
Selamat membaca 💜
...----------------...
Rembulan yang kini sudah didalam toilet pun memegang dada nya yang berdebar tak beraturan.
"Gila! Kenapa dia semakin hari semakin menjadi! Huhu .. apa yang harus aku lakukan?" Gumam Rembulan bingung.
Tok! Tok! Tok!
"Cepatlah, apa kau mau tidur di dalam sana? Kalau iya, maka aku akan pergi meninggalkan mu." Lewis mengetuk pintu toilet dan berteriak.
Ceklek!
"Ekhem ..! Baik Tuan ayo kita pulang" Cicit Rembulan langsung menyembulkan kepala nya dari dalam.
Hati nya memaki Lewis yang tidak memberikan dia waktu mengatur nafas dan detak jantungnya. Baru berapa menit dia di dalam sana, sudah di panggil langsung oleh Lewis.
"Hem" Jawab nya lalu berlalu meninggalkan Rembulan yang masih di pintu toilet.
Melihat itu Rembulan lekas beranjak meraih tas nya dan mengejar langkah kaki Lewis.
Saat membuka pintu terlihatlah seorang yang ketahuan melihat adegan mesra sang CEO di depan sana. Jelas saja mata mereka saling melihat dan lebih nya lagi Lewis lah yang melihat dia dengan tajam. Siapa lagi jika bukan Assisten Caka?
Rembulan yang melihat Lewis tiba tiba berhenti di depan pintu yang terbuka langsung mengangkat kepala nya dan melihat Caka telah berdiri menyambut mereka keluar. Kontan saja wajah Rembulan kembali memerah saking malunya mengingat kejadian di dalam tadi. Bagaimana bisa dia mengangkat wajah nya melihat Assisten Caka? Malu dong! Haiss..
Tidak hanya Rembulan saja yang malu melihat Caka, justru saat ini Caka ingin sekali menghilang dari bumi melihat Lewis yang seakan menguliti nya hidup hidup. Padahal bukan dia yang melakukan hal hal yang IYA IYA, tapi kenapa disini seakan dia yang ketahuan melakukan nya?
Ku mohon jangan menatap aku seperti itu Tuan! Hiks!
"Menyingkir dari depan ku Caka!" Akhir nya Lewis bersuara juga, bisa di tebak jika sang CEO masih kesal padanya.
Entah kenapa tatapan Lewis membuat Caka mati berdiri jika sudah begini.
Ekhem!
"Y-Ya Tuan, silahkan .." Assisten Caka tersadar jika berdiri di tengah pintu dan itu menghalangi jalan Lewis dan Rembulan.
Bagaimana bisa aku bodoh sekali? Saking malu nya aku tidak bisa berpikir jernih! Hu hu hu!
Rembulan membungkuk hormat pada Caka yang dia lewati, tak berani melihat Assisten suami nya itu saat ini. Betapa memalukan nya pikir Rembulan! Padahal dia melakukan nya dengan suaminya bukan? Jadi apa yang salah disitu? Tapi tetap saja, Rembulan yang tidak pernah melakukan hal seperti itu merasa sangat buruk.
Saat keduanya telah berlalu Asissten Caka pun bernafas lega. Bagaimana suhu di sekitar nya menjadi panas akibat tatapan maut sang CEO.
"Huh .. Kedepan nya aku akan menambahkan jadwal untuk Tuan Muda -" gumam Caka kecil. Ya, aku akan menambahkan jadwalnya untuk ber - ekhem jika Nyonya Muda ikut kekantor. Lanjut Caka Dalam hati.
Agar kedepan nya dia tidak melakukan kesalahan seperti ini lagi, untung saja yang dia lihat hanya sebatas pangutan mesra! Bagaimana jika yang tadi dia lihat lebih dari itu ...?? Aaaa batin Caka berteriak histeris membayangkan nya 🙈
__ADS_1
"Baiklah, mari kita anggap tidak terjadi apa apa!" ucap Caka, kemudian mengejar langkah Lewis dan Rembulan yang sudah turun ke lantai bawah menuju mobil.
...----------------...
Lewis dan Rembulan pun masih berada dalam lift dan keduanya terlihat saling diam. Lewis yang masih bersikap santai berbanding terbalik dengan Rembulan yang gugup hanya berdua saja di dalam kotak besi itu.
Lewis pun melihat gerak gerik nya dari pantulan kaca lift itu, Istri nya itu hanya menundukkan kepalanya dan meremat kedua tangan bergantian. Sontak saja Lewis menoleh ke samping nya melihat Rembulan..
Ekhem!
Rembulan yang mendengar deheman itu mengangkat wajah nya melihat ke arah Lewis. Kedua mata itu saling bersitatap dengan arti yang .. entahlah!
"Kenapa kau selalu menundukkan kepalamu? Jangan sembarangan memberi hormat orang yang di bawah mu." Ucap Lewis karena merasa tidak terima saat Rembulan membungkuk hormat di depan Caka tadi.
"A-Akan aku ingat Tuan." Balas nya.
"Hem" seperti biasa Lewis menjawab dengan singkat.
Ting!
Bunyi lift yang terbuka mengembalikan kesadaran kedua nya. Lalu Lewis lebih dulu keluar disusul oleh Rembulan berada di belakang nya.
Begitu pula dengan Caka yang muncul belakangan, setengah berlari mengejar langkah Tuan nya itu.
Lalu dia mencoba mengatur nafas nya, kemudian membukakan pintu mobil untuk sang CEO dan Istri nya.
Ekhem! Silahkan Tuan ..
"Apakah Tuan sudah mulai masuk ke kantor besok pagi? Caka malah bertanya yang lain. "Cuti Anda masih tersisa 2 hari lagi Tuan .." lanjutnya lagi pada Lewis.
"Buat apa aku cuti? Jika bukan karena Ayah dan Ibu datang kesini aku tidak akan libur. Bukan kah kau lebih tau dari pada mereka? Tanya Lewis mendelik pada Caka.
Kenapa Assisten nya ini tiba tiba saja bodoh? Apa yang akan dia jelaskan pada Kedua orang tua nya andaikan dia tidak libur setelah menikah? Bukankah kecurigaan pada nya akan semakin besar.
"Maaf Tuan, saya kira ada alasan lain nya anda mengambil cuti .." Jawab Caka menundukkan kepala nya pada Lewis.
"Ck, sudahlah! Aku mau pulang." Jawab Lewis.
Rembulan yang sudah masuk lebih dulu ke dalam mobil hanya menjadi pendengar setia di samping Lewis.
Hufft! sangat memalukan .. bagaimana aku menghadap Assisten Caka seperti biasa? Huhu! Kenapa juga dia melihat kami melakukan itu.
Larut dalam lamunan nya, Rembulan bahkan tidak sadar saat Lewis duduk di samping nya, mobil pun sudah berjalan meninggalkan area kantor itu.
Saat supir tiba tiba saja menginjak rem mobil mendadak membuat kedua anak manusia di kursi penumpang itu terhuyung ke depan. Untung saja Lewis dengan sigap menahan tubuh Rembulan agar tidak terbentur kursi di depan nya.
Posisi Lewis yang memeluk Rembulan jelas saja membuat kedua nya berdebar tidak tau kenapa.
__ADS_1
Ck! Selalu saja begini! Setiap situasi yang aku lewati bersama nya selalu saja begini!
Lewis menggerutu dalam hati. Jelas saja posisi begini akan sangat menguntungkan buat nya. Tapi disaat Lewis masih sadar dengan kewarasan nya masih berfungsi, dia tidak akan mengulangi kejadian yang seperti di dalam ruangan nya tadi.
Mencium?? No! Dia masih waras untuk tidak melakukan itu didalam mobil.
Apa lagi tidak hanya mereka berdua saat ini, masih ada supir di depan sana. Mengingat itu Lewis langsung melepaskan pelukan nya di pinggang itu.
"Bangunlah, apa kau sangat suka ku peluk begitu?" ucap Lewis pada Rembulan yang hanya menatap nya.
"Ti-Tidak!" Rembulan bangun dan gelagapan saat Lewis mengatakan itu. Kemudian dia baru tersadar di depan sana supir sedang melihat mereka dari kaca depan.
Ekhem!
Gugupnya Rembulan dia coba untuk seperti biasa saja.
"Ada Pak, kenapa rem mendadak?" akhirnya Lewis bertanya pada sang supir apa yang terjadi barusan.
"Maaf Tuan, di depan sana seperti nya terjadi kecelakaan. Mobil di depan kita tiba tiba saja berhenti, demi menghindari masalah saya rem mendadak tadi." Jelas sang supir pada Lewis
"Lain kali berhati hati lah. Kau bisa saja membahayakan penumpang mu jika rem mendadak seperti ini." Jawab Lewis datar karena dia sedikit kesal.
Entah apa yang dia kesalkan, tapi dalam hati nya bagaiman jika tadi Rembulan terluka?
Membayangkan itu saja Lewis kembali kesal.
"Baik, Tuan. Sekali lagi maafkan saya." sang supir tidak berani melihat kebelakang, karena dia bisa merasakan kemarahan atasan nya itu. Untung saja sang Nyonya tidak kenapa Napa, pikirnya.
Setelah melewati jalan macet yang panjang akibat kecelakaan tadi, akhirnya keduanya telah sampai di halaman mansion keluarga Wilson.
Seperti biasanya, pintu akan segera di bukakan oleh para penjaga yang berdiri di sana, dan menunduk hormat.
Rembulan yang masih kaku di perlakukan seperti itu pun kembali membungkuk hormat pada penjaga yang ada di sana dan mengucapkan terimakasih.
Cih, baru saja aku mengatakan pada nya tadi untuk tidak membungkuk hormat pada sembarang orang!
Malas melihat tingkah Rembulan pun kini Lewis berjalan lebih dulu meninggalkan nya di sana.
"Dasar gadis aneh" Lewis masih saja menggerutu sambil berjalan.
Sampai kedalam Lewis langsung menuju kamar mereka. Pekerjaan singkat yang dia lakukan hari ini benar-benar sangat melelahkan. Itu hanya mengurus satu tender proyek saja, belum tender yang lain nya.
Jika ada yang menganggap posisi sebagai CEO itu enak, itu salah besar. Sekarang saja kepala Lewis rasanya ingin pecah memikirkan semua pekerjaan nya itu.
Karena menurut Lewis jabatan dalam bekerja hanya bonus. Karena dia memiliki tanggung jawab serta kemampuan untuk menjalankan pekerjaan sesuai dengan jabatan nya.
Dan jika pun jabatan nya rendah maka tanggung jawab tidak seberat dan rumit orang yang memiliki jabatan tinggi seperti dia.
__ADS_1
...----------------...
Hallo, terimakasih sudah membaca karya Author ya 🥰 mari tinggalkan jejak serta dukungan dari kalian 😍