
Terkadang Ray tersandung oleh kakinya sendiri akibat langkah kaki yang terlalu cepat, sehingga mengakibatkan irama langkah kakinya tak seiras.
“Ke-kenapa kalian semakin menjauh dariku, Mama tunggu Ray, Ray ingin ikut. Kumohon jangan tinggalkan aku.” Ucap Ray dengan disertai isak tangis.
Seberapa keraspun Ray berteriak, dan seberapa banyakpun Ray memohon untuk menunggunya, namun tidak ada yang menggubris bahkan menoleh untuk membantu Ray.
Ke dua orang tua beserta dengan adiknya itu hanya dapat berjalan kedepan meninggalkan Ray dibelakang. Ray merasa itu hanya sebuah mimpi, tapi ketika dirinya terjatuh, ia dapat merasakan rasa sakit. Ray meyakini bahwa semua yang terjadi saat itu adalah sebuah kenyataan.
“Papa, Ray lelah. Kumohon kembalilah.” Ucapnya dengan pelan.
Secara perlahan tubuh kecil Ray mulai susah untuk di topang, angin yang cukup kuat mendorongnya sehingga ia hanya dapat berjalan pelan dengan mondorong tubuhnya itu kedepan.
“Bruk!” Suara tubuh yang terjatuh.
“Papa.. Mama.. Ray terluka. Lu-lutut Ray berdarah dan Ray tidak bisa berdiri lagi.” Ucapnya lagi dengan nada tangis yang terbata-bata.
Tubuh kecil itu terbaring di atas tanah, ia dikelilingi oleh kegelapan yang cukup pekat. Angin berhembus mengitarinya seolah-olah tidak membiarkan Ray untuk mendekat ke arah ayah, ibu dan adiknya itu.
Walau cukup sakit dan lelah yang Ray rasakan, ia tetap berusaha mengangkat wajahnya untuk melihat keluarganya itu walau hanya dapat melihat bagian punggungnya saja. Dengan perlahan pula Ray mengangkat tangan dan mengulurkannya ke arah depan. Ia mengepal telapak tangannya itu seolah-olah sedang menangkap sosok yang berada dihadapannya.
“Ji-jika ini hanya sebuah mimpi, kumohon siapa saja bantu aku keluar. ini begitu menyakitkan, aku tidak bisa melanjutkannya.”
Dengan keras Ray kecil mengangkat tubuhnya dan memaksa kedua kakinya untuk dapat kembali berdiri melangkah. “Argh… Kenapa?.. kenapa…!. Kumohon berdirilah!. Mama..!, Papa..!, Tunggu aku. Dengarkan aku, kumohon jangan tinggalkan aku. Aku ingin ikut bersama kalian!.”
Hembusan angin begitu kuat mengitari tubuh kecil Ray, kegelapan yang begitu pekat ikut menyelimuti sekeliling Ray hingga dirinya tidak dapat melihat lagi ketiga sosok yang ia sayangi.
Terlihat jelas keadaan Ray sekarang begitu mengerikan, ia terperangkap diantara kegelapan yang akan menelannya hidup-hidup. Sekuat apapun dirinya bangkit, tetap juga sia-sia sebab ia tidak tau jalan mana yang akan ia ambil dan apakah dirinya akan mampu untuk mengejar mereka yang ia sayangi.
__ADS_1
“Komohon…! Siapa saja bangunkan aku. Tolong aku, aku menyerah…” Itu adalah kalimat terakhir yang Ray ucapkan sebelum kegelapan itu seutuhnya menelan tubuh kecil yang telah tersungkur.
Benar, semuanya sunyi. Tidak ada kicauan burung yang terdengar, semuanya hampa, gelap… begitulah gambaran yang tersemat dipikiran Ray ketika ia merasakan tubuhnya ditelan oleh pekatnya kabut hitam.
…
“Bagaimana?, apa tidurmu nyenyak?” bisik suara yang begitu familiar bagi Ray.
“Ah… suara itu!. kamu siapa?, dan mengapa kamu menirukan suaraku?” Tanya Ray yang masih menutup kedua matanya.
“kamu akan tau jika kamu membuka matamu sendiri!”. Pinta suara itu pada dirinya.
“Untuk apa aku membuka mata ini, aku tidak mau lagi melihat semua penderitaan itu. sudah cukup untuk yang kedua kalinya, jika kamu berharap aku akan mengalaminya untuk yang ketiga kali, maka harapanmu itu tidak akan terkabulkan.”
Air mata yang penuh dengan rasa sakit dan luka yang begitu dalam, keluar dari kedua mata yang terpejam itu. sosok yang bersama Ray sekarang hanya dapat melihat tubuh besar yang terbaring tanpa ada keinginan untuk bangkit lagi.
“Tanpa kamu lukai pun, diri dan hati ini sudah dulu terlukai oleh waktu dan keadaan. Yang kamu lihat sekarang ini adalah sebuah tubuh yang jiwa dan tekatnya sudah mati.” Jawab Ray.
“Bodoh… jika jiwamu sudah mati, maka aku juga akan ikut mati. Tapi karena aku masih ada disini, itu menandakan bahwa jiwamu masih hidup. Yang kulihat sekarang ini bukan tubuh yang sudah mati, melainkan sosok tubuh seseorang yang tidak memiliki harapan lagi.”
“Apa hubungan jiwaku denganmu?, sebenarnya kamu siapa? Dan mengapa kamu sangat peduli dengan diriku yang sekarang?.” Ray melemparkan pertanyaan beruntun pada sosok yang diajaknya bicara.
“Jika aku mengatakannya, maka itu tidak akan seru. Lebih baik kamu membuka matamu dan melihatnya sendiri.”
Walau Ray tidak mau mambuka matanya, ia tetap merasa sangat penasaran dengan teman bicaranya itu. ia merasa sudah mengenal lama sosok yang menggunakan suaranya waktu masih berumur enam tahun.
“Tidak!, aku tidak mau lagi membuka mata ini. Tidak apa-apa jika aku tidak melihat dirimu, karena sudah cu-”.
__ADS_1
Seketika Kalimat yang ingin Ray ucapkan terpotong ketika sebuah tangan kecil yang begitu halus dan hangat menyentuh dan menyeka air mata yang membasahi kedua pipinya.
“Ha ha ha… sudah besar tapi masih menangis!, dasar cengeng. Entah mengapa melihat dirimu yang sekarang ini, aku merasa begitu senang karena dapat melihat diriku yang begitu tangguh walau sekarang sudah ingin menyerah.”
Ray sedikit terkejut dengan apa yang ia dengar. “apakah kamu adalah diriku?.” Tanya Ray penasaran.
“aku sudah bilang kalau aku tidak akan mengatakan siapa diriku, karena aku ingin kamu sendiri yang melihatnya.” Tantang sosok itu pada Ray.
“Mengapa kamu sangat bersikeras agar aku melihat dirimu?, kamu tidak tau apa yang telah kualami. Gelap … sunyi … rasanya ingin menghilang saja … dan bahkan mencoba matipun tetap masih merasakan yang namanya sakit”.
Ray mengepal kedua tangannya begitu keras, raut wajahnya berubah menjadi raut wajah benci. Walau hanya melihat sekilas gerak tubuh Ray, sosok yang bersamanya itu langsung tau jika selama ini jalan yang Ray tempuh adalah sebuah jalan berduri.
Ia mengangkat wajahnya dan melihat kearah bintang-bintang yang bergerak perlahan mengitari alam semesta.
“Kamu tau jika ditempat ini hanya ada aku … kamu … dan bintang. Untuk apa kamu takut untuk membuka matamu. Tidak akan ada orang yang akan menyakitimu, dan tidak akan ada orang yang melihatmu menangis”. Ucap sosok itu pada Ray.
“Walaupun kamu mengatakan itu, aku tidak akan membuka ma-”
“Hei … apa kamu masih mengingat apa yang dikatakan ayah tentang laki-laki sejati padamu?” Sembari melepas kedua tanganya yang melekat di pipi Ray.
“Ayah? … apa maksudmu, aku tidak mengerti”. Tanya Ray kebingungan.
Sosok itu seketika tertawa kecil terhadap Ray, ia menyentil pelan dahi Ray yang masih terbaring itu.
“Dasar bodoh, padahal itu adalah pesan yang begitu penting untukmu. Entah mengapa kamu malah melupakannya.”
Dengan langkah kecil, sosok yang bersama Ray melangkah sedikit menjauh darinnya. Setiap langkahnya menghasilkan suara yang begitu lembut. Ia melipat kedua tangannya kebelakang dan memandang ke atas langit malam yang begitu indah.
__ADS_1
“Ayah pernah berkata bahwa … Seorang laki-laki tidak boleh menyerah, walau jalan yang ditempuh penuh dengan duri, laki-laki harus kuat menahan rasa sakit itu. Tapi … walaupun begitu, jika memang sudah saatnya menangis dan mengeluh, tangisi dan keluarkan semua keluhan yang ada dibenakmu, karena jika kamu menahannya maka suatu saat itu semua akan menjadi luka batin”. Ucap sosok itu sembari menoleh kearah Ray yang tetap masih berbaring dibelakangnya.