
**Hallo semua nya, Selamat Membaca karya Baru Author ya**
...----------------...
Sesampainya Rembulan di rumah, dia bergegas menuju kamar yang menjadi tempat nya berkeluh kesah disaat sedih. Contoh seperti saat ini, Rembulan akan menangis sesegukan dengan menutup wajah dengan bantal kusam miliknya di dalam kamar.
Saat melewati ruang santai di samping kolam, Antony melihat Rembulan berlari sambil mengusap pipi nya menuju kamar yang terletak di bagian belakang rumah besar nya. Antony penasaran apa yang terjadi pada Rembulan, tapi dengan cepat dia membuang rasa ingin tahu nya itu. Kadang dia merasa kawatir dengan kondisi Rembulan yang kadang jatuh sakit akibat kelelahan, tapi dengan sekuat tenaga dia menekan rasa peduli itu agar hilang dalam hatinya. "Untuk apa aku mengawatirkan anak pembawa sial itu? Aku tidak akan pernah melupakan kejadian naas itu! Geram Antony mengepalkan tangan.
"Ibu.. rasanya sangat sakit sekali Bu!!" Ucap Rembulan tersendat-sendat menepuk dada berharap sesak itu akan berkurang.
"Apa Ayah tidak menyayangi ku sama sekali? Kenapa susah untuk membuat Ayah menyukaiku seperti dulu" Tangisan Rembulan kian menyayat hati. Dia gadis yang rapuh dihadapkan dengan kehidupan yang jauh dari kata BAHAGIA.
Setelah puas menangis satu jam lebih di dalam kamar kecil nya Rembulan berniat keluar untuk memulai pekerjaan nya kembali.
Saat masuk ke dalam dapur Rembulan berpas-pasan dengan sang Ayah.
"Ayah sedang apa, Ayah membutuhkan sesuatu?" Tanya Rembulan cepat. Antony memperhatikan wajah anak yang selama ini dia abaikan, terpancar jelas gurat penuh kesedihan di wajah mungil itu walaupun senyum tipis selalu menghiasi bibirnya.
__ADS_1
Antony membuang wajahnya kesamping mengalihkan rasa aneh dalam hati saat melihat senyum tipis Rembulan kepadanya. Antony tau itu bukan senyum bahagia, tapi terkesan memaksa.
"Tidak, Ayah tidak butuh apapun" jawab Antony singkat.
"Baiklah Ayah, Apa boleh aku meminta sesuatu pada Ayah?" tanya Rembulan takut.
"Hmm" Antony menjawab acuh.
"Ijinkan aku memeluk Ayah untuk terakhir kali?" Tanya Rembulan lirih menundukkan kepalanya.
Dan pikiran nya pun kembali ke masa silam, ya masa yang penuh dengan kasih sayang di keluarga Albertcius. Saat mendiang istri tercinta masih ada di tengah tengah mereka bertiga.
Itu adalah masa yang paling membahagiakan selama hidup seorang Antony Albertcius. Bukan hanya dia saja, tapi buat kedua putrinya pun begitu.
Matanya memerah mengingat masa itu, dengan cepat dia mengalihkan wajah nya ke samping agar sang anak tidak melihat.
"Ya" Jawab Antony singkat.
__ADS_1
"Terimakasih Ayah" Rembulan langsung memeluk sang Ayah tercinta dengan erat, seakaan tidak ada lagi hari esok untuk memeluk sang Ayah. "Terimakasih sekali lagi Ayah, aku sangat senang akhirnya bisa memeluk Ayah kembali" gumam Rembulan kecil di pelukan sang Ayah.
Sedangkan Antony membeku saat mendapatkan pelukan dari sang anak, dia merasakan kalau baju nya basah. Ya, Rembulan menangis di pelukannya!!
Ingin sekali rasanya Antony membalas pelukan sang anak, tapi kedua tangan nya seakan kaku untuk bergerak. Mungkin keegoisannya masih mendominasi untuk saat ini. Jadi dia biarkan saja Rembulan memeluknya erat.
"Terimakasih Ayah mau memelukku" ucap Rembulan sambil tersenyum lebar pada sang Ayah. Padahal Antony sama sekali tidak membalas pelukannya.
"Aku akan mengingat ini sebagai pelukan perpisahan kita Ayah" Jawab Rembulan. "Pelukan seorang Ayah untuk anaknya yang akan menikah beberapa minggu lagi" Ucap Rembulan berkaca kaca.
Bukan tanpa alasan Rembulan meminta hal itu pada Ayah nya, karena dia sangat yakin tidak ada lagi waktu berpamitan pada sang ayah di hari pernikahan pada saat itu.
Entahlah, Rembulan merasa dia akan semakin jauh dari keluarga nya. Terlepas dari semua perlakuan buruh Ayah dan Kakaknya, dia sangat menyayangi mereka berdua. Berdoa dalam hati semoga Ayah dan Berlian akan bahagia setelah dia keluar dari rumah ini.
...****************...
"Terimakasih sudah membaca ya, jangan lupa untuk selalu kasih dukungan nya"
__ADS_1