
Tubuh besar itu ini hanya dapat berdiri tegak dengan tangan kanannya menutupi luka ditangan satunya, perlahan darah menetas cukup deras. Tatapannya kini terlihat kosong, bahkan dari arah depannya terlihat monster itu datang mendekat.
‘Hah… apa itu?, dia datang kembali menghadangku. A-aku harus bergerak… aku harus menghindarinya.’ Ucap Ray dalam batinnya.
Dia berusaha untuk bergerak tapi tetap tidak bisa, tubuh itu sangat sulit untuk bergerak kembali. Bahkan kedua bola matanya bergemetar melihat sosok besar yang datang mendekatinya.
“Bruk… bruk!...”
Suara langkah kaki itu sangat terdengar jelas di telinga Ray, kini jika dia memiliki kesempatan untuk menghindarpun pasti tidak akan sempat.
Getaran ditanah mulai terasa sangat jelas, ranting pohon disamping Ray ikut bergetar akibat hantaman kaki sang monster. kini bencana itu sudah mustahil untuk dihentikan.
Disepanjang larinya, Nue mengaktifkan serangan jarak jauhnya. Ketika ingin diluncurkan tepat ke arah Ray, tiba-tiba keseimbangan monster tersebut ambruk karena permukaan tanah yang berlubang akibat ledakan yang disebabkan oleh dirinya sendiri. Tanpa sengaja, serangan itu diluncurkan dan mengarah ke tempat Ray berada.
“Zrip… Duar!...”
Ledakan besar pun terjadi, tubuh pria itu terpental jauh dari area ledakan.
“Drup… Srak!...”
Tubuh itu mendarat tepat di permukaan tanah yang datar, sempat terseret dan kemudian berhenti dengan sendirinya. Terlihat jelas dari tubuh Ray mengeluarkan asap yang cukup banyak, kini luka bakar Nampak jelas ditubuh yang tidak tertutupi oleh pakaian. Sebagian celananya juga ikut hangus oleh sambaran petir dari sang monster.
“Argh…” Ray mendesah kesakitan, kini dia hanya dapat terbaring diatas tanah dengan seluruh luka yang berada disekujur tubuhnya.
Keberuntungan masih berpihak pada pria itu, walau menerima serangan secara langsung tapi dirinya masih tetap hidup hingga kini.
Setelah asap yang mengepul telah hilang, terlihat bahwa ledakan itu tidak tepat di tempat Ray berdiri tadi, berkat tanah yang berlubang membuat Nue melepaskan serangannya tanpa sengaja.
__ADS_1
…
‘Kakak… bangunlah, aku yakin kakak pasti bisa!’
Selama bertarung dengan sang monster, Akhirnya suara gadis kecil misterius itu terdengar kembali, Ray kini hanya menunjukkan senyum kecilnya. Ia tidak tau harus berkata apa tentang keadaan yang sedang menimpanya saat ini.
“Apa kau bodoh?... atau kau berpura-pura tidak melihat keadaanku yang sekarang. Hah!... maaf aku lupa jika kamu hanyalah Roh sialan yang berada didalam tubuh monster itu.” Umpat Ray sembari menatap melihat ke arah monster yang kini telah memperbaiki posisinya untuk kembali menerjang Ray.
Walau tidak terlihat, Roh gadis kecil yang mendengarkan kalimat itu langsung tersontak kaget. Kalimat itu sudah begitu menyakitkan, dan bahkan jika Roh itu memiliki bentuk tubuh mungkin saja dirinya sudah menetaskan air mata.
Dengan tatapan tanpa rasa bersalah Ray hanya dapat berbaring pasrah, senyum itu masih belum hilang dari bibirnya. Keadaan sekarang sudah begitu sulit untuk Ray hadapi, dirinya terus berusaha untuk bergerak tapi itu sudah teramat sangat sulit. Luka ditubuhnya juga sulit untuk sembuh, bagi Ray luka ditubuhnya membutuhkan waktu berjam-jam atau berhari-hari untuk sembuh seutuhnya.
“Jika kau ingin diselamatkan, lebih baik meminta pada dewa saja. Aku bukanlah seorang dewa atau orang spesial yang dapat dengan mudah mengalahkan monster brengsek itu. dan juga didalam sana, kamu mungkin hanya menonton dan menyaksikanku di hajar habis-habisan oleh makhluk itu bukan?. Ha.. ha.. ha.. betapa bodohnya aku, mungkin saja semua ini adalah rencanamu!. Kau merasa bahwa diriku pantas digunakan sebagai tontonan untuk menghiburmu bukan?.”
Kalimat panjang itu terucap begitu saja dari mulut Ray, dirinya tidak tau jika seluruh ucapannya telah menyakiti hati Roh gadis kecil itu. walau begitu Ray sebenarnya tidak mau mengatakannya, hanya saja semua yang dia rasakan sekarang tidaklah logis. “Banyak yang meminta tolong pada diriku tapi tidak ada satupun bantuan yang berguna bagiku” mungkin begitulah yang sekarang terlintas di benak Ray.
‘MAAF!...’
Seketika Ray sedikit terkejut mendengar kalimat pendek yang diucapkan oleh gadis kecil itu, dari nada bicara yang begitu singkat terdengar getaran nada, Ray tau jika Roh gadis kecil sedang menangis.
“Apa kamu sedang menangis?.” Tanya Ray yang kini sedang menatap lurus ke atas, dirinya memandang langit merah yang begitu buruk.
Karena tidak membalas pertanyaannya, Ray menghela nafas panjang. Dirinya kini hanya dapat terbaring pasrah.
“Dasar aneh, kamu sendiri yang merangkai skenario seperti ini, tapi… malah dirimu yang menangis!. Disini aku merasa jadi orang bodoh. Apa mungkin tangisanmu itu termasuk kedalam skenario ini?”
Mendengar ucapan Ray, Roh itu hanya bisa menangis dalam diam saja. Dia tidak tau harus berkata apa kepada Ray, karena dia tau jika dirinya memberitahukan kebenarannya mungkin Ray tidak akan percaya.
__ADS_1
“Hei… bicaralah!. Jika hanya diam saja, aku jadi tidak tau jalan permainanmu ini.” Tanya Ray menyinggung Roh tersebut.
‘Bu-bukan!... a-aku sudah berusaha membantumu. Selama ini aku diam hanya untuk mem-’
“Membantu?... Hah.. hah.. hah!, dimana letak bantuanmu itu. Dasar… masih kecil sudah pintar berbohong, jangan-jangan semasa hidupmu kau sering berbohong dan mempermainkan orang lain?. Mungkin saja kematianmu adalah sebuah karma. Bukan begitu?...”
Kekesalan Ray terhadap kalimat seperti itu sudah memuncak, kini dirinya hanya dapat mendengar semua omong kosong yang tak bermakna dari Roh tersebut.
“SUDAH CUKUP!...”
Mendengar bentakan Roh sang gadis kecil, Ray langsung terkejut dan memutar pandangannya ke arah monster didepannya.
‘A-aku tidak pernah mempermainkanmu, bahkan aku tidak paham skenario yang kamu maksud. Aku berusaha semampuku agar bisa membantumu. Memang benar saat pertarungamu dengan Nue, aku tidak melakukan kontribusi sama sekali. Tapi-’
Seketika Ray memotong kalimat panjang Roh tersebut, karena apa yang dilihatnya sekarang tidak bisa dipercaya walau benar-benar nyata.
“Tunggu sebentar, sekarang aku per-”
Kini kalimatnya lah yang dipotong oleh Roh gadis misterius itu.
‘Tapi sekarang aku sudah bisa membantumu, aku sudah membuktikannya. Sekarang lihat ke arah monster ini, aku sudah bisa menghentikannya. Selama kita bicara saja sudah membutuhkan waktu yang cukup lama, dan dari tadi juga monster ini tidak menyerangmu bukan?!. Kenapa… kenapa… kenapa!... kenapa kau mengatakan kalimat sekejam itu padaku.’
“Hei… hei… sudah aku-”
Belum sempat mengucapkan kalimatnya, Roh itu langsung memotong kembali kalimat Ray dan melanjutkan seluruh kekesalan yang sudah tak terbendung lagi.
‘Maafkan aku, aku tau bagaimana sakit yang kakak rasakan saat ini. Tapi… kumohon jangan membenciku, aku tidak memiliki siapa-siapa selain kakak.’
__ADS_1
Mendengar seluruh ucapan Roh menyadarkan Ray akan kalimat apa yang diucapkannya tadi. Matanya seketika layu dan kini dirinya merasakan penyesalan atas yang apa yang telah ia ucapkan.