Reinkarnasi Ke Dunia Lain

Reinkarnasi Ke Dunia Lain
Strategi pertarungan


__ADS_3

“Baiklah, untuk membuka skill ini aku harus mengorbankan satu nyawa. Dan satu-satunya yang bisa aku korbankan adalah monster sialan itu.” Ucap Ray sambil memperhatikan monster yang telah tertidur lelap dibawahnya.


“Untuk sekarang aku hanya butuh sebuah rencana untuk membunuhnya. Hm…” Ray menempelkan kedua jari telunjuknya disebelah kiri dan kanan kepalanya. Ia mulai memusatkan pikiran untuk mencari cara.


Waktu berlalu dengan cepat, sedangkan Ray sedang sibuk mencari cara. Ia kewalahan untuk menemukan sebuah ide. Akan tetapi Ray perlahan mulai melirik kearah monster itu.


“Monster sebesar itu, apakah dia memiliki sebuah kelemahan?” Tanya Ray dengan nada penasaran. Ia melirik setiap bagian tubuh monster tersebut.


“Kepalanya berbentuk kera raksasa, untuk badan berbentuk singa. Ehhh… badan nya itu berbentuk singa atau harimau sih?. Entah kenapa pada bagian kakinya memiliki corak harimau sedangkan tubuh atasnya seperti tubuh singa. Ya sudahlah untuk apa aku harus memikirkan perbedaan tubuhnya.” Ia kebingungan melihat setiap sisi tubuh monster tersebut.


“Bagian terakhir yaitu ekornya. Kalau diamati ekor monster tersebut dapat melakukan penyerangan. Dan lagi pula untuk bagian ekornya itu berbentuk seekor ular yang cukup besar. Menurutku itu adalah bagian yang paling harus diwaspadai.”


Setelah memahami seluruh bagian tubuh monster tersebut. Tiba-tiba Ray teringat akan satu bagian yang menurutnya sangat mengganjal dibenaknya.


‘Ngomong-ngomong tentang bagian tubuhnya. Tadi ketika Monster itu mencoba untuk memanjat keatas sini, aku memperhatikan bagian dadanya terdapat Kristal merah yang lumayan besar memancarkan cahaya yang cukup terang. Ha...? apa jangan-jangan itu adalah bagian intinya.’ Batin Ray menyimpulkan.


‘Jika memang itu adalah bagian intinya, aku harus menghancurkannya. Baiklah mungkin untuk malam ini sangat sulit mencari cara menghabisinya. Lebih baik sekarang aku istirahat dulu dan mengawasi pergerakannya besok.’


Setelah mengakhiri pengamatannya, Ray memutuskan untuk melanjutkannya besok. Ia mengambil posisi aman untuk tidur di atas pohon tersebut. Sebelum mengistirahatkan matanya, Ray masih menyempatkan untuk menikmati keindahan malam itu.


…..


‘KUMOHON JANGAN TINGGALKAN KAMI!..., KA-KAMI TIDAK BISA MENJALANI KEHIDUPAN INI TANPAMU. KUMOHON… KUMOHON JANGAN PERGI.’

__ADS_1


Secara tiba tiba Ray terbangun karena mendapatkan sebuah mimpi yang tidak terlalu jelas.


“Hah… kenapa, kenapa air mataku turun?. Siapa kedua sosok yang ada dalam mimpi itu, mengapa aku meninggalkannya. Dalam mimpi itu, uluran tanganku secara perlahan mulai menjauh dari mereka.” Ray mengusap air mata yang jatuh kepipinya. Ia masih kebingungan dan menatap keatas.


Malam berganti pagi. Seperti biasa, tidak ada suara yang terdengar. Semuanya begitu tenang bagi Ray. Ray yang baru bangun mulai meregangkan otot tubuhnya yang terasa keram.


“Pagi disini begitu sunyi, tidak ada kicauan burung ataupun suara binatang lainnya. Bahkan monster yang dibawah ini tidak mengeluarkan suara atau auman yang menakutkan.” Sambil melirik kebawah.


“kemana perginya monster jelek itu?, bukannya tadi malam dia masih menungguku untuk turun.” Ray memperhatikan seluruh area bawah tempatnya sekarang berada.


“Dia benar-benar pergi, tapi dia pergi kemana?. Bukankah ini bagus?, aku bisa turun untuk mengambil beberapa persediaan makanan, minuman dan juga mempersiapkan senjata dibawah.” Ucapnya sambil beranjak menuruni pohon tersebut.


“Hup, walaupun sekarang monster jelek itu tidak ada, aku harus tetap berhati-hati karena aku tidak tau kapan dia akan muncul dan mengejarku.” Ray melangkah kepinggir danau dan membasuh wajahnya.


Setelah dari danau, ia mulai bergerak memanjat pohon kelapa untuk memetik buahnya. Satu persatu buah-buah itu mulai berjatuhan kebawah. Setelah habis memetik seluruh buah dari pohon tersebut, Ray turun dan mengumpulkannya.


Setelah persediaan makanan selesai, Ray duduk sebentar dan mulai merencanakan taktik penyerangan. Ia menatap ke arah pasir danau dan mulai terpikirkan suatu rencana yang cukup brilian.


‘Bagaimana jika aku menggali sebuah lubang besar di pinggiran danau itu dan menutupinya menggunakan daun. Setelah itu aku akan memancing makhluk itu untuk mengejarku. Nah, dengan begitu aku bisa mengarahkannya ke lubang yang telah aku gali tadi. Ketika monster itu masuk kedalam jebakanku barulah aku akan menguburnya hidup-hidup dan menunggu ia kehabisan nafas dan mati.’ Rancang Ray dalam hati.


‘Kalau dipikir-pikir lagi, untuk menggali lubang sebesar tubuh monster itu membutuhkan waktu yang cukup lama. Lagi pula aku hanya bisa mengandalkan sepotong kayu untuk menggalinya.’ Batin Ray.


“Argh… sangat sulit untuk mencari cara menghabisi makhluk itu.” Pikiran Ray terhenti sejenak untuk memikirkan rencana yang lainnya.

__ADS_1


“Apa aku harus menjinakkannya saja?. ah bodoh!, mana ada monster semengerikan itu yang dapat di jinakkan. Malahan nanti aku yang akan langsung dilahap.”Ucap Ray dengan senyuman pasrah.


‘Kalau dipikir sekali lagi, bukannya lebih baik aku serang monster itu dari atas pohon ini saja yah.’ Gumam Ray sambil mematangkan rencananya.


“Benar juga, aku hanya tinggal memancingnya untuk menangkapku dari atas pohon ini. Lalu aku akan melempar sesuatu yang runcing dari atas ini dan menargetkannya ke Kristal yang ada pada dada monster itu.”


Tanpa membuang waktu, Ray turun dan mulai mencari alat yang akan digunakan untuk dijadikan sebagai senjata. Melihat di sekelilingnya hanya terdapat kayu yang cukup kuat dan lumayan besar, Ray langsung mengumpulkan kayu-kayu itu dan membawanya ke bawah pohon.


Setelah terkumpul cukup banyak, Ray berjalan ke bibir danau dan mengambil beberapa batu untuk dijadikan alat pengasah.


“Yos… semua bahan telah dapat dan sekarang saatnya untuk membentuk tombak runcing.” Ucap Ray dengan nada senang.


Setiap kayu yang di kumpulkan oleh Ray diasah ujungnya hingga tajam. Walaupun cukup sulit membentuk senjata yang ia inginkan, Ray tetap bekerja dengan tekun. Tiap kayu digosokkan pada pinggiran batu agar dapar terkikis dengan sempurna.


Waktu terus berjalan hingga menjelang sore. Akhirnya Ray dapat menyelesaikan seluruh tombak yang ia perlukan sebelum malam datang.


“Akhirnya kelar juga, semua yang aku butuhkan sudah terkumpulkan.” Ucapnya.


Ray kembali berdiri dan mengangkut semua kayu yang telah menjadi tombak keatas pohon. Karena butuh waktu berjam-jam untuk menyelesaikan senjata itu, Ray pun sudah sangat kelaparan. Ia mengambil buah kelapa yang ia petik tadi dan membukanya satu persatu untuk disantap.


Ray melewati sorenya di atas pohon sambil menikmati makan malamnya “Walau hanya menyantap buah kelapa ini, aku harus tetapi bersyukur karena bisa tetap makan walau tidak terlalu puas.” Ucapnya sambil mengorek daging buah kelapa tersebut.


Secara perlahan sore pun berganti malam, cahaya matahari sore yang indah mulai redup. Ray yang masih di atas pohon turun untuk memancing Monster tersebut.

__ADS_1


“Hup… baiklah saatnya aku beraksi untuk memancing monster itu keluar. Memang lebih bagus jika aku menyerangnya malam ini, karena jika disiang hari sangat sulit untuk mengincar inti monster tersebut.”


Seluruh rencana Ray telah siap dan untuk malam itu ia akan menghabisi sang monster menggunakan usaha yang telah ia rancang.


__ADS_2