Reinkarnasi Ke Dunia Lain

Reinkarnasi Ke Dunia Lain
Ray dengan tombak buatannya


__ADS_3

‘Jangan sampai aku menimbulkan suara sekecil apapun jika aku masih ingin hidup.’ Batin Ray sembari berjalan di atas pasir putih.


Tidak membutuhkan waktu yang lama hingga Ray sampai di lokasi tempat seluruh tombak buatan Ray terjatuh. Dengan secepat mungkin, ia mengutip satu persatu tombak yang berceceran.


Setelah mendapatkan kembali semua tombaknya, Ray menyempatkan diri untuk menghitung seluruh tombak tombak itu.


‘Bukannya jumlah seluruh tombak yang kubuat ada dua belas buah yah?, sedangkan yang sudah terkumpulkan hanya sebelas buah.’ Tanya Ray kebingungan dalam hati. Merasa salah satu tombaknya hilang, Ray sekali lagi mencari dengan mengamati sekelilingnya.


‘Aku tidak boleh meninggalkan satupun tombak-tombak ini, karena aku tidak tau seberapa banyak tombak yang akan diperlukan untuk membunuh makhluk sebesar itu.’


Ray kembali membungkuk dan berjalan pelan dengan kedua tangan memeluk tombak yang telah terkumpulkan sembari mencari salah satu yang hilang.


Setelah berjalan cukup jauh dari tempat awal mencari, Ray menegakkan tubuhnya karena merasa bahwa monster tersebut tidak akan melihatnya lalu mencari tombak yang terakhir.


‘Kemana lagi aku harus mencarinya, jika aku terlalu lama dibawah ini bisa bisa makhluk itu akan keburu bangun.’ Batin Ray dengan penuh ketakutan.


Tidak seperti awal mencari ke sebelas tombak yang dapat diambil dengan mudah, tombak yang terakhir ini justru sebaliknya. Dimana Ray tidak memerlukan waktu yang lama untuk menemukan tombak tersebut. Akan tetapi, malihat lokasi tempat terjatuhnya tombak yang terakhir membuat Ray terpatung sejenak.


‘Sialan!, memang menemukan tombak yang terakhir ini sangat mudah bagiku, hanya saja bagaimana caraku untuk mengambil tombak itu jika di sekelilingnya ditutupi oleh ranting dan dedaunan kering!.’


Ray hanya diam terpaku memendangi sekeliling area tombak terjatuh.


‘Walau sekelilingnya terdapat banyak dedaunan kering, masih ada celah diantara daun yang satu dengan yang lain untukku berpijak menyeberanginya.’

__ADS_1


Dengan perlahan Ray mengangkatkan kaki nya dan memijak bagian tanah yang tidak tertutupi oleh daun kering. Melihat ruang yang tidak terlalu luas untuknya berpijak, membuat Ray terkadang kesulitan berjalan dan bahkan hampir terjatuh.


Dengan menyeimbangkan posisi tubuhnya, akhirnya Ray dapat lebih dekat dengan tombak terakhir. Karena merasa sudah cukup dekat, Ray memberanikan dirinya untuk meloncat tepat disebelah tombak tersebut.


‘Hup, pendaratan yang sempurna.’ Batin Ray.


Dengan sigap ia langsung mencabut panah yang tertancap di atas tanah dan kembali berbalik badan untuk keluar dari tempat itu.


Karena sudah menguasai area sekeliling tempat ia berada, dengan mudahnya Ray dapat keluar tanpa kesulitan seperti awal ia melewatinya.


‘Akhirnya seluruh tombak sudah terkumpulkan dan sekarang saatnya untuk kembali ke atas pohon dan memikirkan cara selanjutnya.’ Batin Ray seraya menggenggam satu tombak yang baru saja ia dapatkan.


Dengan pelan, ia kembali berjalan membungkuk menyusuri jalan yang tadi ia lewati. Karena terlalu senang telah mengumpulkan seluruh tombak, tanpa disengaja Ray menginjak ranting yang tergeletak didepannya.


Mendengar bunyi yang timbul akibat perbuatan Ray, monster tersebut terbangun dari tidur dan mengangkat kepalanya memperhatikan area sekeliling.


Merasa bahwa tidak ada kejanggalan, monster tersebut kembali tertidur.


Dengan perlahan Ray bangkit berdiri dan mengintip situasi dibalik semak tempat persembunyiannya ‘Syukurlah monster itu tidak terlalu mencurigai bunyi tadi, untung disaat yang bersamaan ketika aku menginjak ranting tadi angin juga berhembus cukup kuat.’


Ray berjalan kembali kebawah pohon besar tempat persembunyiannya, setelah sampai di bawah pohon ia menyempatkan diri untuk mangambil buah kelapa yang ikut terjatuh dari atas. tidak seperti tombak tadi yang terjatuh cukup jauh, buah kelapa yang Ray letakkan diatas pohon hanya terjatuh dekat dengan batang pohon tersebut.


‘Baiklah semua sudah siap, untuk mengangkutnya kembali aku harus memanjat pohon ini dua kali. Yang pertama yang harus kubawa lebih dulu yaitu tombak ini, jika misalkan nanti monster tersebut bangun maka dengan mudah aku akan memanjat kembali dan meninggalkan buah-buah itu dibawah.’ Batin Ray menyimpulkan.

__ADS_1


Setelah siap memikirkan rencana pengangkutan, Ray mengambil seluruh tombak dan mengikatnya dengan akar pohon yang tepat berada dihadapannya lalu melilitkan ujung akar pohon yang satunya ke lingkaran pinggang Ray.


‘Baik semua sudah siap, aku akan mulai memanjat.’


Karena tubuh Ray yang sekarang lebih tinggi dari pada tubuh pertamanya, ia dapat dengan mudah meraih dahan dan pelepah pohon.


Sesampainya diatas, ia melepaskan ikatan yang berada di pinggang dan mengikatkannya kembali di dahan pohon tersebut. setelah selesai mengikatkannya, Ray kembali turun ke bawah untuk mengangkut barang yang terakhir.


‘Hup, untuk buah ini juga aku harus mengikatnya di lingkaran pinggangku sama seperti tombak tadi.’


Dengan cepat Ray mencari akar pohon yang cukup panjang dan juga lebih kecil dari akar yang tadi ia gunakan.


‘Ha! Ini dia, sepertinya akar ini sangat cocok dan juga cukup kuat.’ Batin Ray seraya melihat dan mengetes daya kuat akar tersebut.


Setelah memutuskannya, ia mulai mengikat akar tersebut pada setiap tangkai buah kelapa. Ketika semua terikat dengan kuat, ia juga mengikatkannya kembali pada lingkaran pinggangnya.


‘Semua sudah aman dan saatnya memanjat ke atas lagi.’


Tidak seperti mengangkut tombak dengan mudah, untuk buah kelapa ini cukup sulit bagi Ray karena setiap ia bergerak sedikit ke kanan atau kiri, buah tersebut juga akan ikut bergerak ke arah yang sama.


‘Bagaimana ini, aku sangat sulit menyeimbangkan tubuhku. Jika seperti ini aku tidak akan sampai ke atas dengan cepat. Yang paling kutakutkan sekarang ialah jika monster tersebut tiba-tiba terbangun dan malihatku memanjat dengan keadaan seperti ini maka aku tidak akan bisa menghindar dengan cepat. bahkan kemungkinan besar aku akan terjatuh bersamaan dengan buah ini.’ Jelas batin Ray.


‘Jika seperti ini aku harus memutuskan untuk meninggalkan buah ini di bawah dan kembali ke atas. Tapi kalau akau melakukannya maka untuk persediaan makananku tidak akan ada, karena aku tidak tau berapa lama lagi aku akan tinggal di atas pohon ini.’ Ucap Ray dalam hati sembari berusaha untuk memanjat ke atas.

__ADS_1


Karena tidak mau harus kelaparan diatas sana, Ray memutuskan untuk kembali memanjat dengan sekuat tenaganya. Setiap Ray menggenggam satu dahan dan bergerak sedikit, buah-buah itu juga ikut bergerak. Tapi tanpa menyerah dan berusaha dengan kuat, Ray tetap bertahan dan meneruskan hingga sampai ke puncak atas.


Setelah cukup lama berusaha memanjat keatas, akhirnya Ray sampai juga di dahan yang terakhir. Ia mulai meraih dan menggenggam dengan sangat kuat dahan tersebut. “Akhirnya aku sampai di tahap yang terakhir.” Ucap Ray pelan dengan nada yang tersendak.


__ADS_2