ia menatap kearah sangkar ayam dimana sang induk sedang mengerami telur-telurnya.
Ketika ia sedang asik mengamati, telapak tangan yang tidak terlalu besar dan halus mengelus kepala Ray. Ia merasakan belaian yang cukup familiar baginya.
“Sayang?, kamu lagi melihat apa?.” Tanya ibu Ray padanya.
__ADS_1
“Mama?.” Ujar Ray dengan nada yang sedikit dinaikkan.
“Kamu lagi ngapain disini?.” Tanya ibu Ray lagi pada dirinya.
“Ibu ayam.” menunjuk kearah sang induk ayam yang sedang mengerami.
“Ternyata kamu sedang memperhatikannya.”
“Mama, kenapa ayam itu tidak mau keluar dari situ. Apa dia lagi sakit?.”
“Ohhh… bukan begitu sayang, ayam itu tidak mau keluar karena ia sedang mengerami telurnya!.” Jawab ibu Ray terhadapnya.
“Mengerami?.” Ucap Ray bertanya kembali.
“Mengerami maksudnya itu?, sang ibu ayam akan menutupi telur-telurnya menggunakan bulu yang ada ditubuhnya untuk memberikan kehangatan.”
“Berarti sama seperti mama dan papa yang peluk Ray dan Seni tiap malam yah mah?.”
“Ha ha ha… anak mama memang pintar.” Ucap ibu Ray sembari berjongkok menyamakan tingginya dengan Ray, lalu mencium kening sang anak. “Memang benar, tapi ada perbedaannya juga, dimana sang induk ayam menghangatkan telurnya agar telur-telur itu dapat menetas. Sedangkan yang mama dan papa lakukan untuk Ray dan Seni itu untuk memberikan kehangatan cinta dari orang tua kepada anaknya.”
“He he… aku sayang mama.” Saut Ray sembari mencium pipi kanan ibunya.
“Crak… crak…” Bunyi telur ayam yang mulai menetas.
“Hah Ray, lihat itu!.” menunjuk kearah telur yang sudah retak.
“Mama telurnya sudah rusak…”
“Bukan, telur itu ingin menetas.” Jelas ibu Ray padanya.
“Menetas itu apa ma?.”
“Menetas artinya telur itu akan berubah menjadi anak ayam.”
__ADS_1
“Ohhh…” Balas Ray.
Dengan mata berbinar Ray menatap kearah telur yang perlahan sedang terbuka, ia begitu antusias memandangi telur itu. Ray menempelkan wajah imutnya pada jaring besi yang membatasi kandang ayam, sang ibu hanya gemas melihat wajah putra satu-satunya itu.