Reinkarnasi Ke Dunia Lain

Reinkarnasi Ke Dunia Lain
Memikirkan sebuah rencana


__ADS_3

Secara perlahan Ray bangkit untuk berdiri. Ia menatap kosong kebawah dan bersiap untuk terjun dari puncak pohon.


“Maaf, aku tidak bisa melanjutkan kehidupanku jika seperti ini.” Secara lembut angin sore membelai rambut Ray hingga terbang kebelakang.


“Jangan!” Ucap suara gadis yang tidak tau darimana asalnya.


“Hah! Siapa?” dengan nada bertanya sambil mengamati sekeliling nya. Ia mulai mengurung niatnya untuk terjun kebawah dan fokus mencari sumber suara tersebut.


“Apa kamu mendengarku!, jika iya tunjukkan dirimu. Aku tau kamu pasti disekitar sini dan sedang mengamatiku.”


Ray menunggu beberapa menit untuk balasan pertanyaannya, akan tetapi tidak ada yang muncul.


“Ternyata itu hanya perasaanku saja. Tapi kenapa begitu aneh, suara tadi sangat jelas terdengar oleh telingaku. Mungkin aku sudah terlalu lelah hingga berhalusinasi tetang suara tadi.” Ucap Ray dengan senyuman putus asa yang terlihat jelas diwajahnya.


“Baiklah, aku akan melanjutkan niatanku untuk melompat dari atas ini. Dengan hitungan mundur aku akan melompat kebawah.”


Pasrah akan apa yang ia alami, Ray kembali ke posisi awalnya untuk terjun kebawah yaitu tepat didepan monster yang sedang menunggunya.


“Ta-tapi kenapa kakiku sangat sulit diangkat dan juga dengan tubuhku, mengapa sangat sulit untuk bergerak. Hmph… ayolah, hanya sekali melompat dan menanggung rasa sakit beberapa menit lalu mati.”


Beberapa kalipun Ray memberanikan diri untuk terjun, dia tetap tidak bisa melakukannya, karena ketakutan dan rasa ngeri yang lebih besar muncul dalam benaknya.


Secara perlahan Ray terduduk kembali sambil meratapi nasibnya lagi. Ia terlihat tidak berdaya dan hanya menyalahkan kondisi sekelilingnya.


“Benar, aku hanya orang culun, aku hanya seorang penakut, aku hanya pria lemah yang mudah mengeluh, mudah mundur, dan mudah menerima kenyataan pahit tanpa adanya perjuangan yang kulakukan untuk mengatasi masalah yang menimpaku.” Ucapnya sembari membungkuk.

__ADS_1


Langit sorepun berganti menjadi langit malam yang indah. Banyak bintang bintang yang bertebaran di atas dengan memancarkan cahaya untuk menghias kegelapan malam.


Sementara itu, Ray tertidur pulas karena sudah sangat kelelahan. Ia tertidur dengan posisi punggungnya yang bersandar kebatang pohon dan ranting yang menahan tubuhnya dari kanan dan kiri.


Dalam tidurnya, Ray mendapati sebuah mimpi. Bukan mimpi yang menakutkan, melainkan suara yang sama dengan sosok yang telah membangkitkannya.


“Ray… kumohon berjuanglah, memang benar aku tidak bisa menemanimu sekarang. Akan tetapi suatu saat aku akan muncul untuk menemanimu. Maaf jika aku sudah membohongimu, maafkan aku. Untuk sekarang, aku tidak bisa bersamamu karena aku yang sekarang ini belum sempurna. Maka dari itu teruslah melangkah hingga aku mendapatkan seluruh kemampuanku yang hilang.” Ucap gadis dalam mimpi.


Secara tiba-tiba, Ray terbangun dengan kondisi kepala yang cukup sakit.


“Shhh… kenapa kepalaku tiba tiba terasa sakit.” Sembari memegangi kepalanya dengan kedua tangan. Setelah beberapa saat, sakit kepala yang Ray rasakan mulai hilang.


“Suara itu lagi, kenapa suara itu muncul pada saat kondisiku sedang dalam bahaya. Dia berkata bahwa akan muncul suatu saat nanti. Arghhh… aku tidak mengerti maksud yang ia bicarakan.” Ucap Ray dengan nada kesal.


“Tapi ada satu kalimat yang memang patut dilakukan, yaitu berjuang. Aku tidak boleh menyerah, karena ini adalah kehidupan baruku. Aku yakin pasti ada cara agar aku bisa mengalahkan monster menjijikkan itu.” tukasnya penuh semangat.


“Ehhh, ngomong-ngomong ternyata sekarang sudah malam.” Ucapnya. ‘Padahal sekarang sudah malam, tapi kenapa malam disini begitu terang. Bahkan aku bisa melihat pantulan cahaya bulan dari danau itu.’ Gumam Ray sambil memandang ketengah danau


Ray menolehkan pandangannya keatas dan melihat langit. “Wah… sangat indah. Baru pertama kali ini aku melihat langit yang indah seperti ini. Kalau ditempat asalku berada, awan malam akan sangat gelap dan hitam. Jarang muncul bintang-bintang kecil seperti ini.”


Kedua tangan Ray terangkat dan secara pelan menyentuh bulan dari posisinya sekarang walaupun tidak dapat disentuh langsung olehnya. Matanya berbinar seperti mata bayi yang baru saja melihat hal baru.


“Entah kenapa, malam disini sangat nikmat dan sunyi. Yahhhh… jika monster jelek yang dibawah tidak ada maka tempat ini sudah seperti surga yang indah.” Ucap Ray sambil menunjukkan wajah kesalnya.


Ray memandangi langit malam yang indah tersebut, ia seperti dihipnotis oleh keindahannya.

__ADS_1


“Andai saja ayah, ibu dan Seni dapat melihat langit malam ini, mungkin mereka akan berfikiran yang sama denganku. Bagaimana sekarang kondisi keluargaku, mungkin mereka sedang menangis atas kepergianku. Tapi… itu adalah jalan yang telah aku ambil dan aku tidak bisa mengubahnya.”


“Ehhh… tunggu dulu, kenapa perasaanku tidak enak?.” Ucap Ray sambil menutup matanya untuk berfikir.


“Ti-tidak, a-aku lupa membuang komik dewasa yang ada dibawah meja belajarku!” Dengan raut wajah Ray yang sangat jelas terlihat panik.


“Bagaimana jika ayah, ibu dan adikku melihatnya. Hiks… kenapa aku bisa seceroboh ini. Seharusnya sebelum mati, aku harus membuang atau membakarnya terlebih dahulu. Ya sudahlah, sekarang aku hanya bisa pasrah dengan keadaan. Lagipula aku sudah mati.”


Sementara itu, monster yang dari tadi menunggu Ray agar turun mulai tertidur. Ray secara perlahan mengamati gerak gerik yang dilakukan oleh monster itu.


“Sekarang aku harus mencari cara agar dapat membunuh makhluk itu. Jika dilihat-lihat dari bawah ini sangat mudah untuk membunuhnya. Itupun kalau seandainya aku memiliki senjata tajam.”


Mencari solusi bukanlah hal yang mudah bagi Ray. karena berbeda dengannya, Monster itu jauh lebih kuat. Baik itu manusia biasa langsung tau jika melihat sosok makhluk yang besar seperti itu memiliki kemampuan yang cukup kuat.


“Ngomong-ngomong setelah bangun dari tidur, aku merasakan hal aneh dengan pandanganku yang sekarang. Sepertinya penglihatanku sekarang lebih tajam.” Dengan cepat Ray mulai sadar akan perubahan dalam dirinya.


“Ehhh, tunggu. Dibawah kanan penglihatanku seperti ada kotak kecil. Cara membuka kotak ini bagaimana yah?. Apa ada sebuah konsol yang dapat digunakan agar bisa membuka peti kecil ini!” Ucap Ray dengan nada bertanya.


Dengan tenang Ray mencari solusi untuk membuka peti kecil yang muncul di penglihatannya. Setelah mencari cukup lama, Ray tidak menemukan adanya konsol yang muncul. Ray dengan iseng menggerakkan tangan kanannya ke arah peti kecil itu dan mulai menekannya.


“Wah ternyata berhasil, padahal aku sudah cukup lama mencari konsol pengaturannya dan ternyata harus menggunakan tangan sendiri.”


Setelah berhasil membuka peti kecil itu, Ray menemukan sebuah skill. Akan tetapi, skill itu masih terkunci dan tidak bisa langsung digunakan.


“[Diperlukan persembahan satu kepingan Roh untuk membuka skill ini.]” Baca Ray yang tertulis pada item Box tersebut.

__ADS_1


‘Hah!, Satu Roh?. Dasar bodoh, bagaimana caraku mencarikan satu kepingan Roh!. Ditempat ini hanya ada aku saja dan…’ Bentak Ray dalam hati dengan menggantung kalimatnya sambil memandang tajam kebawah.


“Dan monster sialan itu.” Sambung Ray dengan nada datar dan pandangan ingin membunuh kearah monster yang berada tepat dibawahnya.


__ADS_2