Reinkarnasi Ke Dunia Lain

Reinkarnasi Ke Dunia Lain
Panggil aku Riel


__ADS_3

“Tidak mungkin… jangan bilang jika-”


{Benar… sekarang seluruh energi kehidupan yang aku kumpulkan sudah mencapai batas, aku tidak bisa berlama-lama lagi Ray karena secara perlahan aku akan menghilang dengan sendirinya.} Ucap gadis itu memotong perkataan Ray, dengan telapak tangannya yang membelai rambut hitam Ray yang seolah-olah masih utuh tersebut.


Disaat sang gadis mulai menghilang, seluruh wilayah dalam kubah mulai bergerak dengan perlahan. Ray memperhatikan daun yang melayang tepat di samping gadis yang berada dihadapannya itu mulai bergerak untuk terjatuh.


Melihat pemandangan yang tak ingin ia lihat, membuat air mata Ray mulai mengalir melewati pipi manisnya. Ia tak kuasa menahan bendungan air mata yang sedari tadi terbendung, seketika itu pula Ray langsung terjatuh dan berlutut dipermukaan dahan pohon yang lebar dengan kedua telapak tangannya menyentuh kulit pohon untuk menopang tubuhnya itu.


Isak tangis terdengar ketelinga sang gadis misterius itu, ia hanya dapat melihat Ray dengan keputus asaannya yang begitu dalam.


“Kumohon…! Ja-jangan tinggalkan aku. A-aku tidak bisa berjalan sendiri, jadi kumohon padamu untuk tetap bersamaku walau hanya dalam bentuk cahaya roh saja.” Pinta Ray dengan suara serak tangisnya.


Mendengarkan permintaan itu, gadis misterius tidak dapat mengabulkannya dan hanya mendekat dan kembali memeluk Ray yang sudah tersungkur menangis.


{Ray… maaf, aku tidak bisa mengabulkan permintaanmu. Dan satu lagi, aku yakin kamu bisa melangkah walau hanya sendiri. Aku dapat merasakan kekuatan yang begitu luar biasa didalam dirimu, suatu saat kekuatan itu akan muncul. Aku tau kamu adalah orang yang begitu spesial di dunia ini, maka dari itu kamu tidak akan selamanya sendiri, kamu akan menemukan orang yang sangat berharga.}


Puncak isak tangis Ray langsung pecah, disetiap isak tangisnya hanya terselip kata “Kumohon”.


{Kamu tau, dulu aku hidup sebatang kara di suatu tempat yang belum pernah terjamah oleh manusia. Aku hidup sendiri selama 400 tahun, tidak ada yang menemaniku selain kesepian. Tapi… aku bisa menjalaninya tanpa ada masalah apapun. Memang begitu sakit jika hidup sebatang kara, akan tetapi hal yang lebih sakit adalah melihat orang yang kita cintai pergi dan tak akan kembali lagi.}


“AKU TIDAK MAU SENDIRI LAGI!” Bentak Ray dengan kuat.


Dengan suara khasnya yang begitu lembut, ia menyuruh Ray untuk mengangkat kepalanya. Walau gadis itu masih belum siap untuk meninggalkan Ray, ia hanya menguatkan hatinya dengan tersenyum manis dihadapan Ray.


{Ray ingat kalimat ini sebelum aku akan menghilang seutuhnya: Tidak ada pertemuan yang akan selalu abadi, disetiap pertemuan akan ada perpisahan, dan itu berlaku di dunia ini.}


Ray mengangkat wajahnya dan mulai menatap kearah sang gadis misterius, ia melihat dengan mata kepalanya sendiri gadis itu menghilang secara perlahan.

__ADS_1


Ketika Ray melihat bahwa tubuh wanita yang tadi dihadapannya sudah mulai memudar, ia menanyakan sesuatu yang membuat gadis misterius itu tersenyum lebar “Siapa namamu?.”


{Aku tidak bisa menyebut nama asliku, tapi kamu bisa memanggilku dengan sebutan Riel.}


Walau masih berat bagi Ray untuk melepaskannya, ia memaksakan dirinya untuk tersenyum melihat Riel yang sudah mulai menjauh walaupun itu hanyalah senyuman palsu.


“RIEL…!, TERIMAKASIH ATAS SEMUA YANG KAU BERIKAN KEPADAKU, AKU AKAN MENJAGA DAN MENJALANINYA DENGAN BAIK…!” Teriak Ray dengan sangat keras. “Dan terimakasih karena sudah memperhatikan dan menemaniku walau aku tak dapat melihatnya selama ini.” sambung Ray dengan nada rendah setelah berteriak.


Setelah tubuh Riel kembali menjadi sebuah cahaya Roh, ia mengucapkan kalimat terakhirnya sebelum benar-benar lenyap untuk selamanya.{Terimakasih juga Ray karena sudah memanggilku dengan sebutan itu.}


Dengan sekejap cahaya Roh Riel membias, dan seluruh kubah dipenuhi dengan serpihan cahaya kecil.


Ray kembali bersedih dengan air mata yang masih saja turun membasahi pipinya. ‘Aku akan mengubah dunia ini menjadi dunia yang kau inginkan. Aku bersumpah!’ Batin Ray.


Satu persatu serpihan cahaya yang menyebar menghilang dengan perlahan, disaat itu pula waktu yang berhenti didalam kubah menghilang dengan sendirinya.


Ray dengan tatapan kosongnya masih menatap ke depan tepat dimana Riel hilang seutuhnya. Ia merasa bahwa itu semua hanyalah sebuah mimpi, akan tetapi ketika ia melihat bahwa botol dengan cairan berwarna hijau didalamnya melayang tepat didepan Ray, membuat ia menyadari bahwa itu adalah sebuah kenyataan besar.


Monster yang terus menggali menimbulkan ayunan ringan pada pohon yang Ray singgahi.


“Jika ini adalah misi pertamaku, aku akan mengakhirinya dengan sempurna.” Ucap Ray dengan tangan kanannya memegang cairan penyembuh tersebut.


Ia mengambil dan membuka penutup botol menggunakan tangan kirinya, dengan kesedihan yang masih terasa dilubuk hatinya, ia menghabiskan ramuan itu dengan sekali tegukan.


Dengan tubuh yang agak terhuyung-huyung, Ray bangkit berdiri dan pandangannya terarah ke bawah. Raut wajahnya secara drastis berubah, lengan kanan dan luka pada tubuh yang tadi membekas dan terasa sakit dengan cepat langsung sembuh.


“Ha ha ha… aku akan menghabisimu saat ini.”

__ADS_1


Ia melangkah kearah tombak yang ia letakkan, Ray melepaskan ikatan yang mengikat tiap tombak tersebut.


“Sekarang, akan aku gunakan kehidupanku yang kedua ini untuk mencari jati diriku yang sebenarnya. Setelah itu, aku akan mencari alasan mengapa Riel terbunuh dan membalaskan seluruh dendamnya.”


Ray melepas tombak pertama dan untuk tombak lainnya, ia mengikatkannya di pundak agar mempermudahkan Ray melakukan serangan beruntun.


“Mari kita mulai pertarungan yang sebenarnya!...”


Dengan tatapan tajamnya, tombak yang telah ia siapkan langsung diluncurkan sekuat tenaga dan tepat mengenai bagian ekor Nue. Ray tau jika ekor monster tersebut dapat mencari lokasi mangsanya menggunakan radar pendeteksi.


“Groar!...”


Teriakan monster tersebut begitu keras hingga membuat telinga Ray berdengung.


“Ah…, aku sangat benci aunganmu itu monster sialan!.” Dengan sigap ia kembali menarik tombak kedua untuk melakukan perlawanan.


Melihat bahwa Ray akan melakukan serangan kedua, sang monster membalikkan tubuhnya dan dengan tenaga yang cukup kuat, ia menendang batang pohon yang membuat Ray kehilangan keseimbangan.


“Kaparat sialan!... kamu pikir aku akan terjatuh seperti waktu itu. Jangan berharap lebih dasar makhluk bodoh!.”


Karena sudah terbiasa atas guncangan yang monster itu berikan pada Ray, membuatnya memiliki kemampuan dalam menyeimbangkan tubuh di atas pohon.


Ray kembali menyeimbangkan tubuhnya dan melakukan penyerangan lagi. Ia melihat bahwa ekor monster tersebut masih dapat bergerak walau sudah terluka cukup parah, dan dengan kesempatan itu ia melakukan serangan kedua dan mengarahkannya ke bagian ekor yang terluka.


“TERPUTUSLAHHH!...” Dengan kekuatan penuh, Ray melempar tombak kedua. Serangan itu tepat mengenai ekor Nue dan membuatnya terputus dari tubuh utamanya.


“GROAR!…” teriakan sang monster semakin keras akibat serangan fatal yang ia terima, darah terus bercucuran dari bagian ekor yang sudah terputus.

__ADS_1


__ADS_2