Reinkarnasi Ke Dunia Lain

Reinkarnasi Ke Dunia Lain
Pertarungan yang sebenarnya (3)


__ADS_3

“grr.. grr”


Sang monster berputar seolah-olah mengalami sakit kepala yang teramat luar biasa, sering kali Ray melihat monster itu menggeram kesakitan. Salah satu kaki depan sang monster menyentuh matanya yang kemasukan pasir.


Tak terlalu memperdulikannya lagi, Ray kembali mencari cara bagaimana dirinya bisa menggunakan senjata sependek itu. dengan kedua tangannya, ia menggabungkan 2 bagian yang telah patah. dirinya berharap bahwa bagian yang terpisah itu dapat tersambung kembali.


“Sial!... apa aku harus memperbaikinya?, bagaimana bisa aku melakukannya. Waktu yang diperlukan untuk membuat ulang satu senjata saja memerlukan kurang lebih 10 menit.” Geram Ray, dirinya hanya bisa memandang kesal dan menggenggam kuat potongan kayu dari tombaknya itu.


“Srak.. srak…”


Suara langkah kaki Ray kembali terdengar, tidak jauh dari tempatnya sekarang, dirinya kini berlari ke arah pohon tempat ia bertahan dari serangan monster tersebut. Dengan sigap tangannya menyisikan tiap dahan pohon yang menutupi tempat itu, terlihat bahwa ada sesuatu yang harus ia temukan disitu.


“Hah?...”


Ray terkejut dengan apa yang ia lihat. “Semua tombak yang kugunakan untuk menyerang makhluk itu telah hancur, bahkan mata tombak yang menurutku sangat keras juga hancur berkeping-keping.”


Dirinya hanya dapat menatap pasrah senjata yang telah hancur itu, kini yang tersisa dan yang hanya bisa digunakan ialah tombak pendek yang dipegang olehnya.


“Groar!...”


Raungan kencang dari sang monster terdengar kembali. Tanpa memperdulikan senjata-senjata itu, dirinya berbalik dan melihat ke arah sang monster yang kini mulai aktif kembali.


Nue yang kini sudah mulai membaik perlahan membuka kedua matanya, awalnya pandangannya masih kabur. Penglihatan Nue masih buram berkaca-kaca, bahkan batang kayu besar yang membuatnya tersandung tadi masih kurang jelas terlihat.


Melihat hal itu, Ray mulai terlihat sedikit panik. Sekarang hanya tombak pendek itu yang dapat ia gunakan untuk bertarung melawan sang monster. tidak seperti tombak pada umumnya, sekarang senjata itu terlihat seperti belati baginya. Dengan cekatan, Ray memutar kepala tombak itu kebawah dan memegangnya seolah-olah itu adalah belati sungguhan.


“Baiklah, aku akan menggunakan tombak kecil ini.” Seketika dirinya melihat kembali tombak yang ia genggam.


“Ngomong-ngomong soal tombak, kini senjata ini terasa seperti belati.” Ucap Ray dengan sikap kuda-kuda.

__ADS_1


Disisi lain pandangan Nue kini sudah membaik, Hal yang paling pertama Nue lihat ialah Ray. Sekejap kedua bola mata monster itu yang tadinya masih putih kekuningan sekarang berubah menjadi merah bercampur hitam. Seluruh eksistensi dalam tubuh Nue kini meningkat drastis, emosi yang melonjak dan luapan kemarahan yang tidak dapat dibendung sudah begitu terlihat.


“Syu… Bzt.. Bzt..”


Atmosfer di dalam kubah kini sudah meningkat drastis, awan yang tadinya hanya hitam biasa, kini telah berubah menjadi awan merah yang disertai dengan petir.


Melihat itu, Ray sudah langsung tau jika monster yang berada didepannya sekarang sudah sangat marah.


‘Ternyata begitu!, tingkat amarah monster sialan itu sudah pada batas puncaknya. Mungkin ini saatnya dia akan mengeluarkan serangan beruntun.’ Batin Ray mengutuk sang monster.


Dalam keadaan seperti ini, Ray masih terlihat menunjukkan bahwa dirinya siap bertarung walau keringat dingin mulai terasa ditubuhnya akibat kengerian yang ia rasakan.


Dengan cepat getaran dipermukaan tanah mulai terasa kembali, kini monster itu melesat cukup cepat ke arah Ray. tidak seperti yang tadi, kayu yang besar saja dapat diterobos oleh kaki besar monster itu.


“Baiklah, aku juga akan ma-”


Belum sempat melengkapi kalimat ucapannya, serangan secara mendadak diluncurkan Nue tepat menerjang Ray.


“Zrip… Duar!...”


Ray yang kini terlihat sedang terduduk diatas tanah dekat dengan ledakan itu, kedua bola matanya melebar menatap lubang besar dihadapannya.


“Hah.. hah.. hah..”


Nafas besar terdengar dari mulut Ray. ‘Astagaaa!... jika tadi aku tidak menghindarinya, mungkin aku sudah mati dan tubuhku berubah menjadi abu.’ Gumam Ray dengan tatapan terkejut.


Belum sempat untuk menenangkan diri sebentar, serangan kedua kembali diluncurkan Nue kepada Ray.


“Zrip… Duar!…”

__ADS_1


Suara ledakan yang kedua kembali terdengar, dengan kedaan yang sama seperti ledakan pertama, lubang itu kini terbentuk ditempat Ray terduduk tadi. Asap hitam terlihat mengepul diledakan itu, tidak terlalu lama asap hitampun menghilang.


“ASTAGAAA!... ke-kenapa harus diwaktu yang berdekatan. Untuk kedua kalinya nyawaku terselamatkan. Dasar monster sialan, sepertinya dia tidak ingin memberikanku kesempatan untuk bangkit berdiri.” Ucap Ray yang kini posisinya tidak terlalu jauh dari ledakan kedua.


Disisi lain monster itu kini sudah mulai dekat denga Ray, melihat bahwa ledakan yang ia luncurkan tidak mengenai targetnya, Nue mulai mengumpulkan energi sihir di ujung tanduknya.


Melihat hal itu, Ray dengan cepat berdiri. Dalam hitungan detik serangan ketiga diluncurkan ke arahnya.


“Zrip… Duar!...”


‘Huh… untung aku sempat menghindari serangannya yang ketiga.’ Batin Ray.


Karena asap tebal yang mengepul di area ledakan memberikan keuntungan bagi Ray, kini dirinya sedang bersembunyi di balik batang pohon yang sudah tumbang. Lokasinya saat ini sekitar 10 meter kedepan dari tempat ledakan terjadi.


Tepat dengan ledakan itu terjadi, Nue kini sudah berada di area ledakan. makhluk itu menunggu asap hitam itu mulai menghilang. Selang beberapa detik asappun menghilang, Nue melihat bahwa serangan ketiga yang diluncurkannya tidak mengenai Ray.


Kedua bola mata besar makhluk itu berputar mengamati area setempat untuk mencari ray.


“GROAR!...”


Raungan kencang kembali terdengar, dan kini raungan itu berbeda dari biasanya. Raungan itu menggelegar disertai dengan angin yang begitu kencang. Seluruh pohon yang tumbang juga ikut bergeser.


Beruntung Ray bersembunyi dibalik pohon yang pernah ia jadikan tempat untuk menghindari sang monster. karena ukuran pohon itu jauh lebih besar dari pohon lainnya membuat angin yang dihasilkan oleh Nue tidak membuatnya bergeser.


‘Syukurlah… Aku pikir pohon ini akan ikut bergeser. Jika iya, maka monster sialan itu akan menemukanku. Dan mungkin saja aku akan tertimpa oleh kayu sebesar ini. Membayangkan jika aku tertimpa pohon sebesar ini saja sudah membuatku merinding.’ Batin Ray.


Merasa bahwa monster itu tidak lagi meraung, Ray dengan pelan bergerak membalikkan tubuhnya dan berusaha untuk mengintip situasi dari balik pohon.


Kini monster itu terlihat sedang mengendus tanah. Dan terkadang makhluk itu berjalan mengitari lubang hasil ledakan tadi.

__ADS_1


‘Dia mencariku dengan mengendus bauku, perilakunya sangat begitu mirip dengan seekor anjing. Yah… monster itu memang masih berkerabat dekat dengan anjing sih, tapi semoga saja dia tidak menemukanku.’ Gumam Ray kembali.


Karena sudah merasa sedikit aman, Ray kembali melihat belati yang ia pegang. Dirinya sekarang hanya dapat membayangkan cara agar ia dapat menyerang monster sebesar itu dengan serangan jarak yang begitu dekat.


__ADS_2