Rihana Gadis Taruhan

Rihana Gadis Taruhan
RGT 22


__ADS_3

Benar saja…


Lajur jalanan yang membelah kota, telah riuh dengan suara gerungan kendaraan roda dua berukuran jumbo


Ada juga yang sedang mencumbu wanita seksi dengan dandanan yang menor, bajunya yang kurang bahan pun dipertontonkan kepada para lelaki yang menikmati pandangannya itu


Jalanan yang sepi


Angin yang berhembus kencang


Sesekali terdengar lolongan anjing dari kejauhan


Seolah nyanyian biasa di telingaa jantan-jantan yang berkeliaran saat itu


“Mana dia, belum terlihat batang hidungnya! Apa mungkin diia takut? Hahaha”


Suara tawanya menggelegar, menyeruak bau alcohol dari mulutnya


“Belum Tuan, kita tunggu saja, apakah dia masih punya nyali?”


Bombom ikut tertawa terbahak, seolah taka da raasa takut sedikit pun dengan aksinya


Iya, Bombom adalah pengawal setia kepercayaan Liyan Ketua geng motor Tiger


“Sambil menunggu, kita lanjutkan permainan kita Tuan….”


Bombom kembali membagikan kartu gapleh kepada majikannya dan 2 teman lain


Sesekali terdengar seeruan, tawa, bahkan dengus kesal karena menuai kekalahan


Beberapa jam lamanya, mereka bekutat dengan perannya masing-masing


“Tuan! Tuan!”


Seorang dari anak buah Liyan tiba-tiba berseru histeris


“Cih, sialan kamu, mengganggu saja! Ada apa? Cepat katakana!”


Liyan mendongakan kepalanya, wajah amarah pun terbit dari raut muakanya


“Mmmmaaf Tuan……. Iiiiittu……”


“dug!”


Hentakan sepatu mahal yang dikenakan sang Tuan besar geng motor Tiger pun menyalurkan kekesalannya, menghantam perut pria gempal, anak buahnya itu


“aaaaart……..!”


Ia meringis kesakitan, tubuhnya terpental 30 centi ke belakang


“Cepat katakana! Ada apa hah!”


“I I Iya Tuan…” Sambil terengah-engaah dan menahan rasa sakit akibat tendangan bosnya itu, Deri anak buah dengan perawakan gempalnya, mulai berbicara


“Tuan, aku melihat seorang gadis cantic sedang berjalan seorang diri. Bukankah kita sedang mencari seorang gadis untuk dipertaruhkan pada pertaarungan kali ini?”


Tutur Deri dengan raut wajah takut


“Hah! Yang benar kamu bicara, kalua tidak mau mulutmu kurobek sekarang juga!”


Liyan membulatkan matanya, seolah-olah ingin menelannya mentah-mentah


Deri semakin ketakutan.


Tubuhnya bergetar, mundur dengan jarak bertambah jauh dari sang majikan


“Kau mau ke mana hah!”


Liyan semakin murka


“Ti ti tidak Tuan… hanya…”


“Sudah kubilang jangan bertele-tele hah!”


“Tuan, aku benar-benar melihat seorang gadis sangat canti seorang diri di sana.”


Telunjuk Deri mengarah jalanan berkelok yang menghubungkan dengan jalanan Ibu kota yang sepi dan gelap


Liyan tertegun.


Mulutnya menyeringai, terlintas ide kotor di benarknya.


“Hahaha, dasar milik, tentu tidak akan ke mana. Hei, ayok kita tangkap gadis itu untuk kita jadikan piala taruhan mala mini. Dan kalian pastikan, mala mini adalah milikku. Hahahaha”

__ADS_1


“Baik Tuan!”


Dengan sigap dan kompak, sejumlah anak buahnya bergerak menuju arah yang ditunjukan oleh Deri


Flash back


Rihana yang semakin dihantui rasatakutnya, terus memutar otak untuk bisa keluar dari rumah itu


“Bagaimana caranya ya, aku tidak mau menjadi korban lagi. Hiks hiks hiks”


Buliran air mata punberjatuhan membasahi pipi mulusnya


Rihana berputus asa. Tak sanggup menjalani kehidupan yang hamper saja merenggut nyawanya.


Peristiwa kelam tempo lalu, saat orang yang ia hormati, justru memberikan noda dalam hidupnya


Masa depannya seakan hancur berkeping-keping


Nafasnya kian berat, jika ingatan itu kembali menghantui


Ketika Hendrik sudah pergi


Rihana mencoba memeriksa jendela kamar


Dan…..


“Wah, ini kesempatan untuk aku meloloskan diri dari neraka ini!”


Selot jendela itu rupanya tak dikunci


Rihana tersenyum, tangannya mmulai meraba muka jendela, dan sedikit mendorongnya keluar


“kret”


Jendela pun dengan mudah terbuka


“Alhamdulillah, aku harus segera memanjatnya, dan aku pun terbebas.”


Kini Rihana berjalan di tengah malam yang gelap


Seorang diri, menyusuri jalanan Ibu Kota , entah mau ke mana


Yang terpenting, Rihana bisa segera terbebas dari takdir buruknya selama ini


Benar saja…


Lajur jalanan yang membelah kota, telah riuh dengan suara gerungan kendaraan roda dua berukuran jumbo


Ada juga yang sedang mencumbu wanita seksi dengan dandanan yang menor, bajunya yang kurang bahan pun dipertontonkan kepada para lelaki yang menikmati pandangannya itu


Jalanan yang sepi


Angin yang berhembus kencang


Sesekali terdengar lolongan anjing dari kejauhan


Seolah nyanyian biasa di telingaa jantan-jantan yang berkeliaran saat itu


“Mana dia, belum terlihat batang hidungnya! Apa mungkin diia takut? Hahaha”


Suara tawanya menggelegar, menyeruak bau alcohol dari mulutnya


“Belum Tuan, kita tunggu saja, apakah dia masih punya nyali?”


Bombom ikut tertawa terbahak, seolah taka da raasa takut sedikit pun dengan aksinya


Iya, Bombom adalah pengawal setia kepercayaan Liyan Ketua geng motor Tiger


“Sambil menunggu, kita lanjutkan permainan kita Tuan….”


Bombom kembali membagikan kartu gapleh kepada majikannya dan 2 teman lain


Sesekali terdengar seeruan, tawa, bahkan dengus kesal karena menuai kekalahan


Beberapa jam lamanya, mereka bekutat dengan perannya masing-masing


“Tuan! Tuan!”


Seorang dari anak buah Liyan tiba-tiba berseru histeris


“Cih, sialan kamu, mengganggu saja! Ada apa? Cepat katakana!”


Liyan mendongakan kepalanya, wajah amarah pun terbit dari raut muakanya

__ADS_1


“Mmmmaaf Tuan……. Iiiiittu……”


“dug!”


Hentakan sepatu mahal yang dikenakan sang Tuan besar geng motor Tiger pun menyalurkan kekesalannya, menghantam perut pria gempal, anak buahnya itu


“aaaaart……..!”


Ia meringis kesakitan, tubuhnya terpental 30 centi ke belakang


“Cepat katakana! Ada apa hah!”


“I I Iya Tuan…” Sambil terengah-engaah dan menahan rasa sakit akibat tendangan bosnya itu, Deri anak buah dengan perawakan gempalnya, mulai berbicara


“Tuan, aku melihat seorang gadis cantic sedang berjalan seorang diri. Bukankah kita sedang mencari seorang gadis untuk dipertaruhkan pada pertaarungan kali ini?”


Tutur Deri dengan raut wajah takut


“Hah! Yang benar kamu bicara, kalua tidak mau mulutmu kurobek sekarang juga!”


Liyan membulatkan matanya, seolah-olah ingin menelannya mentah-mentah


Deri semakin ketakutan.


Tubuhnya bergetar, mundur dengan jarak bertambah jauh dari sang majikan


“Kau mau ke mana hah!”


Liyan semakin murka


“Ti ti tidak Tuan… hanya…”


“Sudah kubilang jangan bertele-tele hah!”


“Tuan, aku benar-benar melihat seorang gadis sangat canti seorang diri di sana.”


Telunjuk Deri mengarah jalanan berkelok yang menghubungkan dengan jalanan Ibu kota yang sepi dan gelap


Liyan tertegun.


Mulutnya menyeringai, terlintas ide kotor di benarknya.


“Hahaha, dasar milik, tentu tidak akan ke mana. Hei, ayok kita tangkap gadis itu untuk kita jadikan piala taruhan mala mini. Dan kalian pastikan, mala mini adalah milikku. Hahahaha”


“Baik Tuan!”


Dengan sigap dan kompak, sejumlah anak buahnya bergerak menuju arah yang ditunjukan oleh Deri


Flash back


Rihana yang semakin dihantui rasatakutnya, terus memutar otak untuk bisa keluar dari rumah itu


“Bagaimana caranya ya, aku tidak mau menjadi korban lagi. Hiks hiks hiks”


Buliran air mata punberjatuhan membasahi pipi mulusnya


Rihana berputus asa. Tak sanggup menjalani kehidupan yang hamper saja merenggut nyawanya.


Peristiwa kelam tempo lalu, saat orang yang ia hormati, justru memberikan noda dalam hidupnya


Masa depannya seakan hancur berkeping-keping


Nafasnya kian berat, jika ingatan itu kembali menghantui


Ketika Hendrik sudah pergi


Rihana mencoba memeriksa jendela kamar


Dan…..


“Wah, ini kesempatan untuk aku meloloskan diri dari neraka ini!”


Selot jendela itu rupanya tak dikunci


Rihana tersenyum, tangannya mmulai meraba muka jendela, dan sedikit mendorongnya keluar


“kret”


Jendela pun dengan mudah terbuka


“Alhamdulillah, aku harus segera memanjatnya, dan aku pun terbebas.”


Kini Rihana berjalan di tengah malam yang gelap

__ADS_1


Seorang diri, menyusuri jalanan Ibu Kota , entah mau ke mana


Yang terpenting, Rihana bisa segera terbebas dari takdir buruknya selama ini


__ADS_2