Rihana Gadis Taruhan

Rihana Gadis Taruhan
RGT010


__ADS_3

"ck... sangat cantik bocah ingusan ini..." Jeni menelan silvanya kasar. Matanya yang bulat seperti koin logam itu tak henti-hentinya menjelajah setiap lekukan tubuh semampai Rihana.


Sedangkan Dewi dan para prajurit lain, duduk berkumpul di pojok ruang tahanan, bersandar pada dinding beton yang menjadi pembatas dengan kehidupan di luar sana.


Lama-lama Jeni mendekati Rihana yang masih belum tersadar. Tangan Jeni yang terkenal seperti nampan itu, mengusap pipi dan membelai rambut hitam Rihana. Terdengar nafasnya yang engos-engosan, layaknya seorang atlit yang berlari memburu garis finish.


"cup ..." Ciuman Jeni mendarat di kening Rihana.


"Aku mulai menyukaimu cantik..." Gumam Jeni yang langsung naik ke tempat tidur, dan mendekap Rihana di sebelahnya. Udara di hidung Ratu penjara itu menghembus kencang pada kulit leher Rihana.


Sedangkan penghuni lain, hanya bisa memandangi sinetron live di hadapannya.


Jeni tampak semakin bernafsu, ketika tercium wangi natural aroma tubuh Rihana.


Jeni memang memiliki kelainan, penyuka sesama jenis. Kata lainnya adalah jeruk makan jeruk. Tak kuasa menahan diri, begitu melihat kecantikan Rihana. Walaupun satu bangsa, yaitu bangsa wanita.

__ADS_1


Lagi-lagi tangan Jeni tak mau diam, terus menggerayami meneliti bagian-bagian tubuh Rihana, yang sebenarnya Jeni juga punya.


Saat Jeni tengah asyik bermain dengan nafsu gilanya, tubuh Rihana menggeliat. Tihana merasakan adanya tangan kekar setengah lembut, merangkul tubuh mungilnya. Rihana pun brontak, sebab orang yang melingkarkan tangannya itu adalah Jeni yang menganiayanya tadi.


"aaarg...! Kamu jangan berbuat tidak senonoh kepadaku! Apa yang kau lakukan, dasar bajingan. Jerit Rihana, dan tangannya yang mungil menjambak rambut galing Jeni. Kuku tajam Rihana mencakar wajah Jeni yang satu senti lagi akan bersentuhan dengan wajah cantik Rihana. Bahkan bibir monyong Jeni sudah siap melahap bibir Rihana.


"Wadaw..., nyeri banget...!" Jeni melengking, dengan cepat tangannya menutupi wajahnya yang dirasa perih akibat ulah Rihana. Rangkulannya pun melonggar, membuat Rihana leluasa meloloskan diri dari terkaman sang raksasa wanita itu.


"hap!"


"Cepat kejar dia dan tangkap hidup-hidup. Jangan sampai terluka sedikit pun tubuhnya. Segera lakukan sekarang! jadi jangan bertanya lagi kapan dilakukan, apa lagi menawar tahun depan!"


Jeni seumpama panglima perang yang menabuh genderang tempur,, memberi komando agar prajuritnya maju ke medan laga.


Serentak, lima anak buah Jeni bergerak mengejar Rihana, mirip sekelompok anak yang sedang bermain kucing tangkap. Berhamburan mengepung Rihana dari berbagai penjuru. Kemudian kembali mematung. Menunggu instruksi selanjutnya dari sang jendral agung.

__ADS_1


"Nah selanjutnya, adakah di antara kalian yang punya pendapat, bagaimana caranya menaklukan bocah ini tanpa menangkapnya." Jeni bertanya dengan raut wajah serius.


"Maksudnya bagaimana Tuan Nyona... aku belum paham." Julia anak buah Jeni yang sedikit cerdas bila dibandingkan dengan yang lainnya, mencoba bertanya kepada wanita gagah penguasa ruang sel itu.


"Justru itu, aku pun belum terbayang strateginya... atau kita bertanya saja kepada Polisi Kunkun yang menjaga Lapas ini ya!?"


Kening Jeni mwngkerut, menguras otaknya barangkali ada ide di dalamnya walau secuil. Namun Jeni menggelengkan kepalanya, tak menemukan apa-apa dari buah pikirannya.


Melihat pemandangan di hadapannya, Rihana mengacungkan telunjuknya, sambil berusaha sekuat tenaga menahan tawanya takut jika akhirnya tawanya tertangkap lensa mata Jeni, bisa bahaya akibatnya.


"Sepertinya aku punya ide yang bagus...!" Ucap Rihana, dan Jeni pun menoleh dengan tatapan berbinar.


"Benarkah..., kalau bebitu ayok katakan jangan ragu..." Jeni mengangkat jempolnya, dan senyumnya pun mengembang.


*******

__ADS_1


__ADS_2