
[Dua hari setelah telur ayam menetas menjadi anakan ayam]
“Sayang ayo bangun.” Suara sang ibu membangunkan putranya yang masih berada di atas kasur.
Dengan perlahan Ray membuka mata, yang pertama kali ia lihat ketika terbangun adalah sang ibu. Dengan senyuman manis nan lembut menatap putra kecilnya itu.
“Hm… mama” Ucap Ray sembari menggosok mata.
“Selamat pagi sayang.” Ucap ibu Ray terhadap dirinya dengan disertai satu ciuman yang mendarat di kening.
Ray tersenyum dan memeluk sang ibu yang kini berada dekat dengan dirinya, ia membalas ciuman tadi dengan mencium kembali pipi kanannya.
“Selamat pagi juga mama.”
Setelah mereka saling menyapa, Ray bangkit dari tempat tidur dan pergi berjalan menuju ruang tengah.
Ibu yang kini sendiri di kamar putra kecilnya itu langsung merapikan tempat tidur yang cukup berantakan.
Disisi lain Ray sudah diruang tamu melirik setiap sudut ruangan, ia mencari dimana Ayah dan adiknya berada.
“Ma… Papa dimana?” Tanya Ray.
“Papa mu masih tidur sayang, lihat aja dikamar sekalian bangunin saja.” Jawab Ibu terhadap Ray.
Dengan bergegas Ray berjalan ke arah kamar lain yang hanya berjarak sepuluh langkah dari posisinya sekarang. Ia membuka gorden yang menutupi pintu kamar tersebut, dengan perlahan Ray berjalan mendekati sang Ayah yang masih tertidur pulas.
“Papa!” Sebut Ray dengan nada tinggi.
Mendengar suara putranya itu, ayah Ray langsung terbangun dan melihat putranya sekarang berada dihadapannya.
“oh, ternyata kamu Ray. Ada apa?, kenapa membangunkan ayah terlalu cepat dan lagi pula inikan hari minggu.” Ucap sang ayah yang kembali menutup mata.
“Papa, ini sudah jam dua belas.”
“Hah?, kenapa ibumu tidak membangunkan ayah lebih awal?” kejut sang ayah mendengar kalimat putranya itu.
Mendengar suara keras ayah, Seni tiba-tiba terbangun dan memasang wajah ingin menangis.
Melihat putri kecilnya itu, ayah Ray mendekat dan langsung menenangkan Seni. “Maafkan papa sayang, tadi ada tikus lewat jadi papa usir biar putri papa yang cantik ini bisa tidur nyenyak.”
Mendengar penjelasan ayahnya, Seni kembali tenang dan bergerak untuk memeluk ayahnya itu.
__ADS_1
Setelah ibu sudah selesai membersihkan tempat tidur Ray, ia berjalan menghampiri mereka. “Tadi mama mendengar suara ribut dari arah sini, apa yang terjadi?.” Tanya sang ibu terhadap mereka.
“Oh… tadi Ray datang untuk membangunkanku. Ngomong-ngomong kenapa kamu tidak membanggunkanku lebih awal sayang?.” Ucap ayah Ray pada istrinya itu.
“Maksudnya?.” Sahut sang istri.
“Tadi Ray bilang sekarang sudah jam dua belas siang, makanya aku kaget kenapa kamu tidak membangunkanku lebih awal sama seperti hari-hari sebelumnya.”
“Jam dua belas?, hmph… ha.. ha.. ha.. sekarang masih jam delapan pagi, kamu aneh masih saja percaya apa yang dikatakan putramu tentang jam. Ya sudah, sekarang cepat bangun aku mau membersihkan tempat tidur ini.”
Mendengar jawaban sang istri, Ayah Ray beranjak bangun dan memeluk putrinya yang masih tertidur. Ia berjalan ke ruang tamu untuk duduk, Ray yang dibelakang berjalan mengikuti sang ayah.
Ray yang duduk di samping ayahnya, melihat Seni yang masih tertidur dalam pelukan sang ayah. Ia melihat betapa nyamannya Seni tertidur dalam pelukan itu.
“Papa, Ray juga mau dipeluk.” Ujar Ray.
“Ray mau dipeluk papa juga?, padahal Ray sudah besar loh, tapi masih ingin dipeluk.”
Mendengar lontaran kalimat sang ayah pada dirinya, raut wajah Ray berubah drastis. Terlihat bahwa ia sangat menginginkan hal itu dari ayahnya tersebut.
“Ha.. ha.. ha.. papa hanya bercanda, sini papa gendong.”
“Papa tidak menyangka Ray akan besar secepat ini, padahal dulu Ray masih sangat kecil ketika terakhir kali papa gendong.”
Mendengar ucapan sang ayah, Ray hanya menunjukkan wajahnya yang tersenyum.
“Karena Ray sudah besar, mungkin papa tidak akan bisa lagi menggendong Ray.”
“Papa?, apa menjadi besar itu menyenangkan?.”
Seketika itu sang ayah terkejut mendengar pertanyaan Ray, ia menatap ke arah putranya yang masih dalam bekapan. “Kalau menurut ayah, menjadi dewasa itu sangat menyenangkan. Ray tau? kalau Ray sudah besar nanti, Ray bisa beli apa yang Ray suka, bisa jalan-jalan sendiri, dan juga bisa punya uang sendiri loh.”
“Wah… Ray jadi mau cepat dewasa.” Ucapnya kepada sang ayah.
Sulit bagi ayah Ray untuk menceritakan bagaimana kehidupan orang dewasa, ia tidak mau membuat putranya itu memikirkan kepahitan jalan yang akan ia lalui.
‘Papa harap suatu saat nanti kamu dapat bertahan untuk melalui kerasnya kehidupan orang dewasa. Ah… pagi-pagi begini mengapa aku berpikir hal-hal berat, lagipula perjalanannya masih cukup jauh. Akan tetapi, jika suatu saat nanti kamu mulai menyerah Ray, papa akan datang untuk mendorongmu agar kembali bangkit. Papa berjanji putraku.’
Seketika suara ayam terdengar jelas dari samping rumah, mendengar itu ayah Ray yang tadi sedang melamun langsung tersadar. Ia melihat Ray tidak lagi berada di pangkuannya.
‘Dia pergi kemana?’ ucap sang ayah.
__ADS_1
Seketika pandangannya tertuju pada pintu rumah yang telah terbuka, sang ayah tau bahwa Ray sekarang sudah berada diluar rumah.
‘Dia pasti pergi melihat ayam-ayam itu. padahal sudah sering aku mengatakan padanya jika keluar rumah pintu harus ditutup, dasar Ray.’ Batin sang ayah.
“Hoam… papa” ucap seni sembari menguap.
“Ah… putri kecil papa sudah bangun, selamat pagi sayang.” Ucap ayahnya itu dengan senyum manisnya.
“Papa, seni mau lihat anak ayam.” Ucap seni kembali dengan suara imutnya.
“Ha.. ha.. ha.. padahal putri cantik papa baru bangun, tapi langsung mau melihat ayam. Sebelum melihat ayam, kita harus cuci muka dulu, ok?.”
Mendengar ucapan ayahnya, Seni mengangguk dan turun dari pangkuan.
Dengan perlahan sang ayah berjalan mendekati pintu rumah depan untuk menutupnya, sebelum benar-benar menutup pintu, Ia menyempatkan diri untuk melihat pemandangan yang berada didepan rumah.
Cahaya matahari pagi menyinari tanaman bunga yang tertata rapih di pinggiran halaman rumah, terkadang angin juga berhembus dengan pelan.
‘Indah… tidak ada yang berubah, semuanya masih tetap sama. Semoga hari-hari seperti tetap bertahan.’ Ungkap ayah Ray dalam hatinya.
Decitan engsel pintu yang saling bergesekan terdengar samar-samar ditelinga. Sebelum pintu itu tertutup sepenuhnya, terdengar suara Ray dari samping rumah.
“Papa!..., anak ayam terluka!” teriak Ray.
Tidak seperti Ray yang terlalu panik karena masalah sepele, sang ayah bahkan tidak terlalu peduli dengan keadaan anak ayam itu.
“Sudah biarkan saja, nanti anak ayam itu akan sembuh dengan sendirinya.” Ucap ayahnya dari depan rumah.
Ayah Ray kembali menutup pintu, disaat itu ia merasa ada sesuatu yang menyuntuh kakinya.
“Aduh putri kecil papa.” Ujar sang ayah sembari menggenggam tangan kecil putrinya itu.
“Anak ayam, seni mau lihat.”
“Tunggu cuci muka dulu, soalnya dimata seni ada kotorannya loh.”
“Hmph.. tidak, seni mau lihat anak ayam dulu.” Ujar seni menujukkan raut wajah murungnya.
Melihat itu, ayahnya menyetujui permintaan putri kecilnya itu. “Tapi hanya sebentar saja ya?.”
Sang ayah kembali membuka pintu dan bersama mereka berjalan menghampiri Ray.
__ADS_1