Rembulan Yang Di Rindukan

Rembulan Yang Di Rindukan
Berbagi Cerita Dengan Ayah


__ADS_3

...****************...


Next..


Sehari terlewati setelah acara pertemuan antara Lewis dan Rembulan, kini Rembulan tinggal menunggu hari pernikahannya yang akan diselenggarakan beberapa hari lagi.


Anthony sudah tidak lagi mempekerjakan Rembulan untuk mengerjakan pekerjaan rumah, karena dia tidak ingin saat hari pernikahan Rembulan tiba, sang anak malah jatuh sakit.


Bukan karena peduli, tapi dia hanya tidak ingin Lewis Wilson murka karena Rembulan mengacaukan pesta nanti nya.


"Bibi Arum, apa Bibi melihat Ayah? Tanya Rembulan pada sang Bibi di dapur.


"Iya Nona, bibi tadi melihat Tuan Antony sedang duduk di teras samping rumah." Jawab Bibi Arum kepada Rembulan.


"Aku akan membuatkan kopi untuk Ayah, aku ingin bercerita sedikit dengan Ayah, apakah dia mau Bibi?" Tanya Rembulan dengan ragu ragu. Ingin sekali rasanya Rembulan bercerita kepada sang Ayah sebelum hari pernikahan nya.


"Nona, meskipun Tuan tidak pernah menyukai keberadaan nona, saya yakin kalau hanya sekedar bercerita, Tuan pasti mengijinkan." Jelas Bibi Arum menenangkan Rembulan.


Rembulan termenung sejenak apakah benar sang Ayah tidak akan keberatan? "Baiklah bibi aku akan menemui Ayah sekarang" Rembulan tersenyum membawa secangkir kopi untuk sang ayah dia berharap ayahnya akan mau mendengarkan cerita nya.


...****************...


Rembulan melihat sang Ayah duduk di kursi yang ada di samping teras, entah apa yang dipikirkan oleh Ayahnya itu terlihat sedang memikirkan sesuatu. Sangat jarang dia melihat ayahnya melamun tapi entah kenapa sekarang rembulan melihat ada gurat kesedihan di wajah tua Ayah nya itu.


"Ayah.." Ucap Rembulan kecil. Antony pun menoleh kaget melihat keberadaan sang anak di dekatnya. dia melamun sampai tidak mendengar langkah kaki Rembulan menghampirinya.


"Ekhm!! Ada apa? Tanya Antony berusaha menghilangkan rasa terkejutnya di hadapan putrinya itu.


"A-aku hanya ingin bercerita dengan ayah, apakah boleh? Aku janji tidak akan lama.." Lanjut Rembulan agar di bolehkan.

__ADS_1


"Baiklah, apa yang mau kau bicarakan? jawab Anthony pada sang anak.


"Ini aku membuatkan kopi untuk Ayah, biar Ayah bisa ebih santai." Rembulan meletakkan secangkir kopi dihadapan Ayahnya.


Antony melihat gelas berisi kopi itu, lalu mengambilnya. Perlahan dia menyeruput sedikit, membuat rasa pahit bercampur manis itu terasa sangat hangat di tenggorokan nya.


Dia melihat sang anak, lalu menaikan alis nya bertanya


"Terimakasih kopinya, apa ada masalah yang mau kau bicarakan? Tanya Antony kembali."


"Sebenarnya nya tidak ada masalah Yah, hanya saja seperti alasan ku sebelum nya, entah kenapa aku ingin sekali berbincang dengan Ayah." Jawab Rembulan menatap kepada Ayah nya.


Antony memandang Rembulan kembali, sebenar nya tidak ada yang salah dari kata kata sang Anak, hanya saja Antony merasa keadaan sekarang sangat berbeda pada saat mendiang Istri nya hidup di tengah tengah mereka.


"Bicaralah yang jelas Rembulan, kau sangat tahu bukan? Situasi seperti ini terjadi karena apa? Itu semua karena dirimu sendiri!" Tukas Antony datar.


Rembulan hanya bisa menundukkan kepala nya, bulir bening mengalir di ujung mata bulat itu. Dia menangis tanpa suara.


Disini pun dia tidak mau kejadian naas tersebut menimpa keluarga nya, tapi apakah pantas dia di benci seburuk itu?


"Aku juga tidak menginginkan hal itu terjadi Ayah, semua diluar keinginan ku. Jika saja aku tau Ibu akan melindungi ku, aku pasti lebih memilih aku yang mati saat itu juga!" Ucap Rembulan sangat terluka.


Luka itu sangat terlihat di mata nya, bahkan Antony tertegun melihat mata yang sangat mirip dengan bola mata mendiang istri nya itu memerah menahan tangis.


"Apa Ayah tau, selama ini aku menyalahkan diri ku sendiri! Tiada hari tanpa rasa bersalah yang selalu membuat ku sesak setiap saat.


Andai.. andaikan saja, Tuhan mengabulkan keinginan ku, saat ini pun aku siap mati untuk menebus nyawa Ibu." Air mata itu mengalir deras, suara tercekat seakan sulit bernafas.


Jelas saja itu menggambarkan betapa rapuh nya sang Rembulan.

__ADS_1


Selama bertahun tahun hidup dalam rasa bersalah, menggerogoti jiwa yang saat itu sangat butuh sandaran dari orang terdekatnya.


Bukan nya mendapat dukungan atau penghiburan, malah kejadian tragis itu membuatnya jadi dalang utama.


Dia di benci, dia di jauhi, dia diasingkan, bahkan lebih parah nya dia di jadikan pelayan di rumah nya sendiri.


Selama ini Rembulan berpikir, semua yang dia terima dari keluarganya adalah bentuk hukuman karena menghilangkan nyawa sang Ibu. Dia bahkan ikhlas menjalani kehidupan yang sangat jauh berbeda dari sang Kakak. Tapi sekuat apapun dia bertahan, dia pun hanya seorang gadis kecil dengan hati yang rapuh di saat itu.


"Aku tidak akan memaksa Ayah untuk memaafkan ku, hanya saja aku ingin Ayah tidak bersikap dingin lagi padaku. Aku merasa sakit setiap kali Ayah menjauhi ku, apalagi Kakak, dia sangat benci pada ku. Disini bukan hanya dia yang merasa kehilangan Ibu, aku jauh merasakan nya apa lagi itu terjadi karena aku. Padahal aku sangat ingin mempunyai saudari yang menyayangi ku!" Ucap Rembulan terisak lirih.


"Bahkan selama ini aku rela mengikuti semua keinginan kalian, berharap aku bisa kembali di sayang. Tapi aku hanya membuang-buang waktu saja." Lanjut Rembulan mengeluarkan sakit hati nya.


Sang Ayah seakan mati kutu mendengar kesakitan putrinya saat ini, apa mereka sudah sangat keterlaluan pada Rembulan?


Entahlah, Antony pun tidak tau, dia selama ini hanya berfokus pada kesakitan nya saja dan Berlian. Mereka berdua sangat tepukul akan kepergian sang Istri tercinta, seakan lupa disini yang paling terluka adalah anak bungsu nya.


Terluka batin dan fisik secara bersamaan, menyalahkan diri sendiri akibat perginya sang Ibu untuk selama lama nya. Ah, untung saja Rembulan tidak gila hidup dalam tekanan selama ini.


"Baiklah Ayah, aku rasa hanya itu saja yang aku bicarakan, sebenar nya aku hanya ingin bicara santai dengan ayah bukan untuk membahas masalah yang lainnya. malah aku merasa sangat sedih saat ini." ucap rembulan kemudian kepada ayahnya.


"Ayah, maaf kalau aku mengganggu waktu santainya Ayah, aku akan kembali ke kamarku. Ayah juga jangan banyak pikiran, itu tidak baik untuk kesehatan Ayah." Rembulan perhatian akan kondisi kesehatan ayahnya.


"Sekali lagi terima kasih karena Ayah mengizinkan aku untuk berbicara." Rembulan tersenyum kepada Anthony dan berlalu menuju kamarnya.


"Ya!" Antony hanya menjawab singkat dan melihat kepergian sang Anak. Banyak kalimat yang berputar di kepalanya saat ini, dia masih merangkai kejadian yang selama ini terjadi. Baik itu pada Dia dan Berlian, maupun Rembulan.


Benarkah semua langkah yang dia lakukan selama ini?? Antony hanya bisa membatin.


...****************...

__ADS_1


 


hallo, maaf ya up nya tersendat² 😭🙏 soalnya ini perjuangan banget buat nulis, mana gue amatiran banget buat ngarang cerita!! huhu... maklumi selalu ye guys 🥲


__ADS_2