RESIDENT KIDS ( Ghost Hunter)

RESIDENT KIDS ( Ghost Hunter)
Gerbang Ghaib


__ADS_3

Beberapa menit kemudian


Ariani secara tak sengaja membuka sebuah ruangan yang merupakan gerbang menuju dimensi lain. Setelah itu, beberapa makhluk menyeramkan keluar dari ruangan itu dan membuat kekacauan.


" Aaaarrrrgghhhh" Ariani kerasukan mahluk yang cukup kuat dan ia pun dikuasai oleh mahluk itu. Lalu ia membuat kekacauan di acara perjodohan kakaknya yang di sekaliguskan dengan tunangan.


" Aaaa!!!" Semua orang berhamburan keluar saat Ariani yang dikuasai oleh mahluk jahat itu membakar areal dapur dan merusak beberapa hiasan yang digunakan dalam acara itu.


" Mana Anna?" Tanya Dinda dengan tatapan tajam. " Dinda.... kamu kenapa sih?" Tanya Ayahnya yang mulai khawatir. " Heh kenapa kamu sebut sebut anak itu hah?" Tanya Pak Tarso.


" dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya. Mereka telah menghilangkan nyawaku." Ucap Dinda.


" Maura?" Tanya Zafran yang memanggil nama itu. Dinda menoleh dan berkata," mereka ada disini." Ucap Dinda.


" Maksud kamu Anna telah membunuh?" Tanya Pak Deni. " Iya, harusnya anda malu menikahkan anak gadis dengan keluarga pembunuh." Ucap Dinda dengan tatapan sinis.


" Kini kalian harus menerima akibatnya." Dinda mengedipkan mata, kemudian membuat Pak Tarso dan Feri terlempar sejauh beberapa meter.

__ADS_1


Dinda berlari dengan sangat kencang menuju areal dalam Rumah. " Zaf, kita susul dia." Zafran dan kawan kawannya berlari masuk ke dalam rumah.


" Eee tunggu!!! Di dalam juga ada kekacauan, kita harus bagaimana?" Tanya Rion. " kita lawan mahluk mahluk aneh itu." Ucap Zafran.


Zafran,Wildan,Rion dan Dimas melawan mahluk mahluk aneh itu dengan tangan kosong. Mustahil memang, tapi dengan usaha yang keras dan kerja sama mereka berhasil mengalahkan Mahluk itu.


" Kini kalian harus mati!!" Ucap Anna yang memegang senjata api jenis revolver. Anna menembak Pak Tarso dan Ferry setelah sebelumnya sudah membunuh Bu Elma.


" hahahaha...... Haus darahku terobati." Ucap Anna dengan perasaan puas.


Dengan Tatapan tajam, Dinda terus berlari dan menimbulkan suara Dengungan yang sangat keras hingga memekakam telinga dan Mengeluarkan Bau yang menyengat hingga membuat seisi ruangan mual mual.


" Ahh... maneh Buang Angin nya Zaf? Bau!!" Gumam Rion. " Eh nyalahkeun... buruan tiarap... soalna saha wae anu ngadangukeun suara kenceng ieu...bisa Pupus." Ucap Zafran yang tiarap.


Seisi rumah telah mati, termasuk Anna. sudah menerima akibat dari perbuatan mereka. " Zaf... kita berdoa bersama sama." Zafran dan kawan kawannya pun membaca ayat kursi.


"Aahhh" sosok yang menguasai Ariani berubah menjadi abu karena terbakar dan Maura berjalan menuju sebuah cahaya dengan mengenakan pakaian serba putih.

__ADS_1


Jam setengah tujuh pagi


Zafran terbangun dan ia sadar kalau dia sudah berada di sebuah rumah sakit ternama di daerah Bogor. Rani yang ada di sampingnya pun terbangun dan memanggil dokter.


" Dok!! Dokter...." Panggil Rani pada dokter yang menangani Zafran. " iya sebentar saya periksa dulu." Ucap dokter kevin.


" oke.... Mas Zafran lukanya sudah sembuh dan lusa mas Zafran boleh pulang." Ucap Dokter Kevin. " terimakasih dok." Ucap Rani.


" Sama sama... kalau begitu saya pamit dulu." Dokter keluar ruangan dan Rani mengusap kepala kakaknya itu. " kakak... kakak lusa bisa pulang... cepat sembuh ya kak." Ucap Rani.


" Wildan,Rion sama Dimas mana?" Tanya Zafran. " apa Zaf?" Tanya Wildan yang naik kursi roda, Rion yang memegang tongkat dan Dimas yang mengalami luka di keningnya.


" lu semua enggak apa apa?" Tanya Zafran. " enggak... Dinda saat ini sedang menjalani terapi trauma healing oleh psikolog." Ucap Dimas.


" oke..." Ucap Zafran. " jadi siapa yang bakal duluan nikah?" Tanya Zafran. " pastinya elu, tinggal nunggu Dinda pulih aja." Ucap Rion.


" hemm... lu bener juga... tapi kalau mau nikah sama Rani tunggu setahun lagi ya!!" Ucap Zafran. " apa sih kakak? Yang penting kakak sembuh dulu." Ucap Rani. " iya adikku sayang.." Ucap Zafran yang mencubit pipi Rani.

__ADS_1


__ADS_2