Reinkarnasi Ke Dunia Lain

Reinkarnasi Ke Dunia Lain
Kisah anak ayam


__ADS_3

“Sayang?.” Ucap ayah Ray memanggil istrinya itu yang sekarang bersama dengan Ray memperhatikan ke dalam kandang ayam.


“ssst…” Desis ibu Ray terhadap sang suami. Ia menyuruhnya untuk diam dan mengajaknya juga ikut bergabung dengan mereka.


Dengan perlahan ayah Ray melangkah pelan untuk mendekat, ia ikut bergabung dan berdiri tepat disisi lain Ray.


“Lihat telurnya sudah mau pecah.” Ujar sang ayah pada Ray.


“Papa… apa anak ayam itu akan baik-baik saja?.” Dengan tatapan masih tertuju pada telur ayam.


“Anak ayam itu akan baik-baik saja jika ia berada disisi induknya, karena induk ayam akan senantiasa menjaga dan melindungi anak-anaknya.” Jawab ayah Ray padanya sembari tersenyum tipis.


“Papa, apa anak ayam itu akan tumbuh sehat?.”


“Ha ha ha, ehhh… kalau itu papa kurang tau. Akan tetapi jika kita memberi mereka makan dan mengurusnya dengan baik, mungkin anak ayam itu akan tumbuh menjadi ayam yang sehat. Yahh begitulah kira-kira.” Jawab sang ayah dengan wajah sedikit ambigu.


Karena terlalu asik memperhatikan telur ayam, Ayah dan ibu Ray lupa jika putrinya masih didalam rumah sendirian.


“Uwa…” Tangis Seni dari dalam rumah.


Secara bersamaan mereka melirik ke arah rumah.


“Astaga, papa lupa kalau adikmu Seni masih didalam sendirian.” Dengan cepat Ayah Ray bangkit berdiri dan bergegas masuk untuk menenangkan Putrinya itu.



“Apa tadi kamu sudah makan Ray?” Tanya sang ibu.


“Belum ma, Ray belum lapar.”


“Mari kita makan bersama, mama takut nanti kalian sakit karena tubuh kalian masih sangat kecil.”


“Sebentar lagi ma, Ray ingin melihat anak ayam menetas.”


Melihat ketekunan anaknya yang masih memerhatikan proses menetasnya telur itu, ia tetap berada disamping anaknya untuk menemani.

__ADS_1


“Sayang, bukannya sudah waktunya makan pagi?.” Tanya ayah Ray yang juga mendekat kearah mereka berdua.


“Kalian berdua makan duluan saja, nanti mama sama Ray akan datang.” Jawab sang istri.


“Seni mau lihat anak ayam menetas?.” Tanya ayah Ray terhadap putrinya itu.


“Ayam?” Ucap seni.


“Ehe, gimana?.”


Dengan perlahan Seni mengangguk seadanya karena masih merasa ngantuk. Ayah Ray mendekat dan juga ikut bergabung dengan mereka, pemandangan yang begitu indah dari keluarga yang sederhana ini. Kebersamaan dan keharmonisan yang tidak dapat dilihat dari keluarga manapun, kehangatan yang menyelimuti keluarga ini sangatlah pekat.


“Papa?, anak ayam mana?.” Tanya Seni yang sedari tadi belum menemukan anak ayam yang ayahnya ucap.


“Ohhh, anak ayamnya masih belum keluar dari telur itu sayang. Seni lihatkan telur yang disebelah sayap induk ayam itu?.”


Dengan tatapan lucunya, Seni melirik kearah yang ditunjuk oleh sang ayah. Kedua telapak tangan Seni menyentuh jaring kandang ayam itu, posisinya sekarang sama seperti kakaknya Ray yang juga menempelkan telapak tangan dan wajahnya dijaring tersebut.


Keadaan seketika menghening, hanya terdengar suara ayam lain yang berkicak. Cahaya matahari begitu cerah pada pagi itu, akan tetapi mereka terlindungi dari sinar tersebut karena pohon yang cukup besar dan dengan daun yang lebat tumbuh dibelakang kandang ayam.


“Setelah anak ayam itu menetas, apa mereka akan tumbuh dengan baik.” Tanya Ray pada kedua orang tuanya.


Ray menatap wajah ibunya dengan tatapan tidak mengerti. melihat tatapan itu, ibu Ray tersenyum tipis dan menjelaskan dengan perlahan.


“Bagi binatang mereka mengikuti hukum rimba sayang, dimana yang kuat lah yang akan jadi pemenangnya. Mungkin Ray dan Seni masih belum paham, jadi begini jika ketika anak ayam pergi kesuatu tempat sendirian dan di tempat itu pula ada seekor ular, maka kemungkinan anak ayam itu akan mati.”


“Mati?, tapi kenapa. Bukannya mereka bisa berteman?.” Tanya Ray kembali.


“Hewan biasanya berteman dengan sesama jenisnya saja, nah… untuk ayam dan ular itu sudah berbeda jenis sehingga mereka tidak dapat berteman. Lagipula anak ayam yang mati dimakan oleh ular tersebut karena ayam adalah santapan yang pas bagi sang ular.” Jawab ibu Ray.


“Jadi ularlah hewan yang lebih kuat dari ayam!” dengan tatapan kembali menatap kearah telur ayam.


“Benar!, Putra ibu memang pintar.” Ucap ibu Ray dengan mengelus kepala putranya itu.


“Papa-papa, telur ayam rusak.” Ujar Seni dengan menunjuk ke arah telur yang sudah pecah.

__ADS_1


“Itu bukan Rusak anak papa cantik?, itu namanya anak ayam akan keluar dari telurnya.”


Bersamaan, mereka semua menyaksikan telur itu berubah menjadi seekor hewan lucu.


“Wahhh… anak ayam.” Ray tertakjub melihat anak ayam yang sudah jadi itu. Kedua mata Ray berbinar melihat pemandangan yan menurutnya sangat unik.


“Cit cit cit…” Suara anak ayam yang telah menetas sempurna.


“Papa, lucu.” Ucap Seni yang juga bahagia melihat pemandangan tersebut, Ia lebih mendekatkan wajahnya yang menggemaskan itu agar dapat melihatnya dengan lebih jelas lagi.


Lima menit berlalu setelah anak ayam sudah benar-benar keluar dari telur, dengan perlahan binatang kecil itu masuk kedalam bulu-bulu sang induk yang begitu lebat.


Melihat kejadian tersebut, Ray dan Seni terlihat murung. Mereka ingin melihat lebih lama lagi anak ayam yang baru saja menetas itu.


“Papa, kenapa anak ayam masuk kedalam perut ibunya?. Seni masih mau lihat anak ayam itu, papa suruh anak ayam itu keluar lagi.” Ucap Seni dengan gaya bicara yang begitu menggemaskan.


“Sudahlah anak papa cantik, lagi pula anak ayam itu butuh kehangatan dari ibunya jadi kita tidak boleh mengganggunya. Kasihan nanti anak ayam mati kedinginan, Seni memang mau melihat anak ayam itu mati?. Ucap ayah Ray kepada adiknya itu.


Ibu Ray yang ikut menonton kembali berdiri dan mulai melangkah ke depan rumah. “Ayo anak-anak kita makan, untuk anak ayam itu biarkan dia bersama dengan ibunya.” Dengan menunjukkan wajah senyumnya kepada kedua anaknya itu.


“Yahh…” Ucap Ray dan Seni serempak.


Keluarga itu bersama-sama berjalan memasuki rumah untuk sarapan pagi.


“Tapi papa-mama, ayah anak ayam itu dimana yah?. Dari tadi Ray perhatikan tidak ada ayah ayam itu di dalam kandang.”Tanya Ray sambil berjalan didepannya yang sedang menggendong adik kecilnya itu.


“Hah? Ehhh… itu, mungkin ayah dari anak ayam itu lagi mencari makan. Seorang ayahkan harus bekerja untuk memberi makan anak-anaknya.”


Mendengar jawaban Sang suami atas pertanyaan anak sulungnya, ibu Ray tertawa lepas.


“Sayang, kamu kenapa ketawa?.” Tanya suaminya itu.


“Ahhh, bukan apa-apa. Itu tadi jawaban yang sangat bagus.” Ucap sang istri yang masih saja tertawa.


“Bagaimana lagi, aku tidak tau harus bilang apa.”

__ADS_1


“Yasudah-yasudah, mari makan soalnya kita sudah kesiangan untuk makan pagi.”


Ray hanya terdiam heran, ia tidak tau apa yang lucu dari jawaban ayahnya tadi sehingga membuat ibunya tertawa.


__ADS_2