
Sepuluh tahun lalu
Amara Restiana Ramadhani, seorang gadis kecil berumur 6 Tahun. Menjadi korban kecelakaan setelah mobil yang dikendarai ayahnya mengalami kecelakaan Tunggal di daerah Ciawi. Ayah dan ibunya meninggal dalam kecelakaan itu, sedangkan Intan selamat.
Setelah kecelakaan itu, ia menjadi Yatim Piatu. Ditemani Indri, sang kakak. Ia berjalan jalan di lapangan dekat rumahnya.
__ADS_1
" kamu mau apa? Es Krim?" Tanya Indri. " Iya kak." Ucap Amara dari atas kursi roda. " yaudah, kakak belikan." Indri pun meninggalkan Adiknya untuk membelikan es krim.
Amara memperhatikan anak anak yang sedang bermain sepak bola, pandangannya tertuju pada Dua anak yang sedang duduk dan berbaring di pinggir lapangan. Ia pun berinisiatif menghampiri dua anak itu.
" Hai, kalian enggak ikut main?" Tanya Amara pada dua anak itu. " Enggak...badan aku capek.." ucap Salah satu anak. " kalau kamu kenapa?" Tanya Amara lagi. " aku jatuh tadi, kakiku sakit." Ucap anak yang mengenakan kaos jersey Bola itu.
__ADS_1
" makasih ya pak." Ucap Indri yang selesai membeli es krim. " Amara? Dia lagi ngobrol sama siapa ya?" Tanya nya penasaran. " Amara? Kamu lagi ngobrol sama siapa? Ayo pulang!" Ucap Indri.
" Zafran, Afnan. Aku pulang dulu ya!! Daah." Amara dan kakaknya pulang ke rumahnya. " Amara... dua anak itu teman baru kamu?" Tanya Indri. " iya, mereka anak yang baik. Nanti aku akan mencoba untuk jauh lebih mengenal mereka berdua." Ucap Amara. " ooh.. iya bagus." Indri dan Amara kembali melanjutkan perjalanan pulang menuju rumahnya.
" Nih makan es krimnya!!" Kakaknya lalu duduk disamping Amara yang sedang duduk di kursi roda. " anak anak tadi dari mana?" Tanya Indri. " aku lupa kak, enggak nanya dia dari mana." Ucap Amara.
__ADS_1
" oh Yaudah...teruskan saja makan es krimnya." Ucap Indri yang mengusap kepala Amara. " Kasihan adik. Dia kehilangan mama dan papa. Tenang Amara, Kakak dan Nenek siap membesarkan kamu." Batin Indri dalam hati.
" Zaf yang tadi Cantik juga ya?" Tanya Afnan. " tentu saja." Ucap Zafran. " semoga besok kita ketemu lagi." Ucap Afnan. " iya, kamu benar." Ucap Zafran yang melangkahkan kakinya menuju rumahnya.