
12 Desember jam setengah empat sore
Aku dan teman temanku, termasuk Dinda. Sudah Sampai di depan sebuah rumah di daerah jerokuta kidul. Aku akan menelusuri rumah Maura, karena selama ini aku sama sekali dilarang mengunjungi rumah itu selama Dua Bulan terakhir.
" ini rumahnya?" Tanya Wildan yang memperhatikan rumah itu dari luar. " besar juga ya!! Apa kita bagi dua saja timnya?" Tanya Rion. " benar juga, kita bagi dua. Zafran,Rion dan Dinda. Sedangkan gua sama Wildan." Ucap Dimas.
" Boleh... kalau begitu tim Dimas ke barat dan timur. Sedangkan Gua,Rion dan Dinda ke Selatan dan Utara." Ucap Zafran. " oke kalau begitu ayo masuk." Ucap Dimas.
" Permisi... kakak kakak mau pada ngapain?" Tanya Alesha, gadis yang tinggal di sekitar rumah itu. " kenalin saya Rion, apa benar ini rumahnya Maura?" Tanya Rion. " iya benar, tapi sejak Kak Maura meninggal rumah ini menjadi hancur sebagian dan banyak hantunya. Dan keluarga kak Maura tidak tinggal disini lagi." Ucap Alesha.
" hah? Tapi kalau kita masuk boleh kan?" Tanyaku pada Alesha. " boleh, ayo aku antar." Aku dan teman temanku masuk kedalam areal rumah itu. Setelah masuk kedalam, aku harus menerima kenyataan bahwa rumah Maura yang biasanya rapi kini Terbengkalai dan Kerusakan dimana mana. Sedih rasanya.
__ADS_1
" Eh ada Shroud Man." Ucap Dinda. " shroud man, tinggal bilang pocong aja apa susahnya sih?" Tanya Rion. " minggir lu, gua kesini bukan buat ketemuan sama lu." Ucap Rion yang meneruskan penelusuran.
" ini kok kayak sisa kebakaran ya??" Tanyaku pada Alesha. " iya, memang di malam keributan itu rumah ini sempat terbakar dan berhasil dipadamkan. Beberapa minggu kemudian, hujan lebat turun dan membuat atap rumah ini runtuh." Ucap Alesha.
" oke, Kita berpencar ya!!" Aku,Rion, Dinda dan Alesha menelusuri areal di selatan dan utara rumah itu. Saat memasuki kamar Maura, aku menemukan sesuatu yang membuat dadaku sesak. Yaitu surat undangan pernikahan dan Hantaran Pernikahan.
" gua enggak sadar, ternyata Maura sudah dijodohkan dan akan segera menikah. Tapi sayang, Tuhan berkehendak lain." Ucapku sambil memunguti Surat Undangan itu.
" Monitor Dimas,Wildan menemukan Sesuatu?" Tanyaku pada Dimas melalui Handy Talkie. " monitor.. gua sama Wildan menemukan Sepasang pakaian pengantin dan semua perlengkapannya." Ucap Dimas.
" Neng, kamu tahu soal pakaian itu?" Tanyaku pada anak gadis yang ikut bersamaku. " Iya, seharusnya tanggal 3 Agustus adalah hari pernikahan kak Maura." Ucap Alesha.
__ADS_1
" Hah?? Zaf.... sedih banget...besoknya mau menikah, Maura kehilangan nyawa secara tragis." Ucap Dinda yang menangis di pelukanku. " Tenang saja, ayo kita ke check point." Ucapku yang berjalan menuju pintu depan.
" Halo Dimas, Wildan. Mana pakaian pernikahannya?" Tanyaku pada Dimas. " ini, kita keluar sekarang." Aku dan teman temanku keluar dengan membawa barang barang yang kita temui.
" Makasih ya En.... mana dia?" Tanyaku yang kebingungan. " Hei, kalian maling ya?" Tanya Azizah. " ehh... bukan bukan... kita disini mau mengambil sampah sampah ini." Ucap Dimas.
" ohh... kok kalian bisa masuk kedalam rumah ini?" Tanya Azizah. " tadi teh kita ketemu sama anak gadis, tingginya sebahu saya dan dia menjelaskan secara terperinci terkait rumah ini." Ucapku pelan.
" oh, Dia namanya Alesha. Dia meninggal karena sakit sebulan yang lalu." Ucap Azizah. " Dari tadi kita di prank sama hantu? Hedeuhh" Gumam Wildan. " Kalian tak perlu khawatir. Kalian membawa barang barang itu untuk apa?" Tanya Azizah.
" Kita lagi menyelidiki kematian Maura yang misterius. It's okay kita bisa mengatakan Maura meninggal karena sakit. Tapi sepertinya sebelumnya ada sesuatu yang lebih dulu menimpa Maura." Ucapku pada Azizah.
__ADS_1
" Oh ya sudah, lebih baik kalian pulang." Ucap Azizah. " oke, makasih. Kalau begitu kita semua pamit. Mari, Assalamualaikum" Ucapku yang pergi pulang mengendarai motor dan Membonceng Dinda.