
13 September jam setengah sepuluh pagi
" Zafran!!! Kita Lulus!!" Ucap Dinda yang memberikan kertas berisi nama nama siswa SMA Harapan Baru yang lulus. " Alhamdulillah..." Ucap Zafran yang bersyukur.
" Aahh...kepalaku!!" Ucap Dinda yang memegangi kepalanya. " Kamu kenapa Din?" Tanya Zafran. " kepala aku sakit Zaf." Ucap Dinda yang mengerang kesakitan.
" Sebentar Zaf, sepertinya itu ada yang sakit deh. Ayo kita kesana." Dinda berlari menghampiri gadis yang sakit itu. Saat tiba disana, Dinda menangis histeris.
" Ndin, kamu kenapa?" Tanya Zafran yang khawatir. " Zaf Tau enggak? Gadis yang sakit ini adalah bayangan Maura saat sebelum dibunuh." Ucap Dinda.
" Yaudah... Ikhlaskan saja dia, kita hampir menemukan siapa pembunuhnya." Ucap Zafran yang menenangkan Dinda.
__ADS_1
" Zaf... kita lulus Zaf." Ucap Rion,Dimas,Safira dan Anita. " iya," ucap Zafran pelan. " Zaf, kita punya kabar bagus buat lu." Ucap Rion.
" apa itu?" Tanya Zafran. " gua dapat kabar kalau Anna, dan pak Karim ada sebuah acara di Dekat Komplek. Kita bisa ungkap semuanya." Ucap Rion.
" Lu benar. Ayo pulang." Zafran dan kawan kawannya pun bergegas pulang untuk memulai misi ini.
13 September jam setengah sembilan malam
Zafran dan kawan kawannya memasuki areal pesta kecil kecilan milik Bu Elma. Ya memang acara itu adalah acara arisan biasa. Yang dihadiri oleh ibu ibu dan kalangan pengusaha lainnya.
" Iya...ini sih acara mewah bukan acara kecil kecilan." Ucap Zafran yang berjalan masuk menuju Aula Utama.
__ADS_1
" Nah itu Dinda." Ucap pak Deni, ayah Dinda. " Dinda.. kemari sayang." Panggil Pak Deni. " iya ayah, ada apa?" Tanya Dinda.
"Dinda... kenalkan ini Pak Tarso dan ini Anaknya namanya Feri, ayah sudah berjanji dengan pak Tarso kalau ayah akan menjodohkan kamu dengan Feri. Ayah harap kamu mau ya??" Ucap pak Deni.
Dinda diam tak bergeming. Dan ayahnya pun penasaran dengan perubahan sikap anaknya itu. " Din? Kamu kenapa? Kamu marah? Kok kamu diam saja sih?" Tanya Pak Deni.
Dinda hanya menunduk diam seribu bahasa. " Din, kamu harus mau!! Malu dong sama pak Tarso. Dia kan teman ayah sejak SMA. Ayah sudah bersahabat dekat sekali." Dinda hanya diam tanpa bicara.
" Dinda... keputusan ayah ini Final dan tidak dapat diganggu gugat." Ucap Pak Deni dengan Tegas. Dinda menatap Pak Deni dengan tajam lalu tertawa dengan suara yang menyeramkan.
" Dinda? Kamu kenapa sih?" Tanya Pak Deni yang keheranan dengan sikap Dinda.
__ADS_1
Dinda menoleh lalu menatap Zafran. " ini bukan acara arisan, tapi acara pertunangan Dinda." Ucap Dinda yang dirasuki Maura.
" pantas saja Dinda berdandan cantik dengan pakaian kebaya seperti itu, tunangan rupanya." Batin Zafran dalam hati.