
Benar saja…
Lajur jalanan yang membelah kota, telah riuh dengan suara gerungan kendaraan roda dua berukuran jumbo
Ada juga yang sedang mencumbu wanita seksi dengan dandanan yang menor, bajunya yang kurang bahan pun dipertontonkan kepada para lelaki yang menikmati pandangannya itu
Jalanan yang sepi
Angin yang berhembus kencang
Sesekali terdengar lolongan anjing dari kejauhan
Seolah nyanyian biasa di telingaa jantan-jantan yang berkeliaran saat itu
“Mana dia, belum terlihat batang hidungnya! Apa mungkin diia takut? Hahaha”
Suara tawanya menggelegar, menyeruak bau alcohol dari mulutnya
“Belum Tuan, kita tunggu saja, apakah dia masih punya nyali?”
Bombom ikut tertawa terbahak, seolah taka da raasa takut sedikit pun dengan aksinya
Iya, Bombom adalah pengawal setia kepercayaan Liyan Ketua geng motor Tiger
“Sambil menunggu, kita lanjutkan permainan kita Tuan….”
Bombom kembali membagikan kartu gapleh kepada majikannya dan 2 teman lain
Sesekali terdengar seeruan, tawa, bahkan dengus kesal karena menuai kekalahan
Beberapa jam lamanya, mereka bekutat dengan perannya masing-masing
“Tuan! Tuan!”
Seorang dari anak buah Liyan tiba-tiba berseru histeris
“Cih, sialan kamu, mengganggu saja! Ada apa? Cepat katakana!”
Liyan mendongakan kepalanya, wajah amarah pun terbit dari raut muakanya
“Mmmmaaf Tuan……. Iiiiittu……”
“dug!”
Hentakan sepatu mahal yang dikenakan sang Tuan besar geng motor Tiger pun menyalurkan kekesalannya, menghantam perut pria gempal, anak buahnya itu
“aaaaart……..!”
Ia meringis kesakitan, tubuhnya terpental 30 centi ke belakang
“Cepat katakana! Ada apa hah!”
“I I Iya Tuan…” Sambil terengah-engaah dan menahan rasa sakit akibat tendangan bosnya itu, Deri anak buah dengan perawakan gempalnya, mulai berbicara
“Tuan, aku melihat seorang gadis cantic sedang berjalan seorang diri. Bukankah kita sedang mencari seorang gadis untuk dipertaruhkan pada pertaarungan kali ini?”
Tutur Deri dengan raut wajah takut
“Hah! Yang benar kamu bicara, kalua tidak mau mulutmu kurobek sekarang juga!”
Liyan membulatkan matanya, seolah-olah ingin menelannya mentah-mentah
Deri semakin ketakutan.
Tubuhnya bergetar, mundur dengan jarak bertambah jauh dari sang majikan
“Kau mau ke mana hah!”
Liyan semakin murka
“Ti ti tidak Tuan… hanya…”
“Sudah kubilang jangan bertele-tele hah!”
“Tuan, aku benar-benar melihat seorang gadis sangat canti seorang diri di sana.”
Telunjuk Deri mengarah jalanan berkelok yang menghubungkan dengan jalanan Ibu kota yang sepi dan gelap
Liyan tertegun.
Mulutnya menyeringai, terlintas ide kotor di benarknya.
“Hahaha, dasar milik, tentu tidak akan ke mana. Hei, ayok kita tangkap gadis itu untuk kita jadikan piala taruhan mala mini. Dan kalian pastikan, mala mini adalah milikku. Hahahaha”
__ADS_1
“Baik Tuan!”
Dengan sigap dan kompak, sejumlah anak buahnya bergerak menuju arah yang ditunjukan oleh Deri
Flash back
Rihana yang semakin dihantui rasatakutnya, terus memutar otak untuk bisa keluar dari rumah itu
“Bagaimana caranya ya, aku tidak mau menjadi korban lagi. Hiks hiks hiks”
Buliran air mata punberjatuhan membasahi pipi mulusnya
Rihana berputus asa. Tak sanggup menjalani kehidupan yang hamper saja merenggut nyawanya.
Peristiwa kelam tempo lalu, saat orang yang ia hormati, justru memberikan noda dalam hidupnya
Masa depannya seakan hancur berkeping-keping
Nafasnya kian berat, jika ingatan itu kembali menghantui
Ketika Hendrik sudah pergi
Rihana mencoba memeriksa jendela kamar
Dan…..
“Wah, ini kesempatan untuk aku meloloskan diri dari neraka ini!”
Selot jendela itu rupanya tak dikunci
Rihana tersenyum, tangannya mmulai meraba muka jendela, dan sedikit mendorongnya keluar
“kret”
Jendela pun dengan mudah terbuka
“Alhamdulillah, aku harus segera memanjatnya, dan aku pun terbebas.”
Kini Rihana berjalan di tengah malam yang gelap
Seorang diri, menyusuri jalanan Ibu Kota , entah mau ke mana
Yang terpenting, Rihana bisa segera terbebas dari takdir buruknya selama ini
Benar saja…
Lajur jalanan yang membelah kota, telah riuh dengan suara gerungan kendaraan roda dua berukuran jumbo
Ada juga yang sedang mencumbu wanita seksi dengan dandanan yang menor, bajunya yang kurang bahan pun dipertontonkan kepada para lelaki yang menikmati pandangannya itu
Jalanan yang sepi
Angin yang berhembus kencang
Sesekali terdengar lolongan anjing dari kejauhan
Seolah nyanyian biasa di telingaa jantan-jantan yang berkeliaran saat itu
“Mana dia, belum terlihat batang hidungnya! Apa mungkin diia takut? Hahaha”
Suara tawanya menggelegar, menyeruak bau alcohol dari mulutnya
“Belum Tuan, kita tunggu saja, apakah dia masih punya nyali?”
Bombom ikut tertawa terbahak, seolah taka da raasa takut sedikit pun dengan aksinya
Iya, Bombom adalah pengawal setia kepercayaan Liyan Ketua geng motor Tiger
“Sambil menunggu, kita lanjutkan permainan kita Tuan….”
Bombom kembali membagikan kartu gapleh kepada majikannya dan 2 teman lain
Sesekali terdengar seeruan, tawa, bahkan dengus kesal karena menuai kekalahan
Beberapa jam lamanya, mereka bekutat dengan perannya masing-masing
“Tuan! Tuan!”
Seorang dari anak buah Liyan tiba-tiba berseru histeris
“Cih, sialan kamu, mengganggu saja! Ada apa? Cepat katakana!”
Liyan mendongakan kepalanya, wajah amarah pun terbit dari raut muakanya
__ADS_1
“Mmmmaaf Tuan……. Iiiiittu……”
“dug!”
Hentakan sepatu mahal yang dikenakan sang Tuan besar geng motor Tiger pun menyalurkan kekesalannya, menghantam perut pria gempal, anak buahnya itu
“aaaaart……..!”
Ia meringis kesakitan, tubuhnya terpental 30 centi ke belakang
“Cepat katakana! Ada apa hah!”
“I I Iya Tuan…” Sambil terengah-engaah dan menahan rasa sakit akibat tendangan bosnya itu, Deri anak buah dengan perawakan gempalnya, mulai berbicara
“Tuan, aku melihat seorang gadis cantic sedang berjalan seorang diri. Bukankah kita sedang mencari seorang gadis untuk dipertaruhkan pada pertaarungan kali ini?”
Tutur Deri dengan raut wajah takut
“Hah! Yang benar kamu bicara, kalua tidak mau mulutmu kurobek sekarang juga!”
Liyan membulatkan matanya, seolah-olah ingin menelannya mentah-mentah
Deri semakin ketakutan.
Tubuhnya bergetar, mundur dengan jarak bertambah jauh dari sang majikan
“Kau mau ke mana hah!”
Liyan semakin murka
“Ti ti tidak Tuan… hanya…”
“Sudah kubilang jangan bertele-tele hah!”
“Tuan, aku benar-benar melihat seorang gadis sangat canti seorang diri di sana.”
Telunjuk Deri mengarah jalanan berkelok yang menghubungkan dengan jalanan Ibu kota yang sepi dan gelap
Liyan tertegun.
Mulutnya menyeringai, terlintas ide kotor di benarknya.
“Hahaha, dasar milik, tentu tidak akan ke mana. Hei, ayok kita tangkap gadis itu untuk kita jadikan piala taruhan mala mini. Dan kalian pastikan, mala mini adalah milikku. Hahahaha”
“Baik Tuan!”
Dengan sigap dan kompak, sejumlah anak buahnya bergerak menuju arah yang ditunjukan oleh Deri
Flash back
Rihana yang semakin dihantui rasatakutnya, terus memutar otak untuk bisa keluar dari rumah itu
“Bagaimana caranya ya, aku tidak mau menjadi korban lagi. Hiks hiks hiks”
Buliran air mata punberjatuhan membasahi pipi mulusnya
Rihana berputus asa. Tak sanggup menjalani kehidupan yang hamper saja merenggut nyawanya.
Peristiwa kelam tempo lalu, saat orang yang ia hormati, justru memberikan noda dalam hidupnya
Masa depannya seakan hancur berkeping-keping
Nafasnya kian berat, jika ingatan itu kembali menghantui
Ketika Hendrik sudah pergi
Rihana mencoba memeriksa jendela kamar
Dan…..
“Wah, ini kesempatan untuk aku meloloskan diri dari neraka ini!”
Selot jendela itu rupanya tak dikunci
Rihana tersenyum, tangannya mmulai meraba muka jendela, dan sedikit mendorongnya keluar
“kret”
Jendela pun dengan mudah terbuka
“Alhamdulillah, aku harus segera memanjatnya, dan aku pun terbebas.”
Kini Rihana berjalan di tengah malam yang gelap
__ADS_1
Seorang diri, menyusuri jalanan Ibu Kota , entah mau ke mana
Yang terpenting, Rihana bisa segera terbebas dari takdir buruknya selama ini