
Ray terdiam pasif mendengar kalimat itu, pipi yang tadi telah kering, sekarang kembali dibasahi oleh air mata yang tak kunjung berhenti. Ia mengepal kuat kedua tangannya dan mengingat sosok orang yang dulu dikaguminya.
Tidak tau harus berkata apa, Ray hanya bisa mengingat kenangan indah bersama ayahnya dulu. Raut bibir yang tadinya datar sekarang telah mengernyit menahan suara tangis yang ingin terbungkam.
Sosok yang bersamanya hanya dapat menyaksikan tubuh malang itu menahan rasa sakit sendirian, terkadang matanya menoleh ke atas langit melihat jajaran bintang yang begitu indah agar ia tidak jatuh kedalam perasaan Ray yang sedang tidak baik-baik saja.
“Da-dari mana kamu tau jika dulu ayah mengatakan kalimat itu kepadaku?, dan siapa sebenarnya ka-” Ucap Ray dengan memotong kalimatnya itu.
“Sudah cukup, aku tidak perlu memberitaumu dari mana aku tau kalimat itu. Aku hanya mau mengatakan bahwa semua tentang dirimu di masa kecil dan dimasa kamu masih hidup di dunia pertamamu, aku tau semuanya tentang dirimu. Apa kamu masih ingat ketika pertama kali kamu masuk sekolah dasar?, disana kamu sangat gugup untuk memperkenalkan dirimu sehingga ditengah tengah kalimat perkenalan kamu malah mengompol bukan?.” Jelas sosok yang bersama dengan Ray.
Air matanya seketika terhenti ketika ia mendengar apa yang diucapkan oleh sosok itu padanya. Tangannya sendiri terangkat untuk mengusap kembali air mata yang tadi basah untuk kedua kalinya.
“Benar! … aku pernah mengalaminya waktu masih umur enam tahun, itu adalah pengalaman yang paling memalukan yang kualami” Ujar Ray dengan wajah sedikit tersenyum.
“Ha … ha … ha …, kurasa bukan itu hal paling memalukan yang pernah kau alami” Ucap sosok itu kembali.
“ha?, aku rasa hanya i-, eh … tunggu sebentar. Sepertinya ada satu hal yang lebih memalukan dari pada itu, kalau tidak salah awal masuk sekolah menengah pertama!”. Ucap Ray kembali.
“Ternyata kamu masih mengingatnya … di waktu itu kamu satu-satunya siswa yang paling mencolok dari yang lain dan namamu yang pertama kali diingat oleh ketua organisasi siswa bukan?” Ejeknya pada Ray.
“Su-sudah lah, lebih baik kamu lupakan itu, aku tidak ingin mengingatnya kembali”.
__ADS_1
Seketika tawa dari sosok yang bersama Ray terlepas cukup keras yang membuat Ray terkejut dengan intonasi tawanya. sosok itu memegang perutnya karena kenangan lucu yang cukup menggelitik baginya.
“Hei … itu bukanlah hal yang pantas untuk ditertawakan, aku merasa tidak ada yang pantas untuk ditertawakan di kejadian itu. Lebih baik kau menghentikan tawamu itu!”. Ucap Ray yang merasa jengkel dengan tawa sosok tersebut.
“Ba-bagai mana aku bisa menghentikannya, tapi aku benar bukan? kejadian itu adalah kejadian yang paling memalukan bagimu. Di hari pertama masuk sekolah, dirimu begitu semangat untuk bersekolah. Bangun di pukul enam pagi dan berangkat mengenakan pakaian hitam putih pukul tujuh. Sesampainya di gerbang, kamu hanya bisa terdiam dan membungkuk sembari memandangi yang lain …”
“Sudah, lebih baik kamu menghentikannya. Aku tidak mau mengingat kejadian itu, yang lalu biarlah berlalu”. Tegur Ray.
Seketika terdengar kembali tawa kecil yang cukup sederhana dari sosok itu, ia berjalan beberapa langkah untuk mendekat kearah Ray.
“Hi … hi … hi …, apa kamu merasa malu?. Untuk apa merasa malu, karena disini hanya ada kita berdua”. Ejeknya pada Ray.
“Walaupun begitu … aku tetap tidak mau mengingat kembali kejadian itu”. Ucap Ray sembari merengek.
“Sudah kubilang hentikan!... Aku tidak mau mengingatnya lagi!”.
Sembari tertawa kecil, sosok itu kembali melanjutkan ceritanya hingga membuat wajah Ray tersipu malu. Sepuluh menitpun berlalu dan sosok itu mengakhiri ceritanya dengan menyimpulkan bahwa Ray yang dulu salah mengenakan pakaian sekolah di awal perdana masuk ke sekolah itu.
Terlihat jelas Ray hanya bisa pasrah mendengarkan cerita itu sampai habis, dirinya hanya bisa menutup wajah merahnya.
“Ha … ha … ha … itu adalah pengalaman yang menarik bukan?, dari ratusan siswa baru, hanya kamu yang pertama sekali dikenal oleh kakak senior … ehe…”
__ADS_1
“Aku … aku hanya lupa, aku kira di hari itu hari rabu, makanya aku mengenakan pakaian hitam putih”. Jelas Ray membenarkan apa yang terjadi.
“Hm … benarkah?, bukannya setiap awal masuk sekolah itu di lakukan pada hari senin?. Bukan hanya di Jepang saja, bahkan di Indonesia, Amerika, Cina, Korea dan Negara manapun aturan masuk sekolah kan di awal minggu?”. Ucap sosok misterius itu pada Ray sembari menghitung setiap Negara yang ia sebut menggunakan jarinya.
“Argh … sudah lupakan saja, dan terima kasih sudah membuatku berhenti bersedih. Kamu begitu hebat mencari topik agar aku tidak memikirkan kepahitan yang kualami”.
Tanpa melihat secara langsung, sosok itu tau dari kalimat yang Ray ucapkan jika dirinya sedang melukiskan senyuman tipis di bibirnya.
“Akhirnya kamu tersenyum juga, lagipula itu bukan topik untuk membuatmu tertawa atau bahagia, sebab itu adalah cerita yang pernah kau alami bukan?”. Sembari menatap bintang-bintang diatas langit hitam.
“Huh … memang benar, sesuai dengan ceritamu aku memang mengalaminya. Argh … yang penting itu adalah kisahku. Walau terasa memalukan, tapi diwaktu itu aku menemukan dia yang mau berteman denganku”. Ucap Ray sembari melipat tangannya diatas perut.
Mendengar kalimat “Dia” dari mulut Ray, sosok misterius itu langsung melipat lutut dan tangannya secara bersamaan lalu menenggelamkan wajah sedihnya.
“Hei … apa kamu tidak merindukannya?” Tanya sosok misterius itu pada Ray.
“Ugh … aku … aku sangat merindukannya!, dia adalah sahabatku yang pertama dan terakhir. Andai waktu itu aku pulang bersamanya, mungkin kejadian itu tidak akan terjadi. Tapi … semuanya sudah terlambat. Ketika aku mendengar kabar kematiannya, aku hanya bisa terdiam dan bahkan dari waktu itu semua senyumku palsu”.
Walau wajahnya ditutupi oleh kaki dan tangan, terlihat dengan jelas jika hati sosok misterius itu sedang merasa sakit. Ia meremas pakaian putih dengan lengan pendek itu begitu keras.
“Hei … jangan pernah salahkan dirimu atas kepergiannya. Lagipula kamu tidak tau pada waktu itu dirinya sedang sakit”. Tegur sosok misterius itu pada Ray.
__ADS_1
“Di bagian itu yang menjadi masalahnya, aku menganggapnya sebagai sahabat, tetapi aku tidak tau dengan keadaannya. Tapi setelah aku mambaca buku hariannya, akhirnya aku tau alasan mengapa dia tidak mau membicarakan tentang penyakitnya itu kepadaku. Walau terasa konyol, tapi dia tidak mau membuatku cemas dengan kesehatannya. Memang butuh waktu lama agar aku dapat merelakan kepergiaannya, tapi saat ini juga aku masih mengingat tentang dirinya. Jika aku bisa bertemu denganya sekali saja, aku hanya ingin mengatakan ‘Aku menyayangimu … Kibou’.”