Reinkarnasi Ke Dunia Lain

Reinkarnasi Ke Dunia Lain
Hayalan


__ADS_3

“Tidak apa-apa, papa sebentar lagi akan datang.” Ucap Ray menggenggam anak ayam yang terluka dengan kedua tangannya.


“Ray?” panggil ayahnya dari belakang.


Melihat putranya tidak membalas panggilannya tersebut, ia menghampirinya lebih dekat bersama dengan Seni.


“Kamu ngapain duduk disini, lagipula kamu datang ke sini tidak mengenakan sandal padahal banyak tai ayam loh.” Ujar ayahnya terhadap Ray.


“Papa lihat” Dengan kedua tangannya diarahkan tepat dihadapan ayahnya.


Terlihat jelas seekor anak ayam dengan salah satu sayapnya lebih rendah dari sisi lainnya, melihat itu ayah Ray langsung tau jika sayapnya terluka. Ia segera mengambil anak ayam itu dari tangan Ray.


“Sepertinya sayapnya mengalami cedera.”


“Apa papa bisa menyembuhkannya?” Tanya Ray dengan raut wajah kasihan melihat anakan ayam itu.


Ayah Ray tau begitu sulit untuk mengobati sayap anak ayam tersebut karena ukurannya yang masih terlalu kecil.


“bagi papa ini cukup sulit, dan juga kita tidak punya obat untuk hewan.” Ucap ayahnya


Seni yang dari tadi berada di sebelah ayahnya hanya dapat melihat dan mengamati, ia perlahan menarik tangan ayahnya kehadapannya untuk melihat lebih jelas anak ayam itu.


“kalau anak ayam itu tidak disembuhkan, nanti dia bakan mati.” Ujar Ray.


“Tidak juga, untuk sebagian hewan memiliki kemampuan penyembuh yang cukup cepat, termasuk ayam. Nah… sekarang kita harus menyerahkan anak ayam ini kepada induknya, biar nanti induk ayam yang akan menjaganya hingga sem-.”


Belum sempat ayah Ray melengkapi kalimatnya itu, ia melihat raut wajah cemas kedua anaknya. Tidak tau harus berkata apa lagi, sang ayah hanya menghela napas panjang dan menundukkan kepalanya.


“Jadi kita harus bagaimana?, tadi papa bilang dirumah tidak ada obat untuk menyembuhkan luka hewan. Kalau ayah pergi keluar untuk membelinya pasti akan memakan banyak waktu, karena di wilayah sini tidak ada toko yang menjual obat-obatan untuk hewan. Obat itu bisa didapatkan di kota.” Jelas ayahnya terhadap kedua anaknya itu.


Ray yang bersikeras agar ayahnya itu dapat menyembuhkan anak ayam itu juga terlihat bingung harus berkata apa.


Serentak Ray dan ayahnya menghela napas panjang, Seni yang melihat apa yang dilakukan ayah dan kakaknya itu juga ikut memperagakannya.


Melihat kelakuan putri kecilnya, sang ayah tertawa kecil. Secara tiba-tiba ia mengingat sesuatu yang dapat digunakan.

__ADS_1


“Ah… Ray, kamu sekarang temui mama di dadalam dan minta kotak obat.”


Tanpa banyak bertanya Ray mengangguk dan lekas berlari kedalam rumah.


“Papa, apa anak ayamnya akan mati?” Tanya seni yang serius menatap ke arah sayap ayam yang terluka.


“Tenang saja sayang, anak ayam ini tidak akan mati.” Jawab sang ayah kepada putrinya.


Hanya memakan beberapa menit saja, Ray sudah kembali dari dalam rumah membawa kotak obat berwarna putih yang ayahnya suruh.


“Papa, ini.” Ucap Ray dengan napasnya yang masih terengah-engah.


Segera ayahnya mengambil kotak tersebut dari tangan Ray, lalu ia membuka kotak obat itu.


“Papa sebenarnya mau menggunakan obat yang mana?, padahal tadi papa bilang di rumah tidak ada obat untuk hewan.” Tanya Ray penasaran.


“Papa baru ingat, di dalam kotak ini ada plester luka kecil yang dapat kita gunakan. Memang ini bukan obat untuk hewan, tetapi jika digunakan untuk menutupi luka anak ayam ini sepertinya bisa. Jika kita biarkan luka di sayap anak ayam ini begitu saja, takutnya nanti pertumbuhan pada sayapnya akan memburuk. Bahkan dapat mengakibatkan gagal tumbuh pada sayap.” Jawab sang ayah.


Dengan perlahan ayah Ray membalut bagian sayap yang terluka. Di bagian lain Ray di suruh untuk menarik sayap anak ayam dengan perlahan agar dapat dibalut dengan sempurna.


“Baiklah, Ray lepaskan.” Ucap ayah Ray.


Dengan pelan Ray melepaskannya agar plester itu tidak terbuka.


“Anak ayam ini akan baik-baik saja, kita hanya menunggu lima hari agar luka di sayapnya ini dapat membaik. Jika waktunya tiba kita akan melepaskan plester ini.” Jelas ayahnya kepada mereka berdua.


“Semoga anak ayam ini bisa kembali sehat dan tumbuh besar dengan sehat.” Ucap Ray dengan wajah penuh kebahagiaan.


“Papa juga berharap seperti itu, supaya kita bisa memotong ayam ini dan membuatnya menjadi ayam rendang. Uh… kalau dipikir-pikir lagi papa jadi lapar.” Ucap sang ayah sembari memandangi anak ayam dengan pandangan kelaparan.


Mendengar ucapan ayahnya itu, serempak Ray dan Seni menunjukkan wajah terkejut. Dengan cepat Ray menyembunyikan anak ayam yang telah ia pegang ke balik badannya.


Melihat respon dari kedua anaknya itu, sang ayah malah ketawa. “Tenang papa tidak akan melakukannya, sekarang anak ayam itu milik kalian. Tapi… walaupun papa tidak bisa memotong anak ayam itu, masih ada ayam lain yang bisa papa hidangkan menjadi ayam rendang.”


“Papa!” Tegur Ray dan Seni serentak.

__ADS_1


“Ya sudah, sekarang kembalikan anak ayam itu kepada induknya.” Suruh sang ayah kepada putranya itu.


Sebelum ia ingin mengembalikan ayam itu, Ray melihat kembali plaster yang ada pada bagian sayapnya. Dengan kesadarannya, Ray menyentuh plaster itu dan sedikit menekannya.


“cit.. cit.. cit..” Bunyi keras suara anak ayam.


“Ray!, apa yang kamu perbuat. Kenapa kamu menekan luka anak ayam itu?” Ucap ayahnya dengan nada cukup tinggi dan bergegas mengambil anak ayam itu dari tangan putranya.


“Ah… ta-tadi Ray hanya ingin memperbaiki plasternya saja, soalnya plaster ini sedikit terbuka.” Jelas Ray.


“Huh… yasudah biar papa yang akan meletakkan anak ayam ini.” Melangkah melewati Ray.



“Kakak bodoh!” Ucap Seni dengan raut wajah marah.


“Bu-bukan, tadi kakak hanya ingin mem-”


“kakak benar-benar sangat bodoh!. aku tau kalau kakak bisa memikirkan jalan keluar, hanya saja pikiran kakak sedang tertekan. Lepaskan semua jeratan yang ada dipikiran kakak, berfikir jernih lah!.” Bentak Seni kembali dengan nada yang lebih keras.


“Hah?, Seni apa yang kamu mak-” Seketika itu Ray terdiam, secara perlahan sekeliling Ray mulai menggelap.


‘A-aku pernah mendengar kalimat ini.’ Batin Ray.


Ray melihat ke arah ke dua telapak tangannya, terlihat jelas tubuhnya sekarang bergemetar. Rasa takut yang begitu besar mencul didalam perasaan Ray, pikirannya mulau terasa kacau.


Seketika ia mengarahkan pandangannya kedepan untuk melihat adiknya itu, dengan begitu terkejutnya, Ray melihat kedua orang tuanya sekarang berada dihadapannya.


“Papa, mama, Seni” panggil Ray, ia mengulurkan tangannya dan berharap bahwa mereka mau meraih uluran tangan itu.


Dengan perlahan ayah, ibu dan adiknya yang sekarang berada di hadapannya itu berbalik dan berjalan meninggalkan Ray.


“Tidak, kumohon jangan pergi!” Teriak Ray.


Dengan sekuat tenaga Ray berlari menghampiri keluarganya itu, akan tetapi semakin Ray berlari dengan keras, semakin jauh pula jarak diantara mereka.

__ADS_1


“Kumohon berhenti!. PAPA!.. MAMA!.. SENI!..”


__ADS_2